Penemuan Diri: Proses Sepanjang Hayat

“Life is an endless process of self-discovery.” ― James Gardner

Banyak yang menyangka proses penemuan diri itu dapat dilakukan hanya dengan sekali asessment. Sayangnya, tidak demikian. Asessment hanyalah alat bantu untuk mengenali diri kita. Diri kita yang sebenarnya? Wallahu a’lam. Maka, penemuan diri bukanlah sebuah momen melainkan sebuah proses. Kita perlu menjalani dan melakukannya sepanjang hayat kita. Apa tujuannya? Sederhana, menemukan apa sebenarnya misi kita di atas bumi.

Penemuan-Diri-Proses-Sepanjang-Hayat

Guru saya selalu mengatakan, kita lahir di atas bumi ini dengan sifat-sifat bawaan yang unik. Sebagian memiliki sifat keras kepala, sebagian lembut hati. Sebagian suka berkonfrontasi, sebagian suka mendamaikan. Sebagian pemikir, sebagian pekerja keras. Sifat-sifat bawaan ini tidak mungkin dihadirkan dalam diri manusia tanpa makna, tanpa tujuan. Sifat-sifat bawaan ini semacam fitur yang mendiferensasikan satu orang dengan orang lainnya. Pertanyaannya, apa tujuan dari fitur pembeda ini? Tidak mungkin terjadi begitu saja tanpa tujuan bukan?

Demikian juga dengan apa yang kita sebut sebagai bakat. Guru saya, Abah Rama, mendeskripsikan bakat sebagai sifat bawaan yang bermanfaat. Mengenali bakat, sama artinya mengenali jalan hidup kita. Orang yang suka berpikir, mungkin memang jalan hidupnya adalah sebagai pemikir yang menemukan ide-ide terobosan (tidak semua orang suka melakukannnya kan?). Orang yang suka bekerja keras, jalan hidupnya mungkin untuk membantu para pemikir melaksanakan ide-idenya. Orang yang suka berkonfrontasi, mungkin jalan hidupnya adalah untuk memimpin dan “menantang” status quo. Jalan hidup setiap orang berbeda, tergantung bakat yang dimilikinya.

Pertanyaannya adalah, bagaimana kita mengenali bakat kita? Ingat kredo di awal: penemuan diri adalah proses sepanjang hayat. Termasuk mengenali bakat, bisa jadi prosesnya sepanjang hayat. Maka, yang perlu kita lakukan adalah mulai dan tetap mengeksplorasinya. Saya belajar, ada tiga ciri bahwa kita berbakat di sebuah area.

Pertama, easy – kita merasa mudah mempelajari atau melakukannya. Sementara orang lain nampak kesulitan melakukan hal yang sama.

Kedua, enjoy – kita menikmati proses melakukannya. Sementara orang lain nampak tidak suka melakukannya.

Ketiga, endurance – kita betah berlama-lama melakukannya, seakan-akan energi kita tidak habis-habis melakukan hal tersebut berulang-ulang dalam jangka waktu yang lama.

Keempat, excellent – hasilnya bagus. Dengan proses belajar yang sama, hasil yang Anda ciptakan lebih bagus dibandingkan orang lain.

Kelima, earn – menghasilkan; bermanfaat bagi orang lain.

Coba kenali, aktivitas apa yang memenuhi lima kriteria di atas? Tenang, Anda tidak perlu menemukannya saat ini juga. Penemuan diri itu proses sepanjang hayat.

Saat Anda sudah mulai menemukannya, pelajari pengetahuan dan latih skill yang akan mempertajam bakat Anda tersebut. Sehingga akhirnya Anda benar-benar ekselen di bidang tersebut. Ingat, bakat hanyalah potensi. Dia tidak akan teraktualisasi secara optimal bila kita tidak menginvestasikan waktu untuk mengasahnya.

“Knowing yourself is the beginning of all wisdom.” ― Aristotle

Disclaimer: tulisan ini hanya merupakan pendapat saya. Anggap sebagai sebuah hipotesis yang perlu diuji. Jangan jadikan tulisan saya ini sebagai satu-satunya referensi. Pelajari referensi lain juga dan ambillah keputusan Anda dengan bijak.

