Enam Level Perubahan

“Masalah tidak akan terselesaikan jika Anda berpikir di level yang sama saat masalah itu tercipta” ~ Einstein

Setiap orang, saya dan Anda, kita semua pasti ingin kehidupannya berubah. Maka kita pun mencari berbagai metode perubahan: membaca berbagai buku, mengikuti berbagai seminar, mendengarkan ceramah-ceramah dari guru-guru sukses. Namun, mengapa seringkali perubahan yang kita lakukan tidak permanen? Mengapa kita hanya termotivasi 1-2 hari setelah seminar dan setelah itu motivasi kita menghilang?

Sumber: http://www.flickr.com/photos/celestinechua/
Sumber: http://www.flickr.com/photos/celestinechua/

Beberapa waktu yang lalu saya membaca buku Modelling with NLP-nya Robert Dilts. Dilts menjawab pertanyaan di atas dengan sebuah model yang disebut Neuro-Logical Level. Saya menyebutnya dengan Enam Level Perubahan. Model ini mengasumsikan bahwa setiap perubahan terjadi di level yang berbeda. Semakin tinggi level perubahan terjadi, semakin permanenlah perubahan tersebut.

Neuro-Logical Level
Neuro-Logical Level

Level pertama adalah perubahan di level lingkungan. Perilaku seseorang di masjid dengan di mall mungkin berbeda. Perilaku seseorang di kantor dengan di rumah juga mungkin berbeda. Seorang bos yang lembut di kantornya, mungkin justru keras di rumahnya. Banyak orang berubah saat lingkungannya berubah. Tentu saja perubahan di level ini hanya bersifat sementara. Namun, meskipun sementara, perubahan di level ini adalah langkah awal yang baik untuk melakukan perubahan di level-level berikutnya.

Level kedua adalah perubahan di level perilaku. Anda membaca buku How to become your own CEO lalu Anda pun mengubah penampilan Anda, gaya bicara Anda, cara berjalan Anda. Anda nampak lebih bersemangat dan termotivasi. Namun, tidak sampai satu bulan, Anda pun kembali ke perilaku asal Anda. Perubahan Anda belum nyata. Anda baru berperilaku seperti CEO namun Anda belum memiliki kapabilitas yang cukup untuk tetap berperilaku seperti CEO. Perubahan yang Anda lakukan baru di level perilaku.

Level ketiga adalah perubahan di level kapabilitas (kemampuan). Jika Anda ingin menjadi seorang sales person yang hebat, Anda perlu menguasai berbagai keterampilan penjualan. Dengan kemampuan ini Anda akan mampu melakukan  penjualan secara konsisten dan efektif.

Tapi pak, teman saya sudah menguasai berbagai keterampilan penjualan tapi kok masih belum menunjukkan prestasi sebagai seorang sales person yang hebat? Hmm, Apa yang terjadi di sini? Mungkin dia tidak yakin bahwa keterampilan yang dia kuasai akan bekerja efektif di lapangan. Atau mungkin dia menganggap bahwa pekerjaan menjual adalah pekerjaan yang tidak bernilai. Perubahan yang terjadi baru di level kapabilitas, sementara level di atasnya: keyakinan dan nilai belum berubah.

Level keempat adalah perubahan di level keyakinan dan nilai (belief and value). Keyakinan adalah apa yang Anda anggap baik dan benar, sedangkan nilai adalah apa yang Anda anggap penting. Di level ini, bukan hanya perilaku dan kapabilitas Anda yang berubah, namun juga keyakinan dan nilai yang menyokong kapabilitas dan perilaku tersebut. Anda tidak hanya menguasai pengetahuan dan keterampilan untuk berubah, namun juga Anda memiliki keyakinan dan nilai yang mendukung perubahan tersebut. Beberapa perubahan cukup dilakukan di level ini, beberapa yang lain memerlukan perubahan di level yang lebih tinggi. Jika keyakinan dan nilai Anda tidak selaras dengan tujuan Anda, maka perubahan akan menjadi tidak efektif. Beberapa mengistilahkan permasalahan di level ini sebagai mental block.

