Fleksibilitas

Anthony Robbins – promotor awal NLP sekaligus motivator nomor 1 dunia – mengajarkan kita empat langkah untuk mencapai apapun dalam hidup:

Pertama, ketahui dengan detil apa yang Anda inginkan.

Kedua, bertindak.

Ketiga, peka dan monitor hasilnya.

Keempat, jika diperlukan ubah perilaku Anda sampai tujuan Anda terwujud.

Seorang motivator pernah berkata: “tujuan yang jelas dan fleksibilitas dalam mencapainya adalah dua alat utama untuk sukses.” Sayangnya, sebagian besar manusia memiliki kecenderungan untuk persisten/tekun. Saat mereka melakukan sesuatu dan belum berhasil, mereka cenderung untuk mengulangi cara yang sama dengan lebih keras, lebih lama, dan lebih sering. Ketika seorang anak tidak memahami sebuah pelajaran, orangtuanya seringkali meneriakkan kalimat yang sama berulang-ulang daripada mencoba dengan satu kalimat baru lainnya. Dan ketika sebuah hukuman tidak mengubah perilaku seseorang, kesimpulan yang seringkali muncul adalah hukuman tersebut tidak mencukupi, sehingga kita perlu meningkatkannya.

Bagaimana jika kita mulai berpikir, bahwa ketika satu cara belum membuahkan hasil, inilah saatnya mencoba cara lain. Ketika satu cara tidak berhasil, maka cara yang berbeda memiliki peluang keberhasilan yang lebih besar dibandingkan dengan cara yang sama.

“Cukuplah disebut sebagai orang gila, seseorang yang mengulang-ulang cara yang sama dan berharap mendapatkan hasil yang berbeda.” – Albert Einstein

Dua Dunia

Dunia luar Anda adalah cermin dari dunia dalam Anda. ~ Brian Tracy

Kita hidup di dua dunia: dunia luar (realita eksternal) dan dunia dalam (realita internal). Dunia luar adalah apapun yang terlihat dari diri kita sedangkan dunia dalam adalah apapun yang tidak terlihat dari diri kita. Keadaan fisik, hubungan sosial, kondisi keuangan dan karir adalah contoh dari dunia luar kita – mereka terlihat dengan jelas. Pola pikir, nilai-nilai, keyakinan, dan emosi adalah bagian dari dunia dalam kita – mereka tidak terlihat. Namun sadarkah Anda bahwa apa yang tak terlihat ini menentukan apa yang terlihat? Ini adalah satu hal yang tidak dipahami oleh banyak orang: dunia dalam kita menentukan dunia luar kita, kita hidup dalam dunia yang kita ciptakan sendiri.

Hidup itu seperti bertani, kita mendapatkan apa yang kita tanam selama ini. Jika kita menanam padi, maka kita akan memanen padi. Jika kita menanam apel, maka kita akan memanen apel. Dan jika kita menanam anggur, maka kita pun akan memanen anggur. Tidaklah mungkin, jika benih yang kita tanam adalah apel dan kita berharap untuk memanen anggur. Dunia luar ibarat buah, sedangkan dunia dalam ibarat benihnya. Maka, jika Anda menginginkan buah yang baik, tanamlah benih yang baik. Jika Anda menginginkan kehidupan yang berlimpah, mulailah dengan menanam mentalitas keberlimpahan dalam diri Anda. Dan jika Anda menginginkan kehidupan yang bahagia, mulailah menanam benih-benih bahagia dalam pikiran Anda.

Tapi, bagaimana logikanya? Bagaimana mungkin mengubah dunia dalam akan mengubah dunia luar kita? Sebenarnya logikanya sederhana. Seseorang dengan pikiran dan perasaan yang terkelola baik berpotensi menghasilkan keputusan-keputusan dan tindakan yang baik. Keputusan dan tindakan yang baik berpotensi menghasilkan hasil-hasil yang baik. Anda sepakat bukan?

“Tanamlah pikiran, tuailah perbuatan. 

Tanamlah perbuatan, tuailah kebiasaan. 

Tanamlah kebiasaan, tuailah karakter. 

Tanamlah karakter, tuailah nasib.”

“Peta” dalam Otak Anda

Peta adalah alat untuk memandu Anda mencapai tujuan. Jika Anda belum pernah ke Bandung, tentu sangatlah bijak jika Anda membawa peta Bandung. Peta ini akan memandu Anda mengambil keputusan dan menentukan arah. Saat Anda bingung di sebuah persimpangan, peta akan memandu Anda arah mana yang perlu Anda ambil. Peta memandu perilaku Anda.

Kita pun akhirnya sangat percaya dan bergantung pada peta. It’s OK jika peta yang kita bawa adalah peta ter up to date. Namun, bukankah akan menjadi masalah jika ternyata peta yang kita bawa adalah peta yang out to date? Jalan-jalan di Bandung di tahun 2012 menggunakan peta keluaran tahun 1912 tentu akan membuat kita tersesat, bingung, dan stress! Maka, pastikan peta yang Anda gunakan adalah peta keluaran terbaru yang up to date.

Menariknya, manusia pun memiliki “peta” di dalam otaknya. “Peta” ini memandu perilaku seseorang dalam menghadapi sebuah situasi. Persis, seperti peta kota, jika “peta” dalam pikiran kita out to date, tentu kita menjadi sangat tidak efektif dalam merespon sebuah situasi.

Mari kita lihat contoh “peta” seorang orangtua dalam konteks mendidik anak misalnya. Mendidik anak jaman sekarang tentu berbeda caranya dengan mendidik anak di tahun 70-an. Namun, sadarkah Anda, seringkali cara kita mendidik anak biasanya sama dengan cara orangtua kita mendidik kita? Bukankah itu artinya kita menggunakan “peta” lama dalam mendidik anak? OK, memang betul ada bagian-bagian dari “peta” lama kita yang masih relevan, namun kita juga perlu menyadari ada pula bagian dari “peta” tersebut yang perlu di update.

“Peta” dalam pikiran kita ini adalah akumulasi pengalaman (dari apa yang kita lihat, dengar, dan alami sejak lahir) serta akumulasi pengetahuan yang kita miliki. Tidak semua pengalaman dan pengetahuan kita bersifat konstruktif (membangun) dan memberdayakan. Maka, adakalanya kita perlu menguji “peta” yang kita miliki dengan sebuah pertanyaan: “Apakah ‘peta’saya membuat saya berdaya dalam mencapai tujuan saya, atau justru membuat saya tak berdaya?” Pertahankan jika “peta” Anda membuat Anda berdaya. Dan update dengan yang baru jika “peta” Anda membuat Anda tak berdaya.

“If your belief serve you, promote it. If don’t, fire it!”