Penemuan Diri: Nature atau Nurture?

Diakui maupun tidak, aktivitas yang bersifat penemuan diri (Self-Discovery) itu menarik untuk dilakukan. Proses menemukan potensi diri, bakat (talents), hasrat (passion), kekuatan (strengths), kepribadian (personality), atau apapun adalah hal yang tidak pernah membosankan diri kita. Aktivitas mengeksplorasi diri sendiri, menemukan potensi-potensi yang ada di dalam diri, selalu menarik. Saking menariknya, bisa dibilang adiktif. Kita kecanduan untuk melakukannya berulang-ulang. Inilah sebabnya, industri Self-Help menjadi industri bernilai jutaan dollar: orang-orang ingin menemukan sesuatu yang hebat di dalam dirinya, dan mengaktualisasikannya.

penemuan-diri-nature-atau-nurture

Sayangnya, meski demikian, tidak semua proses Self-Discovery itu berbasis metode yang saintifik. Beberapa hanya berdasarkan mitos dan pseudosains. Beberapa orang mengeksplorasi berdasarkan kartu, tanggal lahir, bintang-bintang. Sementara yang lain menggunakan bentuk wajah, bentuk tulang, dan sidik jari. Lalu ada pula yang menggunakan kuisioner dan self-asessment. Mana yang saintifik mana yang tidak? Saya tidak bisa menjelaskan satu per satu di sini, silakan tanyakan ke penyedia layanan tersebut sendiri-sendiri. Dan ketika membaca tulisan ini, beberapa orang berpendapat: nggak peduli saintifik atau tidak yang penting hasilnya valid. Lalu saya pun berpikir, bukankah jika hasilnya valid itu seharusnya ia “lulus” secara saintifik? Entahlah.

Kemudian, mau tidak mau saat membahas Self-Discovery kita pun sampai pada bahasan: apakah kualitas diri kita itu sesuatu yang dibentuk atau dilahirkan? Nurture atau nature?

Nature: kualitas diri itu bawaan lahir.

Cara pandang ini melihat bahwa kualitas diri seseorang (bakat, passion, kepribadian, apapun itu) bersifat genetik. Bawaan lahir yang menetap dalam diri seseorang selamanya. Label yang menetap pada diri seseorang dari lahir hingga mati. Dari sini, kita bisa simpulkan dengan cepat bahwa saat kita melakukan Self-Discovery sebenarnya kita sedang mengaminkan cara pandang nature. Bahwa saat lahir, kita sudah membawa potensi-potensi diri, mereka menunggu untuk ditemukan. Inilah sisi positif dari cara pandang Nature. Sisi negatifnya, seringkali kita melabeli diri kita dengan sifat-sifat dan kualitas yang membatasi diri kita. Lalu menyerah begitu saja karena menganggap diri kita memang demikian adanya. Padahal, dalam setiap asessment, selalu ada kemungkinan error, bagaimana jika ternyata hasil asessment-nya tidak valid sementara kita sudah melabeli diri kita dengan label yang melekat sampai akhir hayat?

Nurture: kualitas diri itu dibentuk.

Berbeda dengan cara pandang nature, cara pandang nurture melihat bahwa kualitas diri seseorang tidak menetap, berubah-ubah, bisa berkembang atau hilang tergantung pengalaman dan pembelajaran yang ia alami. Cara pandang ini lebih fokus ke masa depan: kualitas apa yang ingin saya bentuk? Bagaimana cara saya melatihnya? Mereka percaya, bila seseorang mampu melakukan sesuatu maka setiap orang mampu belajar untuk melakukannya.

Lalu, mana di antara kedua pandangan itu yang benar? Saya tidak punya kapasitas untuk menjawabnya. Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sudah bertahan lebih dari satu abad, dan mungkin akan bertahan sampai beberapa abad ke depan. Nature dan nurture adalah dua cara pandang dalam dunia psikologi yang masing-masing punya bukti pendukungnya. Saya lebih suka bertanya: mana di antara kedua pandangan ini yang membuat hidup saya semakin berdaya? Jika jawabannya nurture, maka gunakan pandangan itu. Demikian pula sebaliknya.

