Bagaimana Menguasai Skill Apapun dengan Cepat

Penguasaan terhadap sebuah skill baru menjadi sebuah kebutuhan pasti di era sekarang ini. Kebutuhan penguasaan skill baru ini muncul karena tuntutan pekerjaan dan kebutuhan pengembangan diri. Tidak tertutup kemungkinan juga, kebutuhan penguasaan skill baru ini muncul dari keingininan untuk mengaktualisasikan diri. Sayangnya, banyak orang yang ingin menguasai skill baru namun beralasan tidak mempunyai waktu untuk mempelajarinya. Padahal, sebuah skill baru dapat dikuasai dengan cepat jika kita memahami prinsip-prinsipnya.

ilustrasi: www.popcultureninja.com

ilustrasi: www.popcultureninja.com

Saya menemukan prinsip-prinsip ini salah satunya karena hobby saya dalam mempelajari sesuatu yang baru. Prinsip-prinsip yang akan saya bagikan ini sudah terbukti bermanfaat dalam proses menguasai berbagai skill. Saya menggunakannya untuk mempelajari hypnosis sampai mempelajari beladiri wing chun. Hasilnya, alhamdulillah, memuaskan.

Mari kita mulai bahas prinsip-prinsipnya. Ada lima prinsip untuk menguasai skill apapun dengan cepat.

Prinsip Pertama, temukan alasan pribadi mengapa Anda ingin menguasai skill tersebut. Alasan pribadi ini ibarat bahan bakar yang membuat Anda mampu bertahan dalam proses menguasai skill tersebut. Tanpa alasan pribadi yang kuat, Anda akan mudah berhenti di tengah jalan sebelum mendapatkan kemajuan yang berarti.  Jadi, apa alasan Anda ingin menguasai skill tersebut? Mengapa menguasai skill tersebut penting bagi Anda?

Prinsip Kedua, pecah sebuah skill yang kompleks menjadi beberapa sub-skill yang lebih sederhana. Istilah keren untuk prinsip ini adalah DECONSTRUCTION. Pada saat awal mempelajari sebuah skill, adalah wajar merasa bingung dan overwhelmed dikarenakan terlalu banyak informasi baru yang masuk ke kepala Anda. Untuk itulah, Anda perlu memecahkan dan memetakan skill baru ini ke dalam beberapa sub-skill yang sederhana. Buat sub-skill tersebut sekecil mungkin, sesederhana mungkin, sehingga mudah bagi Anda untuk menguasainya. Misalnya, pada saat awal saya mempelajari beladiri wing chun, sangat banyak hal yang perlu dikuasai. Mulai dari kuda-kuda, postur, posisi tangan, penggunaan tenaga, dll. Belum lagi banyaknya istilah asing yang perlu dipahami (tan sao, bong sao, fuk sao, chi sao, pak da, yee jee kim yeung ma, dll). Ini semua sangat membingungkan. Maka, di awal yang saya lakukan adalah memecahnya, memilahnya, mengurutkannya dan memetakannya. Pada saat memilah, pilah dan pilih mana sub-skill yang esensial dan mana yang tidak esensial. Biasanya sub-skill yang esensial hanya 20% dari jumlah keseluruhan sub-skill yang ada. Fokuslah ke sub-skill yang esensial tersebut.

Prinsip Ketiga, penuhi dengan cepat latihan 20 jam pertama Anda. Menurut peneliti John Kaufman, 20 jam pertama saat mempelajari skill baru adalah waktu yang paling kritis. Banyak yang gugur dan berhenti di 20 jam pertama. Maka, kita perlu tetapkan target yang realistis, apa yang ingin kita capai di 20 jam pertama lalu kejar target itu dengan cepat. Lakukan 20 jam pertama Anda segera. Jangan gunakan waktu luang, namun luangkanlah waktu. Tanpa meluangkan waktu secara sadar, tidak akan ada waktu luang. Jika Anda meluangkan waktu 20 menit sehari, maka Anda memerlukan waktu 60 hari (dua bulan) untuk mencapai target pertama Anda ini. Pada saat 20 jam ini tercapai, Anda akan kaget dengan kemajuan skill Anda.

