Jangan (Hanya) Ikuti Passion Anda!

Sebuah hipotesis mengatakan: Agar kita bahagia dalam pekerjaan kita, temukan pekerjaan yang sesuai dengan passion kita. Hipotesis ini diringkas menjadi “Ikuti passion Anda.” Sayangnya menurut Cal Newport, dalam konteks karier, ini adalah saran yang buruk. Ada beberapa potensi masalah yang timbul akibat dari hipotesis ini. Mari kita simak satu per satu.

Jangan-Hanya-Ikuti-Passion-Anda

Pertama, tidak jelas bagaimana merealisasikannya. Nasihatnya mudah, namun realisasinya tidak semudah yang kita bayangkan. Bagaimana cara Anda hidup darinya? Apakah Anda masih passionate bila melakukannya setiap hari? Apakah passion Anda selaras dengan kompetensi yang Anda kuasai dan keduanya dibutuhkan oleh pasar?

Kedua, saran “Ikuti Passion Anda” terdengar mudah. Sayangnya untuk mendapatkan pekerjaan yang Anda hebat itu tidak semudah itu. Anda perlu menginvestasikan energi, waktu dan dedikasi untuk mencapainya. Anda perlu mau belajar, membangun jejaring, menunjukkan kerja nyata. Sampai Anda benar-benar menjadi expert di dalamnya.

Ketiga, passion bukanlah satu-satunya faktor kepuasan (baca: kebahagiaan) dalam bekerja. Jika Anda bekerja sesuai passion Anda, namun bekerja dengan orang yang tidak Anda sukai (atau mereka tidak menyukai Anda), kemudian Anda mendapatkan bayaran yang tidak fair, apakah Anda masih puas? Seringkali jawabannya adalah tidak.

Keempat, pekerjaan yang sesuai passion itu langka. Riset di Universitas Montreal misalnya menunjukkan. Sebagian besar passion mahasiswa ada di bidang seni, olahraga dan musik. Sementara itu, pekerjaan yang terkait dengan passion tersebut sangat terbatas. Sehingga menjadi sangat kompetitif ketika kita “bertarung” di sana. Tentu saja, akan menjadi melelahkan saat kita memutuskan terjun di sana.

Kelima, tidak semua orang merasa memiliki passion yang terkait dengan kariernya. Ada orang yang merasa tidak memiliki passion apapun. Ada juga yang punya passion namun bingung bagaimana hidup darinya. Sementara yang lain merasa memiliki banyak passion, dan ini membuat mereka bingung, passion mana yang bisa dijadikan penopang hidupnya. Akibatnya kelompok yang terakhir ini terjebak pada pola “kutu loncat” berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya. Tentu saja ini tidak sehat. Ini membuat kita gagal membangun keahlian di bidang kita. Akibatnya kita menjadi cemas dan meragukan diri sendiri, karena tidak memiliki kompetensi apapun yang bisa diandalkan.

Keenam, kita seringkali salah mengukur diri sendiri. Kita tidak tepat menentukan apa sebenarnya passion kita. Kita juga seringkali salah memprediksi apa sebenarnya yang membuat kita bahagia dan di bidang apa yang kita bisa hebat saat melakukannya. Sehingga, apa yang hari ini kita anggap sebagai passion kita, bisa saja berubah di kemudian hari, karena ketidakakuratan dari pengamatan kita sendiri.

Ketujuh, Anda membatasi pilihan-pilihan Anda. Saat Anda merasa passion Anda di basket misalnya, lalu merasa inilah jalur karier Anda maka Anda menutup peluang-peluang karier lainnya. Faktanya, seringkali minat kita berubah-ubah. Pikirkan 3-5 tahun yang lalu, apakah minat Anda di masa lalu masih sama dengan saat ini? Belum tentu. Ketika Anda membuka pintu untuk satu peluang, jangan tutup terlebih dulu pintu lainnya.

Jadi, bagaimana solusinya? Simak artikel berikutnya insyaallah.