Lagipula meskipun nampak bertolak belakang, keduanya masih memiliki banyak kesamaan.

Pertama, meskipun cara pandang nature percaya bahwa kita membawa kualitas bawaan, namun kualitas bawaan tersebut masih bersifat potensial. Mereka tidak akan teraktualisasi tanpa kita mau berinvestasi untuk melatihnya.

Kedua, meskipun cara pandang nurture percaya bahwa semua bisa dilatih. Tetap saja mereka akan bertemu dengan kenyataan bahwa, meski latihan yang dilakukan sama – hasil setiap orang berbeda-beda. Artinya setiap orang sudah membawa modal bawaan yang membuat hasilnya berbeda.

Jadi, jangan biarkan Anda terombang-ambing dalam kebingungan yang tidak memberdayakan. Yakini bahwa kita potensi bawaan yang menunggu untuk ditemukan, namun jangan menunggu untuk menemukannya. Cobalah berbagai aktivitas, dalami skill yang ingin Anda kuasai. Percayalah, bahwa manusia memiliki kapasitas untuk berubah ke arah yang lebih baik, apapun potensi bawaannya.

“And you? When will you begin that long journey into yourself?”
― Jalaluddin Rumi

Disclaimer: tulisan ini hanya merupakan pendapat saya. Anggap sebagai sebuah hipotesis yang perlu diuji. Jangan jadikan tulisan saya ini sebagai satu-satunya referensi. Pelajari referensi lain juga dan ambillah keputusan Anda dengan bijak.

Apa Kabar Resolusi Tahun Barumu?

 

Sudah masuk akhir bulan Februari nih, apa kabar resolusi tahun baru Anda? Richard Wiseman – seorang psikolog terkenal di Inggris – menuturkan, 88% dari semua resolusi berakhir dengan kegagalan. Bahkan, menurut Michael Hyatt, 25% orang melupakan resolusinya di minggu pertama dan 60% melupakannya setelah enam bulan. Bagaimana dengan Anda? Mumpung sekarang masih bulan kedua, mari kita sama-sama evaluasi. Apakah kita bergerak mendekatinya? Atau justru menjauhinya? Mari kita periksa.

photo courtesy of www gretchenrubin com
photo courtesy of www gretchenrubin com

GoalSet – Tentang Tujuan Anda

Apakah Anda menetapkan terlalu banyak tujuan? Jika iya, kurangi menjadi 2-3 tujuan dulu saja.

Apakah Anda sudah menetapkannya secara spesifik? Apa, kapan, dimana dan dengan siapa Anda ingin mencapainya?

Apakah tujuan itu benar-benar penting untuk Anda wujudkan? Sebab bila tidak penting, maka Anda tidak akan kunjung mulai mewujudkannya.

ActionSet – Tentang Rencana Tindakan Anda

Apakah rencana tindakan Anda masuk akal?

Apakah rencana tindakan Anda cukup spesifik dan terukur?

Apakah rencana tindakan Anda mampu Anda lakukan?

Apakah Anda memonitor rencana tindakan Anda?

ToolSet – Tentang Alat Bantu

Apakah Anda sudah memiliki alat bantu yang tepat untuk mewujudkan tujuan Anda?

Apakah Anda sudah memiliki alat bantu yang tepat untuk melakukan rencana tindakan Anda?

Jika belum, apa rencana Anda untuk memiliki alat bantu tersebut?

SkillSet – Tentang Kemampuan (Pengetahuan dan Keterampilan)

Apakah Anda memiliki kemampuan yang cukup untuk melakukan rencana Anda? Jika belum, apakah dalam dua bulan ini Anda sudah mulai belajar dan meningkatkan kemampuan Anda? Jika belum juga, apakah Anda serius dengan tujuan Anda?

MindSet – Tentang Pola Pikir

Apakah keyakinan Anda mendukung Anda untuk bertindak?

Apakah pola pikir Anda mendukung Anda untuk berubah dan bertumbuh?