Prinsip Keempat, trust to yourself, don’t try too hard. Seringkali berusaha terlalu keras justru menghambat Anda dalam mengakuisisi sebuah skill baru. Yang perlu Anda lakukan bukanlah berusaha terlalu keras, melainkan masuk ke dalam situasi flow. Situasi dimana Anda hadir di sini saat ini, merasakan sukacita dengan apa yang Anda lakukan. Pada situasi inilah Anda dapat merasakan koneksi antara pikiran, perasaan dan tubuh Anda, sehingga proses belajar Anda menjadi sangat efektif. Pada situasi flow ini, mental Anda menjadi sangat rileks dan Anda mampu mengeksekusi skill baru Anda tanpa usaha, effortless. Lalu, bagaimana cara masuk ke dalam zona flow ini? Salah satu caranya adalah dengan melatih visualisasi. Bayangkan di dalam benak Anda, Anda  sedang melakukan skill baru Anda dengan baik. Bayangkan detailnya, rasakan seperti apa rasanya, dan Anda akan mendapatkan feeling-nya.  Latihan ini akan menjadikan perilaku yang divisualisasikan menjadi bagian alami dari tubuh Anda. Ingat, pikiran Anda tidak dapat membedakan antara kenyataan dengan imajinasi. Saat Anda mampu melakukan sebuah skill secara mental (membayangkan) tanpa hambatan, Anda pun akan dengan mudah mengeksekusi skill baru tersebut secara fisik.

Prinsip Kelima, dapatkan umpan balik. Mendapatkan umpan balik dari orang yang sudah menguasai skill yang sedang Anda pelajari adalah harta karun yang sangat berharga. Carilah umpan balik dari mereka. Demonstrasikan skill Anda di depan mereka dan minta umpan balik. Atau Anda pun dapat merekam diri Anda dan tunjukkan kepada mereka, minta umpan balik. Umpan balik yang tepat akan mengakselerasi penguasaan skill Anda. Bagaimana jika Anda tidak menemukan orang yang ahli dalam skill yang Anda sedang pelajari? Tonton rekaman Anda sendiri dan berikan umpan balik pada diri Anda sendiri. Meskipun ini tidak seefektif umpan balik dari orang lain, setidaknya Anda dapat melihat bagian mana yang perlu diperbaiki dari skill Anda. Setelah Anda mendapatkan umpan balik, segera terapkan perbaikan dan lihat bagaimana ia akan mengakselerasi penguasaan skill Anda.

Inilah lima prinsip yang dapat Anda manfaatkan untuk menguasai sebuah skill baru dengan cepat. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda menemukan prinsip lain yang bermanfaat dalam proses menguasai skill baru? Jika ada, silahkan share di kolom komentar.

Tiga Rahasia Percakapan Seorang Coach

Inti dari coaching adalah percakapan. Pada sebuah sesi coaching, seorang coach dan klien-nya akan melakukan sebuah percakapan. Bukan percakapan yang tak tentu arah, melainkan sebuah percakapan yang terarah, percakapan yang jelas tujuannya. Percakapan yang ditujukan untuk memberdayakan, mendorong dan mendukung sang klien untuk mencapai apa yang mereka inginkan.

ilustrasi: www.gopixpic.com

ilustrasi: www.gopixpic.com

Tentu saja, coaching tidak selalu terkait dengan percakapan untuk mencapai tujuan, meskipun secara tidak langsung tujuan akan tercapai bila sebuah sesi coaching berlangsung dengan efektif. Coaching juga tidak selalu terkait dengan percakapan untuk menyelesaikan masalah, meskipun pada saat sesi coaching berjalan dengan baik secara tidak langsung masalah pun ikut terselesaikan. Coaching pada dasarnya adalah percakapan untuk membangun kesadaran dan mengeksplorasi pilihan-pilihan. Coaching adalah percakapan untuk memfasilitasi seseorang menemukan jawaban dari situasi mereka sendiri.

