Rahasia Mencetak Omset Milyaran: Insight dari workshop Pak Laksita Utama Suhud

Pak Laksita Utama Suhud adalah CEO Balai Kartini, beliau berpengalaman mencetak omset milyaran di berbagai bisnis yang pernah dipegangnya. Mulai dari ekspor furniture, memegang obyek wisata Taman Safari sampai gedung pertemuan sebesar Balai Kartini.

Sabtu kemarin saya diberi kesempatan untuk menghadiri workshop beliau di Bandung yang diselenggarakan oleh KREASINERGI EO. Di workshop ini Pak Laksita membagikan strategi Marketing Gerilya untuk mencetak omset milyaran yang telah terbukti sukses diterapkannya pada berbagai bisnis. Berikut adalah beberapa insight yang saya dapatkan selama workshop tersebut.

courtesy: www.beningphotography.com
courtesy: www.beningphotography.com

Pertama, sebelum mencari cara mencetak omset Milyaran, pertama-tama kita perlu yakin bahwa kita bisa cetak omset Milyaran. Jika kita sendiri tidak yakin, mana mungkin kita bisa menemukan caranya? Maka, pertama kali tanyakan pada diri sendiri: yakin ndak bisa cetak omset milyaran? Teringat kata-kata Henry Ford: “Entah Anda berpikir bisa atau tidak, keduanya benar”.

Kedua, saya ini bukan orang yang pinter marketing, saya ini orang yang ngotot. Kalau satu cara belum berhasil, saya akan ngotot cari cara yang lain sampai target omset yang saya kejar tercapai. Percuma kita pinter marketing tapi tidak ngotot menerapkannya dalam bisnis kita.

Ketiga, jangan seperti ayam mati di lumbung padi. Strategi bagaimana mencetak omset milyaran ada dimana-mana, di buku 10 Greatest Advertising Secrets bahkan sudah dikupas tuntas. Rugi sekali bagi yang sudah punya buku ini namun belum berhasil cetak milyaran (minimal ratusan juta lah).

Keempat, definisikan bisnis Anda. Sejatinya bisnis itu solusi bagi masalah orang lain, maka Anda perlu mendefinisikan bisnis Anda sebagai solusi dari masalah orang lain. Katakanlah Anda memiliki bisnis jasa konsultasi statistik bagi mahasiswa. Apa sebenarnya yang Anda jual? Bagaimana Anda mendefinisikan bisnis Anda? Apa bisnis Anda? Jika Anda menjawab: jualan jasa konsultasi statistik untuk mahasiswa, berapa yang mahasiswa mau bayar untuk layanan ini? Paling antara 300ribu sampai 500 ribu. Jawaban ini belum menjawab pertanyaan inti bisnis Anda. Bagaimana jika Anda menjawab: membantu mahasiswa menyelesaikan skripsi dalam waktu 1 semester atau lebih cepat lagi? Berapa rupiah yang mahasiswa mau bayarkan untuk jasa seperti ini? 3 juta? 5 juta? 10 juta? Mendefinisikan ulang bisnis Anda membuat Anda lebih mudah menemukan klien/pelanggan.

Kelima, gali pilar-pilar pemasukan dari bisnis Anda. Jika bisnis Anda hanya menjual jasa konsultasi statistik, sumber pemasukan Anda hanya satu. Ini berbahaya bagi cashflow bisnis Anda. Berbeda jika bisnis Anda adalah membantu mahasiswa menyelesaikan skripsi dalam waktu 1 semester atau lebih cepat lagi, kira-kira jasa apa saja yang bisa Anda jual? Konsultasi pembuatan outline skripsi? Jasa pengetikan? Pembuatan slide presentasi skripsi? Pelatihan keterampilan presentasi untuk menghadapi sidang skripsi? Kemungkinannya menjadi beragam. Pilar pemasukan Anda lebih dari satu sehingga mampu menopang bisnis Anda.

Keenam, marketer terhebat adalah pelanggan yang puas. Merketer yang terhebat bukanlah kita atau tim kita. Marketer terhebat adalah happy client, klien yang puas. Tantangan pemasaran bukanlah menjual ke klien baru, tantangan pemasaran adalah bagaimana penjualan ke satu klien baru mentrigger ke penjualan-penjualan berikutnya.

