Cara Membentuk Disiplin Diri

Pembeda antara orang yang mengetahui dan melakukan, juga antara orang yang melakukan dan menghasilkan adalah disiplin. Kamus mengartikan disiplin sebagai ketaatan mengikuti aturan. Kita bisa melihat, orang-orang yang “gagal” menerapkan apa yang mereka ketahui biasanya karena kurangnya kedisiplinan mereka.

cara-membentuk-disiplin-diri

Pertanyaannya, bagaimana cara membentuk disiplin?

Pertama, pecah tujuan besar menjadi tujuan-tujuan yang lebih kecil

Disiplin adalah tentang kesabaran. Bagaimana kita sabar mencapai tujuan-tujuan yang lebih kecil sebelum mewujudkan tujuan yang lebih besar. Pelari marathon tidak begitu saja mampu berlari sampai 10 km. Mereka memiliki rencana latihan sebelumnya, dengan berlari 1 km, 2 km, 3 km dan seterusnya sampai mereka akhirnya mampu berlari 10 km. Tanpa latihan yang disiplin, tidak akan terbentuk pelari marathon yang mampu berlari 10 km.

Kedua, buat aturan

Disiplin adalah tentang aturan. Tentang apa yang boleh dilakukan dan apa yang dilarang. Tanpa aturan, tidak akan ada disiplin. Anda ingin disiplin dalam hal apa? Keuangan? Lakukan budgeting – batasi pengeluaran Anda; berapa pengeluaran maksimal untuk biaya hidup? Berapa investasi minimal per bulan? Disiplin dalam diet? Apa aturan Anda? Berhenti sebelum kenyang? Hanya makan raw food? Disiplin berolahraga? Berapa kuota minimum Anda? 30 menit per hari? 3 kali seminggu? Buat aturan untuk diri Anda dan taatilah.

Ketiga, kelola godaan yang muncul

Saat Anda mulai melatih disiplin pasti akan muncul godaan demi godaan. Bila Anda bisa menghindarinya, hindarilah. Bila tidak kelolalah. Atur lingkungan Anda agar Anda terlindungi dari godaan. Kelilingi diri Anda dengan orang-orang yang akan mengingatkan Anda akan tujuan Anda.

Keempat, jangan terlalu keras pada diri Anda

Seringkali disiplin berkonotasi dengan keras pada diri sendiri. Padahal tidak selalu demikian. Saat Anda mendisiplinkan diri, perhatikan pula diri Anda. Perhatikan hak tubuh Anda untuk beristirahat. Perhatikan hak pikiran dan jiwa Anda. Atur jadwal Anda sehingga hak-hak diri Anda terpenuhi dengan baik.

Kelima, ikuti jalannya sampai berhasil

Disiplin adalah tentang kesetiaan berjalan di jalur yang sama sampai ke tujuan yang kita citakan. Seringkali jalannya penuh duri dan belukar, namun bila ini adalah jalan yang membawa kita ke tujuan, mau tidak mau kita perlu menjalaninya. Tidak heran bila disiplin dan fokus itu sejalan – Follow One Course Until Success!

Jembatan pengetahuan dengan tindakan adalah disiplin. Jembatan antara tindakan dengan hasil juga disiplin. Tanpa disiplin, pengetahuan hanya akan menjadi pengetahuan. Tanpa disiplin, keinginan hanya akan menjadi keinginan.

“Knowing is not enough, we must apply. Willing is not enough, we must do.”― Bruce Lee

Strategi Sukses Karier

Salah satu modal karier terpenting dalam menjalani sebuah karier adalah keahlian yang langka dan berharga. Jika modal karier yang satu ini penting, maka pertanyaannya adalah: Bagaimana saya membangunnya? Strategi berikut mudah-mudahan bermanfaat bagi Anda.

