Agar Uang Mengejar Kita (Seri 2)

Setelah Anda memiliki nilai tambah, maka langkah berikutnya adalah memberikan Daya Ungkit pada Nilat Tambah Anda dengan cara mengkomunikasikan nilai tambah Anda. Komunikasikan nilai tambah Anda pada orang yang tepat, dalam jumlah yang banyak, dengan cara yang tepat. Nilai tambah yang Anda miliki tidak akan berubah menjadi uang jika tidak ada transaksi. Transaksi tidak akan terjadi jika orang lain tidak tahu nilai tambah apa yang Anda miliki.

agar-uang-mengejar-kita-seri-2.jpg

Jadi, bagaimana Anda akan mengkomunikasikan nilai tambah Anda? Saluran komunikasi apa saja yang akan Anda pakai? Siapa saja yang akan Anda libatkan untuk mengkomunikasikan nilai tambah Anda?

Jika kita sudah memiliki Nilai Tambah dan Daya Ungkit, maka kita tidak akan khawatir kehilangan pekerjaan atau kehilangan project. Karena kita seperti magnet memiliki DAYA MAGNET untuk menarik orang-orang yang memerlukan nilai tambah yang kita miliki.

Bila kita ibaratkan uang itu seperti kupu-kupu. Maka pekerjaan atau project itu ibarat jaringnya. Menariknya, dalam menjaring kupu-kupu orang-orang terkaya di dunia tidak fokus pada jaringnya. Mereka fokus membangun taman bunga yang akan menarik lebih banyak kupu-kupu untuk mendatanginya. Taman Bunga tersebut adalah nilai tambah dan daya ungkit yang kita miliki.

Maka yang namanya kemakmuran tidak diukur dari berapa uang yang Anda hasilkan, namun apa yang tersisa pada diri Anda ketika semua uang hilang dari diri Anda. Kemampuan “menciptakan” uang dari tidak ada menjadi ada, itulah kemakmuran yang sejati. Bila seluruh uang dan harta yang Anda miliki hilang, apa yang akan Anda lakukan untuk menghasilkan uang?

Fokus pada menciptakan nilai dan memanfaatkan daya ungkit maka uang akan mengejar Anda.

Agar Uang Mengejar Kita (Seri 1)

Uang.

Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar kata ini?

Apa perasaan Anda saat mendengar kata ini?

Apa yang Anda pikirkan dan rasakan saat mendengar kata uang bergantung pada definisi atau makna yang Anda berikan pada kata “uang”

Apakah uang itu baik atau uang itu jahat? Itu semua bergantung pada pemaknaan Anda.

Sumber gambar: www.flickr.com
Sumber gambar: www.flickr.com

Saya sendiri cenderung tidak mengkategorikan uang sebagai hal yang baik atau hal yang jahat. Saya menganggap uang itu sebagai sesuatu yang netral. Ia bisa menjadi baik atau buruk tergantung penggunanya. Ya, uang itu hanyalah alat. Sebuah alat dapat digunakan di jalan kebaikan atau kejahatan tergantung penggunanya.

Saya mendefinisikan uang sebagai alat tukar nilai tambah. Nilai tambah artinya manfaat unik yang dapat kita berikan ke orang lain. Misalnya begini, Pak Joni punya anak yang kurang pandai matematika, ia membutuhkan seorang guru les matematika. Sementara pak Thoha menguasai matematika dan mampu mengajarkannya dengan mudah dan menyenangkan pada anak-anak. Di mata Pak Joni, Pak Thoha memiliki nilai tambah. Dalam situasi seperti ini, Pak Joni akan bersedia menukarkan uang yang ia miliki dengan nilai tambah yang dimiliki Pak Thoha. Maka, rumus pertama agar uang mendatangi kita adalah kita perlu memiliki nilai tambah entah dengan menciptakannya atau mencarinya.

Kriteria nilai tambah yang ideal adalah:

  • Clarity: apa manfaat yang Anda berikan dan untuk siapa.
  • Differentiation: apa bedanya dengan manfaat sejenis yang diberikan orang lain.
  • Evidence: apa buktinya bahwa Anda mampu men-deliver manfaat di atas.

Semakin banyak Anda memberikan nilai tambah Anda pada orang lain, semakin besar pula uang yang Anda hasilkan. Semakin sulit tergantikan nilai tambah yang Anda miliki, semakin besar uang yang Anda hasilkan.

Jadi, Nilai Tambah apa yang Anda sudah miliki? dan bagaimana Anda akan memastikan agar nilai tambah yang Anda miliki memenuhi kriteria di atas?

4 Penghalang Komunikasi

Memahami orang lain adalah kunci hubungan saling percaya. Menariknya, kita memahami orang lain tidak seperti mereka apa adanya. Kita memahami orang lain menurut persepsi dan kesimpulan kita. Setahu saya, Andi itu orangnya begini begitu. Apakah kenyataannya Andi memang begini begitu atau tidak, kita tidak tahu. Kita melihat orang lain berdasarkan label-label yang kita pasang pada diri mereka. Kita membuat kesimpulan berdasarkan pengalaman kita masing-masing.

Sumber gambar: www.spring.org.uk
Sumber gambar: www.spring.org.uk

 

Saat kita berhubungan orang lain, seringkali kita menempatkan cermin diantara kita dengan mereka. Cermin ini membuat kita melihat orang lain menurut persepsi kita, cermin ini menjadi “penghalang” bagi kita untuk memahami mereka apa adanya.  Bila kita ingin berkomunikasi dan membanguin hubungan lebih baik dengan orang lain, ada baiknya kita mengganti cermin tersebut dengan jendela.

Terkait dengan penghalang di atas. Menurut John C. Maxwell, ada empat penghalang utama dalam memahami orang lain.

  1. Asumsi “Saya sudah tahu apa yang diketahui, dirasakan, dan diinginkan orang lain.”
  2. Arogansi: “Saya tidak perlu tahu apa yang diketahui, dirasakan, dan diinginkan orang lain.”
  3. Ketidakpedulian: “Saya tidak peduli terhadap apa yang diketahui, dirasakan, dan diinginkan orang lain.”
  4. Kontrol: “Saya tidak ingin orang lain tahu apa yang saya ketahui, rasakan, atau inginkan.”

Empat hal di atas akan menghalangi Anda untuk memahami orang lain secara lebih baik. Sebaliknya Anda perlu membiasakan empat pertanyaan pada diri sendiri sebagai berikut.

  1. Bertanyalah, “Apakah saya merasakan apa yang Anda rasakan?” sebelum, “apakah Anda merasakan apa yang saya rasakan?”
  2. Bertanyalah, “Apakah saya melihat apa yang Anda lihat?” sebelum, “Apakah Anda melihat apa yang saya lihat?”
  3. Bertanyalah, “Apakah saya mengetahui apa yang Anda ketahui?” sebelum, “Apakah Anda mengetahui apa yang saya ketahui?”
  4. Bertanyalah, “Apakah saya memahami apa yang Anda inginkan?” sebelum, “Apakah Anda memahami apa yang saya inginkan?”

Maka sekarang, sudahkah Anda siap menggunakan jendela saat berhubungan dengan orang lain?

“Ada perbedaan besar antara mengetahui dan memahami. Anda dapat tahu banyak tentang sesuatu namun Anda belum tentu benar-benar memahaminya.” Charles F. Kettering