Disclaimer: tulisan ini hanya merupakan pendapat saya. Anggap sebagai sebuah hipotesis yang perlu diuji. Jangan jadikan tulisan saya ini sebagai satu-satunya referensi. Pelajari referensi lain juga dan ambillah keputusan Anda dengan bijak.

Passion Saja Tidak Cukup

Bicara tentang passion memang tidak ada habisnya. Passion merupakan topik yang menarik. Semakin menarik bila dikaitkan dengan pekerjaan (baca: cara kita membayar tagihan-tagihan). Siapa yang tidak ingin mengerjakan apa yang kita cintai dan dibayar? Siapa yang tidak ingin hobinya memberikan penghasilan? Semua orang (sepertinya) menginginkannya.

passion-saja-tidak-cukup

Apalagi para entrepreneur sukses pun memberikan nasihat yang sama: lakukan apa yang Anda cintai dan uang akan mengikuti Anda. Bukankah ini sangat menggiurkan? Sayangnya, nasihat ini terlalu menyederhanakan. Setidaknya karena dua alasan.

Alasan pertama, tidak semua apa yang kita cintai dibutuhkan orang lain. Dengan kata lain, tidak semua orang mau membayar Anda melakukan hobi Anda.

Alasan kedua, passion saja tidak cukup untuk menghasilkan uang. Mungkin orang lain mau membayar Anda, namun, apakah Anda bisa menghasilkan layanan/produk yang bagus hanya dengan passion? Jawabannya, tidak. Anda perlu kompeten dalam mengerjakan pekerjaan Anda. Bila Anda tidak kompeten, se-passionate apapun Anda, mereka akan meninggalkan Anda.

Namun, apakah dua alasan ini membuat kita perlu meninggalkan passion kita? Tentu tidak. Passion itu penting. Entah dalam bekerja, beribadah, atau berkontribusi pada sesama. Tanpanya, aktivitas yang kita lakukan akan kering – tanpa rasa.

Poin saya bukanlah untuk mendiskreditkan passion. Melainkan menempatkan passion pada tempatnya.

Untuk berhasil di bidang kita misalnya (apapun itu). Passion itu perlu, karena ia memberikan energi untuk bergerak. Namun, passion saja tidak cukup. Anda perlu mau belajar dan bekerja keras agar kompeten di bidang Anda. Saat Anda begitu kompeten di bidang Anda, tidak akan ada orang yang mengabaikan Anda.

Jadi, bila Anda merasa tidak memiliki passion di pekerjaan Anda sekarang, jangan langsung tinggalkan. Temukan apa yang menarik dari pekerjaan Anda saat ini, gali lebih dalam. Belajar dari apa yang ada di depan Anda. Jangan terlalu fokus pada apa yang belum ada. Temukan bagaimana pekerjaan Anda saat ini akan melengkapi kompetensi Anda nantinya. Jangan buru-buru bakar kapal, meninggalkan semuanya. Karena masa depan tidak pasti. Kita tidak tahu, apa yang ada di depan kita nanti.

“Follow your passion, be prepared to work hard and sacrifice, and, above all, don’t let anyone limit your dreams” ~Donovan Bailey

Melatih Regulasi Diri

“Apa-apa yang tidak kau sadari tidak dapat kau kelola” ~Teddi Prasetya Yuliawan

Regulasi diri adalah kemampuan unik manusia untuk mengelola pikiran, perasaan dan perilakunya. Kemampuan ini unik, karena hanya dimiliki oleh manusia. Dalam khazanah ilmu Islam, regulasi diri adalah fungsi dari ‘aql (akal).

Kemampuan regulasi diri ini membuat manusia mampu mengenali emosinya sendiri. Juga mampu mengarahkannya ke arah yang lebih produktif dan memberdayakan. Tanpa kemampuan regulasi diri, manusia akan menjadi budak dari pikiran dan emosinya. Alih-alih mengendalikannya, justru ia akan dikendalikan olehnya.