strategi-sukses-karier

Pertama, miliki pola pikir Perajin

Pola pikir Perajin (Craftsman Mindset) adalah lawan dari pola pikir Passion. Pada pola passion Anda bertanya: apa yang saya dapatkan dari pekerjaan ini? Apakah pekerjaan ini benar-benar saya sukai? Apakah pekerjaan ini benar-benar mencerminkan diri saya? Pertanyaan-pertanyaan ini membuat Anda ragu-ragu dengan apa yang Anda kerjakan dan menghasilkan ketidakbahagiaan. Alih-alih bertanya seperti itu, mulai bertanya: apa yang dapat saya kontribusikan di pekerjaan ini? Apa yang benar-benar saya sukai dari pekerjaan ini? Apa yang bisa saya pelajari dari pekerjaan ini? Bagaimana saya bisa lebih baik dalam hal ini? Bagaimana saya menjadi yang terbaik di bidang ini? Apa yang perlu saya lakukan agar saya hebat dalam pekerjaan ini? Selami pekerjaan Anda, maka keahlian dan passion akan muncul. Fokus pada apa yang bisa Anda berikan pada dunia. Bukan pada apa yang pekerjaan itu dapat berikan kepada Anda.

Kedua, berinvestasi pada Aktivitas yang Tepat

Kenali aktivitas yang bernilai. Hal yang benar-benar berharga dalam bidang Anda. Lalu investasikan waktu Anda di sana. Jangan sampai salah menginvestasikan waktu dan energi Anda.

Seorang blogger yang fokus ke analisis statistik pengunjung, optimasi kata kunci – SEO, dan integrasi ke sosmed adalah contoh blogger yang salah fokus. Mereka berinvestasi banyak untuk membeli berbagai macam tools untuk mengoptimasi blognya. Mereka berharap dengan kombinasi tertentu pengunjungnya meledak dan dia bisa menghasilkan uang dari blognya. Masalahnya adalah, jika konten blog-nya jelek dan mereka tidak pernah menginvestasikan waktunya untuk meningkatkanya maka semuanya sia-sia.

Demikian juga para penjual online yang sibuk dengan berbagai trik menambah teman, belajar berbagai strategi copywriting, membeli berbagai macam tools untuk mengoptimalkan akun sosmednya tapi lupa pada hal-hal mendasar. Tidak konsisten posting status, postingannya tidak menarik dan tidak berupaya memperbaiki konten sosmednya, malas berinteraksi dengan fans dan friendsnya. Maka, semua trik dan toolsnya menjadi sia-sia.

Ada juga trainer yang sibuk branding ke sana kemari, namun lupa mengasah kemampuan melatihnya. Ini juga salah fokus.

Ketahui apa yang benar-benar dihargai dari pekerjaan Anda dan fokuslah ke sana.

Ketiga, minimalisir buang waktu pada hal-hal yang tidak membantu Anda meningkat

Sibuk itu mudah, juga melelahkan. Namun, apa hasil akhir dari kesibukan yang kita lakukan? Menjawab email, merancang slide presentasi, posting sosial media – apakah semua aktivitas ini berdampak pada karier kita? Atau hanya kedok agar kita tidak perlu fokus ke aktivitas lain yang sebenarnya lebih berharga?

Saat Anda menjalani sebuah karier, sangatlah mudah Anda tenggelam dalam rutinitas. Sayangnya, sebagian besar rutinitas tidaklah menambah nilai, tidak meningkatkan keahlian Anda. Maka, lacaklah penggunaan waktu Anda. Apakah Anda menggunakan waktu untuk mengerjakan aktivitas yang membuat Anda mengalami peningkatan dalam modal karier, atau tidak? Di awal pekan, petakan bagaimana Anda ingin menggunakan waktu Anda. Di akhir pekan, lacak kembali, sudahkah penggunaan waktu Anda sesuai rencana? Apakah Anda telah menginvestasikan waktu pada aktivitas yang membuat Anda mengalami peningkatan?

Keempat, tantang diri Anda sendiri

Jangan biarkan diri Anda stuck di level keahlian tertentu – mengalami plateau. Menguasai skill di level tertentu itu nyaman dan menyenangkan. Namun Anda tidak akan naik ke level master jika berhenti di sini. Paksa diri Anda untuk semakin ahli. Jalannya tidak mudah, bahkan sulit dan menyakitkan. Namun itulah jalan yang dilalui oleh para master untuk menguasai keahliannya.