Itulah rahasianya kenapa seorang coach perlu meyakini bahwa pada dasarnya setiap orang memiliki sumberdaya yang cukup untuk berubah. Itulah rahasianya kenapa seorang coach lebih banyak bertanya dibandingkan memberikan nasehat. Itulah rahasianya kenapa seorang coach perlu menguasai keterampilan listening yang cakap. Hal-hal inilah yang kemudian membantu seorang coach untuk menumbuhkan kesadaran kliennya dan memunculkan potensi terpendam dalam diri mereka.

Maka, bagaimana Anda dapat memanfaatkan pemahaman ini dalam kehidupan Anda sehari-hari?

  • Pertama, mulailah memandang orang lain secara lebih positif. Asumsikan people are okay, tidak ada yang salah dengan orang lain, mereka tidak perlu kita “betulkan.” Pemahaman ini akan membuat kita lebih memaklumi perilaku mereka, dan membuat kita memiliki harapan baik terhadap orang lain.
  • Kedua, berlatihlah mengajukan pertanyaan yang tepat. Saat orang lain meminta nasehat Anda, berlatihlah untuk menahan opini Anda dan ajukan pertanyaan untuk mengetahui opini mereka sendiri. Lihatlah keajaiban yang terjadi saat Anda berlatih menahan opini Anda dan mulai menggali opini orang lain.
  • Ketiga, mulailah lebih banyak mendengar dibandingkan berbicara. Latih mata dan telinga Anda untuk menyimak apa yang terucap dan yang tak terucap. Anda akan takjub betapa banyak informasi yang selama ini terlewat karena Anda kurang memperhatikan. Anda akan takjub betapa informasi non-verbal jauh lebih kaya dibandingkan informasi verbal.

Kemudian tanpa Anda sadari, melatih tiga hal di atas akan meningkatkan kemampuan komunikasi Anda secara drastis. Bagaimana menurut Anda? Apa yang mungkin terjadi bila Anda mulai melatih tiga hal di atas?

Agar Uang Mengejar Kita (Seri 2)

Setelah Anda memiliki nilai tambah, maka langkah berikutnya adalah memberikan Daya Ungkit pada Nilat Tambah Anda dengan cara mengkomunikasikan nilai tambah Anda. Komunikasikan nilai tambah Anda pada orang yang tepat, dalam jumlah yang banyak, dengan cara yang tepat. Nilai tambah yang Anda miliki tidak akan berubah menjadi uang jika tidak ada transaksi. Transaksi tidak akan terjadi jika orang lain tidak tahu nilai tambah apa yang Anda miliki.

agar-uang-mengejar-kita-seri-2.jpg

Jadi, bagaimana Anda akan mengkomunikasikan nilai tambah Anda? Saluran komunikasi apa saja yang akan Anda pakai? Siapa saja yang akan Anda libatkan untuk mengkomunikasikan nilai tambah Anda?

Jika kita sudah memiliki Nilai Tambah dan Daya Ungkit, maka kita tidak akan khawatir kehilangan pekerjaan atau kehilangan project. Karena kita seperti magnet memiliki DAYA MAGNET untuk menarik orang-orang yang memerlukan nilai tambah yang kita miliki.

Bila kita ibaratkan uang itu seperti kupu-kupu. Maka pekerjaan atau project itu ibarat jaringnya. Menariknya, dalam menjaring kupu-kupu orang-orang terkaya di dunia tidak fokus pada jaringnya. Mereka fokus membangun taman bunga yang akan menarik lebih banyak kupu-kupu untuk mendatanginya. Taman Bunga tersebut adalah nilai tambah dan daya ungkit yang kita miliki.

Maka yang namanya kemakmuran tidak diukur dari berapa uang yang Anda hasilkan, namun apa yang tersisa pada diri Anda ketika semua uang hilang dari diri Anda. Kemampuan “menciptakan” uang dari tidak ada menjadi ada, itulah kemakmuran yang sejati. Bila seluruh uang dan harta yang Anda miliki hilang, apa yang akan Anda lakukan untuk menghasilkan uang?