Itulah sebabnya, orang-orang yang bahagia dalam hidup ini bisa dipastikan memiliki kemampuan regulasi diri yang bagus. Mereka yang sukses dalam kariernya pun bisa dipastikan memiliki kemampuan regulasi diri yang bagus. Begitu juga dengan mereka yang berhasil mencapai resolusi tahunannya.

Meskipun secara default sudah ada dalam diri manusia, kemampuan regulasi diri perlu dilatih. Bila tidak dilatih, maka kita tidak akan efektif dalam memanfaatkannya. Bagaimana cara melatihnya?

melatih-regulasi-diri

Berikut beberapa tips yang dapat Anda manfaatkan:

Kenali emosi Anda.

Apa yang Anda rasakan? Sensasi apa yang Anda rasakan di tubuh Anda? Di bagian mana persisnya sensasi tersebut Anda rasakan? Bila kita tidak mengenali emosi yang kita rasakan, kita akan kesulitan mengelola dan mengarahkannya.
Kenali pikiran Anda. Apa yang Anda pikirkan? Apa yang Anda katakan dalam pikiran Anda? Suara apa yang Anda dengar dalam benak Anda? Film apa yang Anda tayangkan dalam benak Anda? Kenali apapun yang melintas dalam pikiran Anda saat Anda merasakan emosi tertentu. Sadari bahwa pikiran bukanlah realitas. Pikiran adalah kesimpulan/persepsi kita terhadap realita, bukan realita itu sendiri.

Tetapkan blocking time dan tepati.

Saat Anda mengerjakan sesuatu, tetapkan waktu khusus dimana Anda hanya akan mengerjakan aktivitas tersebut dan tepati. Misalnya, saat membuat tulisan, saya menetapkan waktu pk.05.00-05.30 selama rentang waktu tersebut, saya hanya akan menulis dan mengabaikan aktivitas lainnya.

Lakukan penundaan.

Tidak semua penundaan buruk. Bahkan kemampuan menunda adalah kemampuan dasar dalam regulasi diri. Saat Anda mengalami dorongan kuat untuk melakukan sesuatu yang buruk, tundalah. Melihat diskon besar di mall tapi Anda sudah over budget? Tundalah belanja Anda. Ingin bersantai sementara kerjaan membuat laporan belum selesai? Tundalah. Ingin minum vietnam coffee sementara sedang diet gula? Tundalah.

Berlatih reframing.

Reframing adalah melihat makna lain dari sebuah keadaan/peristiwa. Misalnya, saat Anda kesal dengan perilaku seseorang, cobalah pikiran maksud baik dari orang tersebut. Memikirkannya dapat mengurangi rasa kesal Anda. Atau saat Anda mengalami peristiwa yang tidak Anda inginkan, cobalah untuk mencari hikmahnya – apa pembelajaran yang Anda dapatkan dari peristiwa tersebut. Bisa juga saat Anda merasakan emosi negatif tertentu, tanyakan ke diri Anda, apa pesan yang ingin disampaikan oleh emosi tersebut?

Kelima hal di atas hanyalah tips sederhana. Bila teman-teman ingin belajar lebih mendalam, terstruktur dan sistematis tentang regulasi diri, pelajarilah NLP (Neuro-Linguistic Programming). Di modul #1 NLP Essential misalnya, peserta akan belajar tentang regulasi diri secara lebih terstruktur. Mulai dari berlatih meningkatkan Self-Awareness di hari pertama dilanjutkan dengan mendesain ulang diri di hari kedua. Harapannya setelah kelas berakhir, peserta menjadi lebih mampu mengenali dan mengarahkan pikiran, perasaan, dan perilakunya ke arah yang mereka inginkan. Sehingga kita menjadi tuan dari diri kita, bukan budaknya.

Fokus: Rahasia Keunggulan

“If you want to be happy, do not dwell in the past, do not worry about the future, focus on living fully in the present.”
― Roy T. Bennett

Fokus adalah rahasia keunggulan. Hampir semua orang yang sukses di bidangnya memiliki kemampuan untuk fokus. Fokus berarti memberikan atensi penuh pada satu hal dan mengabaikan gangguan di sekitarnya.

