Rantai Gajah

rantai gajah

Pernah melihat gajah di kebun binatang? Mereka dirantai dan rantainya disambung ke sebuah pasak. Tujuannya sederhana saja, supaya gajah itu tidak pergi kemana-mana.

Menariknya jika kita amati, pasak yang digunakan untuk manahan gajah itu biasanya berukuran kecil – tidak seimbang dengan besarnya gajah. Bahkan jika gajah itu memberontak, saya yakin pasak itu akan jebol dengan mudah. Akan tetapi, kenapa gajah itu seakan-akan pasrah dengan kondisinya?

Kisah sebenarnya dimulai ketika gajah itu masih kecil… Dulu, waktu sang gajah masih kecil ia dirantai dengan rantai dan pasak yang seimbang dengan ukurannya. Sang gajah kecil pun tentu merasa tidak nyaman, ia memberontak berusaha melepaskan rantai dan pasak yang membelenggunya. Tapi apa dikata, rantai dan pasak itu terlalu kuat baginya. Sekuat apapun gajah itu berusaha memberontak, rantai dan pasak itu tak bergeming sedikitpun. Usahanya seakan-akan sia-sia. Sampai akhirnya dia meyakini dalam hatinya: “Percuma saja aku mencoba, sekuat apapun aku mencoba aku tak akan mampu bebas dari rantai ini. Sampai kapanpun aku tak akan mampu bebas dari rantai ini” Sang gajah kecil lalu menyerah dengan kondisinya.

Hari demi hari pun berlalu, gajah kecil kini telah menjadi dewasa. Ukuran badannya pun sudah jauh lebih besar dibandingkan dulu. Badannya boleh membesar, umurnya boleh makin dewasa, namun keyakinanya terhadap rantai itu masih sekecil dulu. Meskipun sang pawang gajah tak pernah mengganti rantai dan pasak kecil yang digunakannya dulu, sang gajah masih meyakini bahwa sampai kapanpun dia tak akan mampu bebas dari rantai yang membelenggunya. Padahal dengan potensi kekuatannya saat ini, ia sebenarnya sangat mampu membebaskan dirinya. Gajah itu terbelenggu, bukan terbelenggu oleh rantainya, namun terbelenggu oleh pikirannya sendiri sehingga ia tak mampu membebaskan potensinya sendiri. Bagaimana dengan kita kawan?

Follow kicauan saya di @darmawanaji

Resep Kesuksesan

pancake

Minggu lalu, saya dan istri kepikiran untuk membuat pancake. Kami pun mulai tanya ke Om Googgle dan mendapatkan puluhan resep pancake. Lalu, percobaan segera dimulai. Kami mengikuti langkah demi langkah yang disarankan oleh resep tersebut. Hasilnya? Pancake yang kami buat “bantat” 😀

Saya dan istri penasaran, kok bisa ya jadi bantat? Apa yang berbeda antara praktek dengan teori yang tercantum di resep? Karena penasaran, kami pun melakukan percobaan kedua… jreng jreng… hasilnya pancake-nya masih “bantat” juga! Akhirnya, pada percobaan ke empat pancake buatan kami mulai menunjukkan bentuk pancake yang sebenarnya: empuk 🙂

Apa yang saya dan istri lakukan dalam membuat pancake adalah proses trial and learn (saya lebih suka menyebutnya demikian, alih-alih menyebutnya dengan trial and error). Setelah mendapatkan resep, kami langsung praktek, dan belajar dari “kegagalan” sebelumnya. Mungkin ceritanya menjadi berbeda jika kami menghubungi seorang ahli pancake. Saya bisa minta dia membimbing kami langkah demi langkah, sehingga “kegagalan” yang terjadi dapat diminimalisir.

resep kesuksesanKejadian ini mirip dengan yang saya alami di masa lalu. Dulu, saya hobi sekali mencari resep kesuksesan dari buku-buku (sampai sekarang juga masih 🙂 ). Pada waktu itu, saya menganggap bahwa dengan mendapatkan resep sukses dari buku itu sudah cukup. Hasilnya, hampir selama 7 tahun saya bergulat dengan diri sendiri. Bisnis yang saya bangun pun tak kunjung berkembang dan utang semakin menumpuk. Bahkan pada masa itu, hubungan saya dengan istri menjadi agak kurang baik karena saya cepat sekali tersinggung setiap istri saya menyinggung masalah uang.