Fokus pada menciptakan nilai dan memanfaatkan daya ungkit maka uang akan mengejar Anda.

Agar Uang Mengejar Kita (Seri 1)

Uang.

Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar kata ini?

Apa perasaan Anda saat mendengar kata ini?

Apa yang Anda pikirkan dan rasakan saat mendengar kata uang bergantung pada definisi atau makna yang Anda berikan pada kata “uang”

Apakah uang itu baik atau uang itu jahat? Itu semua bergantung pada pemaknaan Anda.

Sumber gambar: www.flickr.com

Sumber gambar: www.flickr.com

Saya sendiri cenderung tidak mengkategorikan uang sebagai hal yang baik atau hal yang jahat. Saya menganggap uang itu sebagai sesuatu yang netral. Ia bisa menjadi baik atau buruk tergantung penggunanya. Ya, uang itu hanyalah alat. Sebuah alat dapat digunakan di jalan kebaikan atau kejahatan tergantung penggunanya.

Saya mendefinisikan uang sebagai alat tukar nilai tambah. Nilai tambah artinya manfaat unik yang dapat kita berikan ke orang lain. Misalnya begini, Pak Joni punya anak yang kurang pandai matematika, ia membutuhkan seorang guru les matematika. Sementara pak Thoha menguasai matematika dan mampu mengajarkannya dengan mudah dan menyenangkan pada anak-anak. Di mata Pak Joni, Pak Thoha memiliki nilai tambah. Dalam situasi seperti ini, Pak Joni akan bersedia menukarkan uang yang ia miliki dengan nilai tambah yang dimiliki Pak Thoha. Maka, rumus pertama agar uang mendatangi kita adalah kita perlu memiliki nilai tambah entah dengan menciptakannya atau mencarinya.

Kriteria nilai tambah yang ideal adalah:

  • Clarity: apa manfaat yang Anda berikan dan untuk siapa.
  • Differentiation: apa bedanya dengan manfaat sejenis yang diberikan orang lain.
  • Evidence: apa buktinya bahwa Anda mampu men-deliver manfaat di atas.

Semakin banyak Anda memberikan nilai tambah Anda pada orang lain, semakin besar pula uang yang Anda hasilkan. Semakin sulit tergantikan nilai tambah yang Anda miliki, semakin besar uang yang Anda hasilkan.

Jadi, Nilai Tambah apa yang Anda sudah miliki? dan bagaimana Anda akan memastikan agar nilai tambah yang Anda miliki memenuhi kriteria di atas?

4 Penghalang Komunikasi

Memahami orang lain adalah kunci hubungan saling percaya. Menariknya, kita memahami orang lain tidak seperti mereka apa adanya. Kita memahami orang lain menurut persepsi dan kesimpulan kita. Setahu saya, Andi itu orangnya begini begitu. Apakah kenyataannya Andi memang begini begitu atau tidak, kita tidak tahu. Kita melihat orang lain berdasarkan label-label yang kita pasang pada diri mereka. Kita membuat kesimpulan berdasarkan pengalaman kita masing-masing.

Sumber gambar: www.spring.org.uk

Sumber gambar: www.spring.org.uk

 

Saat kita berhubungan orang lain, seringkali kita menempatkan cermin diantara kita dengan mereka. Cermin ini membuat kita melihat orang lain menurut persepsi kita, cermin ini menjadi “penghalang” bagi kita untuk memahami mereka apa adanya.  Bila kita ingin berkomunikasi dan membanguin hubungan lebih baik dengan orang lain, ada baiknya kita mengganti cermin tersebut dengan jendela.

Terkait dengan penghalang di atas. Menurut John C. Maxwell, ada empat penghalang utama dalam memahami orang lain.