Ketujuh, bangun reputasi. Jangan terburu-buru berambisi mendapatkan banyak klien. Bila Anda hanya mendapatkan satu klien, puaskan mereka. Layani dengan pelayanan terbaik. Berikan pelayanan melampaui ekspektasi mereka. Klien yang puas akan memicu referensi dan word of mouth, hasilnya klien-klien baru lainnya akan datang dengan sendirinya. Mas Doddy dari Bening Photography sudah membuktikan hal ini, di workshop ini beliau memaparkan bagaimana kisahnya mendapatkan satu klien Kantor Pajak memicu 23 klien berikutnya dalam waktu kurang dari satu bulan dengan omset lebih dari 1 Milyar!

Jujur, ini hanya sebagian kecil dari insight yang saya dapatkan selama workshop. Karena di workshop ini, pak Laksita juga membahas bagaimana membangun keunggulan bersaing dengan metode Better 5 P, bagaimana melakukan 5 usaha pemasaran untuk memastikan Anda mencetak omset milyaran, mengungkap keajaiban geometrical marketing dan banyak hal bermanfaat lainnya. Bagi rekan-rekan yang belum sempat hadir, jangan khawatir, buku beliau mengupas tuntas strategi ini. Bagi teman-teman yang sudah hadir, jangan seperti ayam yang mati di lumbung padi, kita sudah punya ilmunya, tinggal praktekkan, ngotot cari cara sampai omset yang kita targetkan tercapai.

Apa (Sebenarnya) yang Memotivasi Kita?

Bicara tentang motivasi, apa yang kita ingat? Seminar motivasi? Buku Motivasi? Para Motivator? Apapun itu, setiap kita pasti memiliki gambaran tertentu ketika bicara tentang motivasi. Bicara tentang motivasi selalu menarik, karena hidup kita tak lepas dari memotivasi diri sendiri dan memotivasi orang lain bukan?

sumber gambar: rosalielleda.com
sumber gambar: rosalielleda.com

Termotivasi berarti tergerak untuk melakukan sesuatu. Saya tergerak untuk menulis, itu artinya saya termotivasi. Anda tergerak untuk membaca, itu artinya Anda termotivasi. Kita tergerak untuk menemukan bisnis yang tepat, itu juga artinya termotivasi.

Pertanyaan besarnya, bagaimana caranya diri kita termotivasi melakukan hal-hal yang penting untuk dilakukan? Karena seringkali kita justru termotivasi untuk melakukan hal-hal yang tidak penting untuk dilakukan. Kita mudah termotivasi untuk nonton TV. Sementara itu kita tidak mudah termotivasi untuk mengerjakan laporan. Kita mudah termotivasi untuk jalan-jalan. Namun kita tidak mudah termotivasi untuk berolahraga. Kita mudah termotivasi untuk berbelanja. Namun tidak mudah termotivasi untuk berinvestasi.

Inilah sebabnya, para manajer tertarik mengetahui bagaimana cara memotivasi bawahannya. Para owner tertarik mengetahui bagaimana memotivasi timnya. Para guru tertarik bagaimana memotivasi murid-muridnya. Para orangtua tertarik bagaimana memotivasi anak-anaknya.

Kemudian lahirlah konsep reward and punishment (penghargaan dan hukuman). Dibuatlah sebuah sistem dimana ketika seseorang melakukan apa yang perlu dilakukan, maka ia diberikan reward. Sebaliknya, bila ia tidak melakukan apa yang perlu dilakukan, maka ia diberikan punishment. Maka, dunia bisnis dipenuhi berbagai iming-iming pencapaian dan sanksi. Di sekolah pun sama, murid yang nurut diberi ganjaran positif, murid yang bandel diberikan ganjaran negatif. Pun demikian di rumah, hadiah bagi anak baik, hukuman bagi anak nakal.

Efektifkah hal ini? Ya, hal ini efektif bila dilakukan dengan tepat. Bila tidak dilakukan secara tepat, reward and punishment justru menjadi bumerang. Penerapan reward and punishment yang tidak tepat justru menurunkan motivasi instrinsik, memicu pemikiran jangka pendek bahkan perilaku tak etis demi tercapainya reward yang diharapkan.

Konsep Reward & Punishment mengasumsikan bahwa manusia lebih mudah termotivasi bila ada rangsangan dari luar dalam bentuk yang kongkrit (motivasi ekstrinsik; misalnya: uang, hadiah, jabatan). Asumsi ini menyebabkan sebuah kesimpulan bahwa tanpa rangsangan yang kongkrit, orang tidak akan tergerak untuk melakukan sesuatu. Tentu saja konsep ini kurang lengkap (saya tidak mengatakan tidak tepat, hanya kurang lengkap). Mari kita analisis sama-sama.