Kelima, temukan Misi dari apa yang Anda kerjakan

Apakah misi itu ditemukan di awal atau di tengah perjalanan? Idealnya, misi ditemukan di awal. Dengan demikian perjalanan kita lebih terarah dan bermakna. Sayang, pada kenyataannya kita sulit menemukan misi di awal karier kita. Misi ditemukan di tengah perjalanan saat kita semakin ahli dengan apa yang kita kerjakan. Saat kita masih newbie di bidang kita, sulit bagi kita memikirkan tentang misi. Masih ingat bahasan The Adjacent Possible? Terobosan besar selalu muncul pada mereka yang berada di “puncak” penguasaan sebuah bidang. Jadi, di awal karier fokus saja bagaimana menjadi yang terbaik di bidang Anda dan bagaimana Anda bisa berkontribusi banyak pada masyarakat luas. Bagaimana Anda dapat menciptakan dampat di atas bumi ini. Namun, jangan buru-buru ingin menciptakan dampak. Seperti bermain video game, Anda perlu mengalahkan musuh-musuh kecil, naik dari satu level ke level lainnya, baru Anda akan bertemu dengan Big Boss-nya. Misi akhir Anda adalah memberikan dampak positif yang luas pada masyarakat, namun untuk sampai sana Anda perlu menjalani prosesnya setahap demi setahap.

“Your comfort zone is a place where you keep yourself in a self-illusion and nothing can grow there but your potentiality can grow only when you can think and grow out of that zone.” ― Rashedur Ryan Rahman

Disclaimer: tulisan ini hanya merupakan pendapat saya. Anggap sebagai sebuah hipotesis yang perlu diuji. Jangan jadikan tulisan saya ini sebagai satu-satunya referensi. Pelajari referensi lain juga dan ambillah keputusan Anda dengan bijak.

Sebelum Anda Mengubah Arah Karier Anda

Saya punya seorang kawan yang memiliki pengalaman puluhan tahun di bidang pemasaran. Suatu hari dia memutuskan untuk banting setir ke bidang pelatihan. Sayangnya dia melatih psikoterapi (yang mana ini adalah passion-nya menurutnya) bukannya pemasaran. Dia membuang modal kariernya puluhan tahun dan masuk ke dunia yang baru. Wajar bila sekrang ia bergulat dan bekerja keras di bidang ini. Kompetensi, koneksi, dan reputasi dia di bidang pemasaran dia tidak manfaatkan dengan baik. Mungkin, bila ia masuk ke bidang pelatihan pemasaran ceritanya akan berbeda.

Sebelum-Anda-Mengubah-Arah-Karier-Anda

The Adjacent Possible

Terobosan ilmiah, inovasi, ide besar, kemajuan sains dan teknologi tidak pernah keluar dari ruang The Adjacent Possible (kemungkinan yang berdekatan), demikian kata Steven Johnson[1]. Kita menggunakan ide-ide yang sudah ada dan mengkombinasikannya untuk menciptakan sebuah ide baru. Sayangnya, The Adjacent Possible hanya bisa diakses oleh orang-orang terdepan di bidang tersebut. Anda perlu menjadi seorang ahli terlebih dulu untuk memasuki wilayah The Adjacent Possible dan menemukan ide-ide terobosan. Dalam bahasa yang sederhana: jadilah hebat di bidang Anda dan hal-hal besar akan terjadi.

Bila kawan saya memahami konsep The Adjacent Possible, mungkin saja dia akan mengalami terobosan karier. Misalnya dengan menciptakan pelatihan “Marketing Therapy” atau “Sales Therapy.” Mengkombinasikan modal kariernya di pemasaran dengan minatnya di psikoterapi. Bukan membuang begitu saja modal kariernya di bidang pemasaran untuk mengejar passionnya semata.