  1. Asumsi “Saya sudah tahu apa yang diketahui, dirasakan, dan diinginkan orang lain.”
  2. Arogansi: “Saya tidak perlu tahu apa yang diketahui, dirasakan, dan diinginkan orang lain.”
  3. Ketidakpedulian: “Saya tidak peduli terhadap apa yang diketahui, dirasakan, dan diinginkan orang lain.”
  4. Kontrol: “Saya tidak ingin orang lain tahu apa yang saya ketahui, rasakan, atau inginkan.”

Empat hal di atas akan menghalangi Anda untuk memahami orang lain secara lebih baik. Sebaliknya Anda perlu membiasakan empat pertanyaan pada diri sendiri sebagai berikut.

  1. Bertanyalah, “Apakah saya merasakan apa yang Anda rasakan?” sebelum, “apakah Anda merasakan apa yang saya rasakan?”
  2. Bertanyalah, “Apakah saya melihat apa yang Anda lihat?” sebelum, “Apakah Anda melihat apa yang saya lihat?”
  3. Bertanyalah, “Apakah saya mengetahui apa yang Anda ketahui?” sebelum, “Apakah Anda mengetahui apa yang saya ketahui?”
  4. Bertanyalah, “Apakah saya memahami apa yang Anda inginkan?” sebelum, “Apakah Anda memahami apa yang saya inginkan?”

Maka sekarang, sudahkah Anda siap menggunakan jendela saat berhubungan dengan orang lain?

“Ada perbedaan besar antara mengetahui dan memahami. Anda dapat tahu banyak tentang sesuatu namun Anda belum tentu benar-benar memahaminya.” Charles F. Kettering

 

Memahami Orang Lain

Pernahkah Anda merasa frustasi dan bertanya kepada diri: mengapa orang lain tidak mendengarkan saya? Mengapa orang lain tidak membantu saya? Mengapa orang lain tidak mau mengikuti saya? Semua pertanyaan ini berkaitan dengan satu kata: “saya”. Menjalin hubungan tidaklah akan berhasil jika hanya berfokus pada pemuasan ego Anda. Menjalin hubungan bukanlah tentang Anda. Menjalin hubungan adalah tentang orang lain. Lebih banyak bicara dan memberitahu pada orang lain siapa Anda bukanlah jawabannya.

Sumber gambar: www.southdacola.com

Sumber gambar: www.southdacola.com

Maka, keterampilan pertama dalam membangun hubungan dengan orang lain adalah menerima orang lain apa adanya dan menghargai cara pandang mereka, lalu barulah kita akan mampu memahami cara berpikir mereka. Pemahaman terhadap model dunia orang lain adalah unsur penting dalam membangun kepercayaan. Pemahaman adalah jembatan antara model dunia Anda dengan model dunia orang lain.

Mengapa menerima orang lain apa adanya dan menghargai cara pandang mereka menjadi penting?

  • Pertama, karena setiap individu itu unik. Tidak ada individu yang sama persis, hatta mereka kembar siam. Setiap orang hidup dalam model dunianya sendiri. Mereka berperilaku merespon pada persepsi dan pemaknaan mereka masing-masing. Maka, menerima dan menghargai model dunia mereka menjadi hal yang wajar.
  • Kedua, kita meyakini bahwa ada niat baik di balik setiap perilaku yang mereka lakukan. Hanya saja mungkin perilaku mereka saat itu belum ekologis untuk lingkungannya. Asumsi kita, itulah pilihan terbaik yang mampu mereka lakukan berdasarkan sumberdaya yang mereka miliki saat itu.

Maka, untuk memahami orang lain dengan baik, Anda perlu memiliki sikap sebagai berikut.

  1. Minat dan ketertarikan yang tulus pada orang lain.
  2. Rasa ingin tahu tentang siapa mereka dan bagaimana mereka berpikir
  3. Kesediaan melihat dari sudut pandang orang lain
  4. Kemauan untuk mendengarkan dan mengajukan pertanyaan untuk pemahaman yang lebih baik.

Sekarang, siapkah untuk sementara Anda menyingkirkan cermin ego Anda dan melihat orang lain melalui jendela yang lebih luas?

“Untuk memakai kacamata orang lain, lepaskanlah kacamata Anda terlebih dahulu.” – anonim