Apakah sikap dan perilaku Anda selaras dengan pola pikir yang perlu Anda miliki untuk berhasil mewujudkan tujuan Anda?

Jika Anda merasa belum bergerak mendekati resolusi tahunan Anda, coba periksa kelima set di atas: goalset, actionset, toolset, skillset, dan mindset. Mungkin saja ada set yang terlewat, kurang pas atau kurang diperhatikan, sehingga Anda tidak bergerak menuju tujuan Anda. Menetapkan tujuan saja tidak cukup, kita perlu serangkaian sistem untuk memastikan diri kita bergerak ke arahnya.

Cara Membentuk Disiplin Diri

Pembeda antara orang yang mengetahui dan melakukan, juga antara orang yang melakukan dan menghasilkan adalah disiplin. Kamus mengartikan disiplin sebagai ketaatan mengikuti aturan. Kita bisa melihat, orang-orang yang “gagal” menerapkan apa yang mereka ketahui biasanya karena kurangnya kedisiplinan mereka.

cara-membentuk-disiplin-diri

Pertanyaannya, bagaimana cara membentuk disiplin?

Pertama, pecah tujuan besar menjadi tujuan-tujuan yang lebih kecil

Disiplin adalah tentang kesabaran. Bagaimana kita sabar mencapai tujuan-tujuan yang lebih kecil sebelum mewujudkan tujuan yang lebih besar. Pelari marathon tidak begitu saja mampu berlari sampai 10 km. Mereka memiliki rencana latihan sebelumnya, dengan berlari 1 km, 2 km, 3 km dan seterusnya sampai mereka akhirnya mampu berlari 10 km. Tanpa latihan yang disiplin, tidak akan terbentuk pelari marathon yang mampu berlari 10 km.

Kedua, buat aturan

Disiplin adalah tentang aturan. Tentang apa yang boleh dilakukan dan apa yang dilarang. Tanpa aturan, tidak akan ada disiplin. Anda ingin disiplin dalam hal apa? Keuangan? Lakukan budgeting – batasi pengeluaran Anda; berapa pengeluaran maksimal untuk biaya hidup? Berapa investasi minimal per bulan? Disiplin dalam diet? Apa aturan Anda? Berhenti sebelum kenyang? Hanya makan raw food? Disiplin berolahraga? Berapa kuota minimum Anda? 30 menit per hari? 3 kali seminggu? Buat aturan untuk diri Anda dan taatilah.

Ketiga, kelola godaan yang muncul

Saat Anda mulai melatih disiplin pasti akan muncul godaan demi godaan. Bila Anda bisa menghindarinya, hindarilah. Bila tidak kelolalah. Atur lingkungan Anda agar Anda terlindungi dari godaan. Kelilingi diri Anda dengan orang-orang yang akan mengingatkan Anda akan tujuan Anda.

Keempat, jangan terlalu keras pada diri Anda

Seringkali disiplin berkonotasi dengan keras pada diri sendiri. Padahal tidak selalu demikian. Saat Anda mendisiplinkan diri, perhatikan pula diri Anda. Perhatikan hak tubuh Anda untuk beristirahat. Perhatikan hak pikiran dan jiwa Anda. Atur jadwal Anda sehingga hak-hak diri Anda terpenuhi dengan baik.

Kelima, ikuti jalannya sampai berhasil

Disiplin adalah tentang kesetiaan berjalan di jalur yang sama sampai ke tujuan yang kita citakan. Seringkali jalannya penuh duri dan belukar, namun bila ini adalah jalan yang membawa kita ke tujuan, mau tidak mau kita perlu menjalaninya. Tidak heran bila disiplin dan fokus itu sejalan – Follow One Course Until Success!

Jembatan pengetahuan dengan tindakan adalah disiplin. Jembatan antara tindakan dengan hasil juga disiplin. Tanpa disiplin, pengetahuan hanya akan menjadi pengetahuan. Tanpa disiplin, keinginan hanya akan menjadi keinginan.

“Knowing is not enough, we must apply. Willing is not enough, we must do.”― Bruce Lee