Level ke lima adalah perubahan di level identitas. Kumpulan dari berbagai keyakinan dan nilai yang Anda miliki menjadi identitas diri Anda. Dr. Maxwell Maltz dalam buku Psychocybernetics menyatakan bahwa identitas (konsep diri; citra diri; self-image) adalah kunci untuk  mencapai tujuan Anda. Bila Anda ingin mewujudkan tujuan Anda dengan cepat, Anda perlu menyelaraskan identitas Anda, konsep diri Anda dengan tujuan Anda.

Level keenam adalah perubahan di level spiritual. Perubahan di level makna. Perubahan di level panggilan jiwa. Perubahan di level misi hidup. Ini adalah level perubahan tertinggi. Saat seseorang memiliki misi kehidupan yang jelas, maka seluruh level di bawahnya akan berubah dan menyesuaikan diri. Temukan misi Anda, temukan jatidiri Anda, dan Anda menemukan kekuatan diri Anda yang sebenarnya.

Perubahan yang permanen adalah perubahan di semua level. Perubahan yang permanen adalah ketika enam level perubahan berjalan seiring dan selaras. Anda dapat memulainya dari level mana saja yang paling memungkinkan bagi Anda. Lalu, mulailah menyelaraskan level-level lainnya satu demi satu.

“Jika Anda serius mengubah hidup Anda, seriuslah mengubah semua yang mengelilingi Anda.” ~ Andrew Matthews

Ingin diskusi lebih lanjut? Add pin BB saya 28c03c33 atau ikuti twitter saya.

Cara Merebut Perhatian

“Orang tidak menaruh perhatian pada hal-hal membosankan” ~ John Medina

Semua orang ingin diperhatikan. Ketika mengajar, guru ingin diperhatikan. Ketika melakukan presentasi, seorang penjual ingin diperhatikan. Ketika berbicara pada anaknya, para orangtua ingin diperhatikan.

Ketika berkomunikasi, semua orang ingin diperhatikan. Tujuannya sederhana, jika orang lain memperhatikan kita, mereka akan mengingat pesan kita. Ingat: kita hanya mengingat hal-hal yang kita perhatikan. Pertanyaannya, bagaimana cara menarik perhatian orang lain agar mereka mengingat pesan kita?

Secara psikologis, manusia hanya memperhatikan hal-hal yang diminatinya dan dianggap penting olehnya. Maka, agar kita diperhatikan oleh orang lain, kita perlu membungkus pesan kita dalam kepentingan dan minat orang yang kita ajak bicara.

Berdasarkan apa yang disampaikan oleh Prof. John Medina di buku Brain Rules, saya menyimpulkan empat hal yang dapat kita lakukan agar orang lain memperhatikan pesan kita.

  • Pertama, sampaikan gambaran umum (general) yang bermakna sebelum Anda menyampaikan detilnya. Detil itu kadang membosankan. Anda perlu berikan gambaran umum, tujuan, dan manfaat bagi mereka terlebih dahulu. Hal-hal ini membuat orang lain berminat terhadap pesan Anda.
  • Kedua, pecah pesan yang kompleks menjadi beberapa segmen (bagian). Otak adalah pengolah sekuensial. Ia tidak dapat memberikan perhatian pada dua hal bersamaan.
  • Ketiga, lakukan jeda di antara segmen. Otak manusia membutuhkan istirahat untuk memproses informasi. Jeda membuat otak lebih mudah memproses informasi. Dan ingat, tambahkan gambaran umum, kesimpulan dan penghubung di tiap segmen yang Anda sampaikan.
  • Keempat, libatkan emosi. Libatkan ketegangan, rasa takut, tertawa, kebahagiaan, nostalgia, ketakjuban, rasa penasaran dengan kadar secukupnya dalam pesan yang Anda sampaikan.

Jadi, entah Anda adalah guru, penjual, atau orangtua, manfaatkan empat hal di atas untuk menyampaikan pesan Anda.

“Audiens pergi setelah 10 menit, tapi Anda dapat terus menahan mereka dengan menuturkan cerita atau menciptakan peristiwa-peristiwa kaya emosi” ~ John Medina

Mau ngobrol dan diskusi via twitter? Follow http://twitter.com/darmawanaji