Inilah sebabnya mengapa saya selalu bilang, “Jangan buru-buru meninggalkan pekerjaan Anda sekarang dengan alasan: bukan passion saya”. Apalagi sampai membakar kapal dan meninggalkan segala sesuatu yang sudah menghidupi Anda selama ini. Risikonya terlalu besar. Alternatifnya, tetap kerjakan pekerjaan Anda saat ini dengan profesional. Jadikan passion Anda sebagai pekerjaan sampingan. Uji, berapa banyak orang yang mau membayar Anda.

Saya sadar, seseorang mengejar passion-nya karena ia mendambakan otonomi – kebebasan dalam bekerja. Bebas berkreasi, bebas menentukan jam kerja, bebas menentukan dengan siapa bekerja, bebas menentukan bagaimana mengerjakannya. Ini adalah sebuah bayangan yang sangat menarik untuk dikejar. Sayangnya, otonomi tanpa modal karier adalah kebebasan semu. Kebebasan yang tidak akan bertahan lama. Anda menikmati kebebasan, tapi tidak mampu membeli makan. Kunci otonomi sebenarnya adalah dengan memiliki modal karier yang cukup. Dengan menguasai keahlian yang langka dan berharga. Saat ini tercapai, Anda tidak akan kehabisan project, tawaran, atau pesanan. Orang akan mencari Anda, karena Anda terlalu berharga untuk diabaikan.

The Law of Financial Viability

Maka saat Anda mengejar otonomi, Anda perlu memperhatikan Hukum Kesinambungan Finansial[2]: lakukan sesuatu yang membuat orang mau membayar Anda. Derek Siver pernah berkata: “Jika Anda berjuang untuk mengumpulkan dana demi mewujudkan sebuah ide, atau berpikir akan meyokong ide Anda dengan pekerajaan lain, maka Anda perlu berpikir ulang mengenai ide tersebut.” Jika memang ide Anda berharga, atau apa yang Anda lakukan bernilai, orang akan mau membayar Anda. Bagaimana mengetahuinya? Uji ide Anda dengan proyek-proyek kecil. Proyek yang bisa diselesaikan dalam waktu kurang dari satu bulan. Cari bukti: apakah orang benar-benar mau membayar apa yang Anda lakukan? Jika Anda menemukan buktinya, lanjutkan. Jika tidak, berhentilah dan carilah aktivitas lain.

Ini bukan berarti kita hanya berorientasi pada uang. Namun, kita perlu jujur, uang adalah indikator netral dari nilai. Indikator bahwa apa yang kita lakukan memang layak. Maka, fokuslah menciptakan atau melakukan sesuatu yang bernilai dan orang akan mau membayar Anda. Jadilah seseorang yang bernilai, berharga sehingga orang membutuhkan Anda. Jika Anda bisa melakukan sesuatu yang bernilai, orang akan mencari Anda. Tentu saja, untuk mencapai ke sana Anda perlu menginvestasikan waktu dan energi Anda. Anda perlu kesabaran. Perjalanannya panjang, hitungannya puluhan tahun, bukan minggu atau bulan. Pertanyaannya: bersediakah Anda membayar harganya?

[1] Steven Johnson meminjam istilah The Adjacent Possible (kemungkinan yang berdekatan) dari Stuart Kauffman seorang ahli biologi. Teori ini menjelaskan bagaimana makhluk hidup berevolusi secara bertahap. Bahwa kehidupan masa depan terbentuk berdasar pola-pola yang ada sebelumnya. Bahwa sesuatu yang baru sebenarnya hanyalah kombinasi dari pola-pola yang sudah ada.

[2] Newport, Cal. So Good They Can’t Ignore You: Why Skills Trump Passion in the Quest for Work You Love. Grand Central Publishing, Hachette Book Group 2012

Kriteria Pekerjaan Hebat untuk Karier yang Hebat

“When You are Young, Work for Learn, not for Earn” ~Robert T. Kiyosaki

Tulisan ini saya dedikasikan kepada teman-teman yang masih dalam pencarian. Bimbang akan pilihan kariernya. Bingung dengan fokus yang akan dipilihnya.

