2 Elemen Utama Coaching

Coaching adalah tentang bagaimana melepaskan potensi seseorang. Maka, kita perlu meyakini bahwa setiap orang pada dasarnya memiliki potensi. Bagaimana bisa kita melepaskan potensi seseorang bila kita tidak meyakini bahwa mereka memiliki potensi? Adapun performance seseorang saat ini tidak selalu mencerminkan potensi yang sebenarnya. Bisa jadi karena ada hal-hal internal (maupun eksternal) yang menghambat potensi mereka. Adalah tugas seorang coach mengidentifikasi penghambat ini dan membersihkannya sehingga potensi seseorang mendekati potensi sebenarnya.

2-elemen-utama-coaching

Bagaimana seorang coach melakukannya? Seorang coach melakukannya dengan memunculkan dua hal:

Pertama, KESADARAN (Awareness). Kita tidak dapat mengendalikan hal-hal yang kita tidak sadari. Maka, tugas seorang coach adalah memunculkan kesadaran coachee-nya. Kesadaran akan tujuannya, pilihannya, potensinya.

Kedua, TANGGUNG JAWAB (Responsibility). Membantu coachee mau mengambil tanggungjawab terhadap pikiran, perasaan, dan tindakan-tindakannya. Inilah sebabnya, dalam sesi coaching semaksimal mungkin ide, solusi, dan pilihan-pilihan muncul dari pihak coachee sendiri. Kenapa? Karena kita lebih merasa memiliki terhadap ide yang muncul dari diri sendiri, bukan dari pihak lain.

Maka pertanyaan-pertanyaan dalam sesi coaching haruslah mencerminkan dua hal di atas. Bila pertanyaan tidak mendorong kesadaran dan tanggung jawab, maka sesi coaching tersebut menjadi kurang efektif. Saat sebuah sesi coaching berlangsung efektif, ia akan menghasilkan kesadaran dan tanggung jawab terhadap rencana dan tindakan-tindakannya, juga keyakinan diri, motivasi, pilihan, kejelasan, dan komitmen dari sang coachee.

Apa itu Coaching?

Bila melihat kamus, kita bisa melihat definisi coaching sebagai berikut:

“Melatih, mengajar, menginstruksikan, memberikan saran kepada tim atau seseorang untuk mencapai tujuan tertentu.”

Yup, memang seperti itulah definisi coaching secara bahasa, sangat global. Definisi yang global seperti ini tentu saja membuat kita sebagai orang awam sulit membedakan apa perbedaan antara seorang coach dengan seorang instruktur. Antara coach dengan guru, coach dengan trainer, coach dengan mentor, atau coach dengan konsultan. Inilah pentingnya kita merujuk ke sejarah awal mula coaching di atas bumi ini.

apa-itu-coaching

Adalah Tim Gallwey, seorang tennis coach yang pertama kali secara definitif membedakan coaching dengan metode lainnya (training, teaching, mentoring dll). Awal mulanya dia penasaran, mengapa seorang atlit pro bisa bermain baik di lapangan di satu waktu, namun bermain sangat buruk di waktu lainnya. Sampai akhirnya dia menemukan, permainan di lapangan (baca: perilaku dan performance atlit) adalah cerminan dari permainan di dalam diri mereka (inner game: pikiran, perasaan, dan mood-nya). Bila seorang atlit mampu mengelola inner game-nya maka ia akan bermain dengan performa puncak.

Sebaliknya, bila ia gagal mengelola inner game-nya maka performanya akan jauh dari potensi sebenarnya. Artinya apa? Di pertandingan level dunia, keahlian permainan luar (skill tennis) hanyalah pintu masuk. Penentu kemenangan adalah permainan dalam, inner game-nya. Hambatan terbesar ada di dalam diri mereka, bukan di luarnya.