Sampai akhirnya di tahun 2008 saya bertemu dengan seseorang yang bersedia membimbing saya. Alhamdulillah, kehidupan saya semakin membaik. Saya tidak tahu kenapa bisa seperti itu. Padahal kalau dipikir-pikir, apa yang diajarkan mentor saya ini hampir semuanya sudah saya pahami dari buku-buku yang saya baca. Mungkin, inilah yang dimaksud oleh para sufi ketika mengatakan: “Barangsiapa hanya belajar ilmu dari kitab-kitab dan tanpa guru, maka gurunya adalah setan”  Saya tidak tahu. Namun yang jelas, sejak saat itu saya mulai berburu guru, mentor, coach, apapun namanya. Walhamdulillah, saya merasakan percepatan diri yang luar biasa dalam berbagai sisi. Akhirnya saya memahami maksud dari pepatah Jepang:

”Sehari bersama guru yang hebat lebih baik daripada ribuan hari belajar sendiri.” 

Bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda menemukan guru  (mentor/coach) yang akan membimbing Anda menemukan jalan Anda?

Langkah Pertama Mendapatkan Apapun Yang Anda Inginkan

Wah, ndak terasa sudah hampir tiga bulan saya ndak update blog. Buat temen-temen yang rajin berkunjung, mohon maaf belum dapat memuaskan dengan artikel-artikel yang reguler. Terima kasih, karena alhamdulillah meskipun ndak update artikel, kunjungan ke blog ini masih lebih dari seribu kunjungan per bulan.

Kali ini, saya ingin share tentang langkah pertama mendapatkan apapun yang kita inginkan dalam hidup. Kira-kira, apa ya langkah pertamanya? Hmm, jawabannya sangat sederhana, langkah pertamanya adalah menentukan dengan jelas apa yang kita inginkan.

Yups, banyak orang tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan bukan karena mereka tidak tahu cara mencapainya. Akan tetapi karena mereka tidak tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan. Maka, langkah pertama mendapatkan apa yang Anda inginkan sangatlah sederhana: tentukan dengan jelas apa yang Anda inginkan.

Nah, agar apa yang kita inginkan menjadi jelas ada tiga hal yang perlu kita perhatikan.

  • Pertama, pastikan Anda menuliskannya. Saat Anda menuliskannya Anda akan tahu apakah keinginan Anda sudah jelas atau masih kabur.
  • Kedua, pastikan Anda menuliskannya dalam kalimat yang positif bukan kalimat negasi. Kalimat negasi membuat keinginan Anda tidak jelas. Misalkan, sebuah tim sepakbola punya keinginan untuk tidak kalah dalam pertandingan. Apakah ini jelas? tentu saja tidak, tidak kalah belum tentu menang, bisa saja seri. Maka, agar jelas kenapa tidak dibuat positif: menang dengan skor 3-1 misalnya. Demikian pula dengan keinginan-keinginan kita: tidak ingin miskin, tidak gemuk, tidak sakit semua ini belum jelas Anda perlu menuliskannya dalam kalimat yang positif.
  • Ketiga, Anda perlu menuliskannya sedetil mungkin, sesepesifik mungkin. Semakin spesifik, semakin mudah benak Anda membayangkannya. Semakin detil, semakin mudah otak Anda menentukan rencana untuk mencapainya.

Tiga hal di ataslah yang akan membuat keinginan Anda menjadi lebih jelas. Ayo, sekarang ambil pensil dan tuliskan keinginan Anda dengan jelas. Selamat merancang tujuan.