Memiliki karier yang hebat adalah dambaan setiap orang. Anda menyukai pekerjaannya, bekerja dengan mereka yang Anda sukai dan mendapat bayaran yang setimpal. Sangat menarik bukan? Saya tidak akan berdebat apakah Anda harus bekerja untuk orang lain, bekerja untuk diri sendiri atau membuka bisnis sendiri. Setiap orang memiliki jalan hidupnya masing-masing. Jangan mudah terpengaruh apa kata orang. Manapun jalan yang kita pilih, jalannya sama-sama panjang. Anda perlu 10-20 tahun untuk luar biasa sukses di setiap jalan.

Kriteria Pekerjaan Hebat untuk Karier yang Hebat

Jangan tergiur dengan mereka yang sukses muda. Mereka hanyalah pencilan dari statistik pada umumnya. Anda boleh menjadikan mereka model, namun Anda pun perlu realistis memperkirakan berapa banyak waktu yang diperlukan untuk mencapai sukses di bidang tersebut. Jika Anda ingin sukses lebih muda daripada rata-rata, Anda perlu memulai lebih dini.

Secara umum, orang-orang mencapai puncak suksesnya di pertengahan umur. Secara rata-rata di 40 tahun. Perhatikan statistik berikut[1]:

darmawan-aji-karier-hebat

Statistik ini selaras dengan riset Anders Ericsson terkait expert-level performance. Diperlukan 10.000 jam latihan terencana untuk mencapai performance di level ahli. Maka, karier yang hebat berbanding lurus dengan keahlian kita. Inilah sebabnya, kita perlu bijak memutuskan pekerjaan seperti apa yang perlu kita ambil agar nanti kita dapat mengumpulkan modal karier untuk menjalani karier yang hebat.

Oke, jadi apa saja kriteria pekerjaan yang hebat? Setidaknya ada empat kriteria.

  • Pertama, pekerjaan yang memberi kesempatan kepada Anda untuk mengembangkan keahlian yang relevan, langka dan berharga. Bukan sekadar pekerjaan yang bersifat rutinitas. Pekerjaan yang bisa digantikan oleh mesin atau robot kapan saja.
  • Kedua, pekerjaan yang memberi kesempatan Anda untuk berpikir, berkreasi, dan berkarya. Sehingga Anda berkesempatan menciptakan sesuatu yang baru. Entah berupa produk, jasa, program atau apapun.
  • Ketiga, pekerjaan yang memberi kesempatan kepada Anda untuk bertemu dengan orang-orang yang relevan dengan keahlian Anda. Bisa berupa jejaring mereka yang terkait dengan bidang Anda, atau para High-Performer di bidang Anda. Dengan demikian, Anda berkesempatan melakukan melakukan benchmarking, modeling dan belajar banyak hal dari mereka.
  • Keempat, pekerjaan yang memberi kesempatan Anda untuk menciptakan dampak positif pada orang lain. Sehingga Anda menyadari, bahwa Anda dibayar karena memberi nilai pada orang lain. Bahwa uang hanyalah manifestasi dari nilai yang Anda miliki. Bahwa pekerjaan Anda punya makna bagi orang di sekeliling Anda.

Kesimpulan

Maka, secara umum pilihlah pekerjaan yang memungkinkan Anda untuk mengumpulkan modal karier yang relevan dengan karier yang ingin Anda jalani. Seperti kata Cal Newport, modal karier paling utama adalah keahlian yang langka dan berharga. Kuasai atau ciptakan sesuatu yang langka dan berharga. Maka orang akan mencari Anda. Ini adalah hukum dasar ekonomi: persediaan dan permintaan. Saat permintaan besar sementara persediaan sedikit maka harga akan menjadi mahal. Jadilah seseorang yang begitu hebatnya sehingga Anda terlalu berharga untuk diabaikan.

“The best investment you can make is an investment in yourself. The more you learn, the more you’ll earn.” ~Warren Buffet

Disclaimer: tulisan ini hanya merupakan pendapat saya. Anggap sebagai sebuah hipotesis yang perlu diuji. Jangan jadikan tulisan saya ini sebagai satu-satunya referensi. Pelajari referensi lain juga dan ambillah keputusan Anda dengan bijak.
[1] Ref: https://80000hours.org/career-guide/career-capital/