Jika konsep bahwa tanpa motivasi ekstrinsik kita tidak akan tergerak melakukan sesuatu bagaimana dengan para relawan yang berkerja 24 jam untuk membantu bencana alam tanpa dibayar? Bagaimana dengan para relawan Indonesia Mengajar yang rela mengajar di pedalaman tanpa dibayar? Bagaimana dengan para kontributor Wikipedia yang menyisihkan waktu puluhan jam per minggu tanpa dibayar? Apakah mereka tidak termotivasi melakukannya? Justru mereka sangat termotivasi bahkan mungkin lebih termotivasi dibandingkan mereka yang dibayar. Mereka semua tergerak melakukan sesuatu bukan karena bayaran atau ganjaran yang terlihat. Mereka termotivasi karena sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang lebih tinggi.

Penasaran dengan hal ini, membuat dua orang psikolog Edward Deci dan Richard Ryan melakukan riset mengenai motivasi instrinsik. Dari riset mereka muncullah konsep Self-Determination Theory, bahwa kita cenderung terdorong oleh kebutuhan untuk tumbuh dan memperoleh pemenuhan (fulfillment). Sehingga, isu-nya bukan sekedar termotivasi mengerjakan apa yang penting dikerjakan, namun juga bahagia dalam mengerjakannya. Lalu, apa yang perlu diperhatikan agar hal ini tercapai? Daniel Pink memaparkan dengan baik dalam bukunya yang berjudul DRIVE. Menurut Pink ada tiga elemen yang perlu diperhatikan agar kita tidak sekedar termotivasi melakukan sesuatu, namun juga bahagia dalam melakukannya.

Elemen Pertama, Autonomy (Otonomi)

Setingan baku kita adalah otonom dan self-directed. Kita tidak begitu suka dikendalikan oleh orang lain. Otonom berbeda dengan freedom. Otonom bukanlah seperti Lone Ranger yang bekerja hanya sendirian, bebas dari orang lain. Otonom terkait dengan kebebasan memilih, artinya kita tetap dapat otonom meskipun kita bekerjasama dengan orang lain bahkan bekerja untuk orang lain. Lawan dari otonomi adalah kendali. Kendali menciptakan kepatuhan, otonomi menciptakan keterlibatan.

Elemen Kedua, Mastery (Penguasaan)

Manusia secara alamiah memiliki kebutuhan untuk menjadi lebih baik dalam hal-hal tertentu yang penting baginya. Inilah mengapa saat kita mengalami kemajuan ketika mempelajari sesuatu kita menjadi bahagia. Begitu pula saat menyelesaikan sebuah tahap dalam pekerjaan kita pun merasa puas. Kemajuan menciptakan kebahagiaan. Meskipun mengejar penguasaan itu menyakitkan dan membutuhkan waktu panjang, namun mereka yang melakukannya tetap menikmatinya.

Elemen Ketiga, Purpose (Tujuan yang Bermakna)

Kita memiliki kecenderungan mencari tujuan yang bermakna. Tujuan yang lebih besar dari diri kita sendiri. Sebuah misi yang membuat kita mau bangun sebelum terbit matahari. Sebuah misi yang mebuat kita sanggup bergadang hingga pagi menjelang. Kontribusi pada orang lain, pada dunia, pada sesuatu yang lebih besar dari dirinya.

Bila tiga elemen di atas diramu dengan baik, kita dapat menumbuhkan motivasi intrinsik diri kita (bahkan orang lain) dengan baik. Sehingga kita termotivasi melakukan hal-hal yang penting untuk dilakukan dan bahagia dalam melakukannya.

Maka:

  • Sudahkan kita mengejar tujuan yang bermakna dalam hidup kita? Tujuan yang lebih besar dari diri kita? Tujuan yang berdampak pada lingkungan kita?
  • Sudahkah kita memiliki keinginan untuk menguasai sebuah keahlian dan menjadi master di bidang tersebut? Sudahkah kita berinvestasi untuk mengasah keahlian kita? Sudahkah apa yang kita lakukan menantang batas kemampuan kita sehingga kita termotivasi untuk meningkatkan kemampuan diri kita?
  • Sudahkan kita mulai melakukan hal-hal yang benar-benar ingin kita lakukan? Dengan cara kita sendiri? Dengan orang-orang yang kita ingin bekerja dengannya?

Dan, insight apa saja yang Anda dapatkan setelah membaca artikel ini?

NB: Untuk teman-teman Coach dan Praktisi NLP, menurut teman-teman, apa kaitan tulisan ini dengan konsep Self-Actualization dan Coaching?