  • Seorang atlit tennis misalnya, mereka perlu memiliki kemampuan untuk hadir utuh di pertandingan. Mengabaikan teriakan-teriakan penonton yang dapat mendistraksi kemampuannya.
  • Seorang penjual yang hebat memiliki kemampuan untuk fokus pada calon pelanggannya saat melakukan presentasi penjualan.
  • Seorang pemimpin bisnis, perlu kemampuan untuk fokus pada dinamika perubahan yang terkait dengan industrinya. Sehingga ia bisa beradaptasi dan mengambil keputusan strategis yang tepat.

fokus-rahasia-keunggulan

Fokus, adalah keterampilan yang jarang dimiliki manusia di era ini. Di era yang penuh distraksi dan banjir informasi seperti ini, attention span manusia menjadi sangat pendek. Mereka dengan mudah teralihkan perhatiannya. Oleh sosmed, gadget dan sebagainya. Sekali lagi, fokus menjadi keterampilan penting di era yang penuh distraksi dan banjir informasi seperti saat ini.

Jika dilihat dari ilmu neurologi, kemampuan fokus terkait dengan fungsi PFC (Pre-Frontal Cortex). PFC adalah CEO dari otak kita. Berfungsi tidak hanya mengatur atensi, namun juga mengambil keputusan, mengelola willpower, juga membedakan baik dan buruk. Tidak heran, bila kemampuan fokus seseorang berkorelasi positif dengan kemampuan-kemampuan ini. Semakin terampil seseorang untuk mengelola atensi/fokus-nya semakin terampil ia mengambil keputusan, mengelola willpower, dan membedakan baik dan buruk. Secara ringkas, fokus membuat seseorang mampu menuntaskan apa yang sudah dimulainya.

Daniel Goleman, dalam bukunya FOCUS: The Hidden Driver of Excellence, menyebutkan ada tiga area fokus.

Pertama, inner focus.

Kemampuan seseorang mengenali pikiran, perasaan dan tubuhnya sendiri. Istilah lainnya adalah Self-Awareness (kesadaran diri). Ini merupakan kunci untuk Self-Regulation, Self-Management, dan Self-Control (pengaturan, pengelolaan, dan pengendalian diri). Kita dapat melatih inner focus dengan banyak hal. Misalnya: meditasi, zhan zhuang, tai chi, sholat khusyu, atau mempraktikkan mindfulness. Tidak heran bila ada sebuah ayat menjelaskan bahwa shalat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar (Al Ankabut: 45). Secara sains, shalat (yang khusyu) melatih Self-Awareness dan Self-Awareness meningkatkan kemampuan Self-Control.

Sementara jika ditilik dari kacamata NLP, kita dapat melatih inner focus dengan melatih internal sensory acuity. Di kelas NLP Essential, Anda akan belajar banyak tentang hal ini.

Kedua, other focus.

Kemampuan seseorang mengenali pikiran dan perasaan orang lain. Ini adalah dasar dari empati dan rapport. Ada tiga area dari other focus:

  • Cognitive empathy: berpikir dari sudut pandang orang lain.
  • Emotional empathy: merasakan apa yang dirasakan orang lain.
  • Emphatic concern: kepedulian dan rasa welas asih terhadap orang lain.

Bila dilihat dari kacamata NLP, kita dapat melatih other focus dengan melatih external sensory acuity dan callibration.

Ketiga, outer focus.

Kemampuan seseorang mengenali pola dalam kekacauan dan kesadaran terhadap sistem yang lebih luas. Saya berpendapat, kesadaran terhadap ekologi dan Neuro-Logical Level dalam NLP dapat digunakan untuk melatih outer focus ini.

Maka, bila kita ingin menjadi seorang leader yang efektif, mau tidak mau kita perlu melatih tiga macam fokus ini: inner, other, dan outer. Dari ketiga macam fokus ini, mana yang Anda rasa masih kurang tajam? Lalu bagaimana Anda akan melatihnya?