Di level atlit pro, semua teknik dari basic sampai advanced sudah pasti dikuasai oleh para pemainnya. Maka, fungsi seorang coach yang mendampingi pemain di level tersebut bukanlah mengajarkan atau menambahkan teknik baru. Tugas seorang coach adalah memastikan sang atlit mampu mengeluarkan seluruh kemampuannya saat berada di lapangan. Tak heran bila Gallwey kemudian menjelaskan:

“Coaching is unlocking a person’s potential to maximize their own performance, it is helping them to learn rather than teaching them”

Terjemahan bebasnya kurang lebih:

“Coaching adalah membebaskan potensi seseorang untuk memaksimalkan performanya, membantu mereka untuk belajar alih-alih mengajari mereka”

Jadi seorang coach yang efektif tidak mengajarkan atau menginstruksikan sesuatu, tidak juga memberikan saran atau solusi bagi coachee-nya (coachee = orang yang dicoaching). Namun mereka tetap mampu membantu coachee-nya untuk belajar dan bertumbuh. Bagaimana caranya? Yaitu dengan mengajukan pertanyaan. Tentu saja bukan sembarang pertanyaan. Namun pertanyaan-pertanyaan yang dapat memicu kesadaran diri dan memprovokasi tindakan kreatif. Ini bukan hal baru. Berabad-abad yang lalu Socrates sudah memulainya. Namun sayang, metode Socrates ini lambat laun terlupakan. Kita lebih suka menyuapi dan disuapi pelajaran, kita lebih suka diberitahu dan memberitahu tentang apa yang perlu dilakukan. Sampai kemudian Gallwey mengingatkan kembali kepada kita kekuatan pertanyaan. Satu pertanyaan yang powerful lebih baik dari sepuluh jawaban bukan? Lalu, bagaimana persisnya yang powerful itu? Insyaallah kita lanjutkan di artikel-artikel berikutnya.

“It is not the answer that enlightens, but the question.” – Eugene Ionesco

Coaching dan Inner Game

Pada tahun 1979 John Whitmore dan Graham Alexander membawa konsep inner game ke Eropa (bagi yang belum kenal dengan konsep inner game, silakan kunjungi artikel saya di sini). Tentu saja atas persetujuan kreator inner game, Tim Gallwey. Awalnya mereka mengaplikasikan konsep inner game di area olahraga. Mereka menggunakan konsep inner game untuk meng-coaching para atlit. Lalu segera mereka menyadari bahwa konsep inner game dapat berguna bila diterapkan di area pekerjaan dan bisnis juga. Pada 1980an mereka lalu membangun metodologi, konsep dan teknik untuk meningkatkan performance di organisasi. Mereka ingin menunjukkan bahwa manusia dapat tumbuh bukan hanya performance-nya namun juga pembelajaran dan kebahagiaan sekaligus saat mereka menemukan makna dari pekerjaannya. Di sinilah awal coaching dikenal di area pekerjaan dan bisnis.

coaching-dan-inner-game

Pada 1986, perusahaan konsultan terkenal McKinsey menjadi klien mereka. McKinsey puas dengan pekerjaan mereka dan tertarik mengetahui kerangka coaching yang mereka gunakan. Pada saat itu, Whitmore dan Alexander belum memiliki kerangka yang jelas saat melakukan coaching. Mereka mampu melakukannya dengan sangat baik. Coaching yang mereka lakukan sukses meningkatkan performance dan meaning orang-orang di organisasi namun tidak bisa menjelaskan apa yang mereka lakukan. Lalu mereka merekam sesi coaching dengan video dan mengundang praktisi NLP (sayangnya tidak disebutkan siapa praktisi NLP yang dimaksud) untuk memodel apa yang mereka lakukan. Mereka ingin membedah model yang mereka praktikkan.

Sampai akhirnya mereka menemukan bahwa setiap sesi coaching pasti terkait empat tahapan:

  • Goal (tujuan; kondisi yang diinginkan)
  • Realities (kondisi saat ini)
  • Options (sumberdaya; pilihan-pilihan untuk mewujudkan tujuan)
  • Will (langkah pertama; komitmen tindakan)

Para konsultan McKinsey mengatakan GROW pasti akan segera populer karena kesederhanaannya! Prediksi itu pun benar. Sampai kemudian John Whitmore mempublikasikan GROW dalam bukunya Coaching for Performance pada 1992. Buku ini menjadi kitab sucinya para manajer dan coach. Diterbitkan di 30 negara dan diterjemahkan dalam 23 bahasa. Insyaallah di artikel berikutnya kita akan lanjutkan bahasan dari buku ini supaya kita sama-sama dapat mengambil pembelajaran terbaik darinya. Sampai jumpa di artikel berikutnya!

Penemuan Diri: Proses Sepanjang Hayat

“Life is an endless process of self-discovery.” ― James Gardner

Banyak yang menyangka proses penemuan diri itu dapat dilakukan hanya dengan sekali asessment. Sayangnya, tidak demikian. Asessment hanyalah alat bantu untuk mengenali diri kita. Diri kita yang sebenarnya? Wallahu a’lam. Maka, penemuan diri bukanlah sebuah momen melainkan sebuah proses. Kita perlu menjalani dan melakukannya sepanjang hayat kita. Apa tujuannya? Sederhana, menemukan apa sebenarnya misi kita di atas bumi.

Penemuan-Diri-Proses-Sepanjang-Hayat

Guru saya selalu mengatakan, kita lahir di atas bumi ini dengan sifat-sifat bawaan yang unik. Sebagian memiliki sifat keras kepala, sebagian lembut hati. Sebagian suka berkonfrontasi, sebagian suka mendamaikan. Sebagian pemikir, sebagian pekerja keras. Sifat-sifat bawaan ini tidak mungkin dihadirkan dalam diri manusia tanpa makna, tanpa tujuan. Sifat-sifat bawaan ini semacam fitur yang mendiferensasikan satu orang dengan orang lainnya. Pertanyaannya, apa tujuan dari fitur pembeda ini? Tidak mungkin terjadi begitu saja tanpa tujuan bukan?

Demikian juga dengan apa yang kita sebut sebagai bakat. Guru saya, Abah Rama, mendeskripsikan bakat sebagai sifat bawaan yang bermanfaat. Mengenali bakat, sama artinya mengenali jalan hidup kita. Orang yang suka berpikir, mungkin memang jalan hidupnya adalah sebagai pemikir yang menemukan ide-ide terobosan (tidak semua orang suka melakukannnya kan?). Orang yang suka bekerja keras, jalan hidupnya mungkin untuk membantu para pemikir melaksanakan ide-idenya. Orang yang suka berkonfrontasi, mungkin jalan hidupnya adalah untuk memimpin dan “menantang” status quo. Jalan hidup setiap orang berbeda, tergantung bakat yang dimilikinya.

Pertanyaannya adalah, bagaimana kita mengenali bakat kita? Ingat kredo di awal: penemuan diri adalah proses sepanjang hayat. Termasuk mengenali bakat, bisa jadi prosesnya sepanjang hayat. Maka, yang perlu kita lakukan adalah mulai dan tetap mengeksplorasinya. Saya belajar, ada tiga ciri bahwa kita berbakat di sebuah area.

Pertama, easy – kita merasa mudah mempelajari atau melakukannya. Sementara orang lain nampak kesulitan melakukan hal yang sama.

Kedua, enjoy – kita menikmati proses melakukannya. Sementara orang lain nampak tidak suka melakukannya.

Ketiga, endurance – kita betah berlama-lama melakukannya, seakan-akan energi kita tidak habis-habis melakukan hal tersebut berulang-ulang dalam jangka waktu yang lama.

Keempat, excellent – hasilnya bagus. Dengan proses belajar yang sama, hasil yang Anda ciptakan lebih bagus dibandingkan orang lain.

Kelima, earn – menghasilkan; bermanfaat bagi orang lain.

Coba kenali, aktivitas apa yang memenuhi lima kriteria di atas? Tenang, Anda tidak perlu menemukannya saat ini juga. Penemuan diri itu proses sepanjang hayat.

Saat Anda sudah mulai menemukannya, pelajari pengetahuan dan latih skill yang akan mempertajam bakat Anda tersebut. Sehingga akhirnya Anda benar-benar ekselen di bidang tersebut. Ingat, bakat hanyalah potensi. Dia tidak akan teraktualisasi secara optimal bila kita tidak menginvestasikan waktu untuk mengasahnya.

“Knowing yourself is the beginning of all wisdom.” ― Aristotle

Disclaimer: tulisan ini hanya merupakan pendapat saya. Anggap sebagai sebuah hipotesis yang perlu diuji. Jangan jadikan tulisan saya ini sebagai satu-satunya referensi. Pelajari referensi lain juga dan ambillah keputusan Anda dengan bijak.