Puisi untuk Ibu

always-love-your-mother

Ibu

Tiba-tiba aku teringat padamu
Wajahmu
Suaramu
Senandungmu
Canda tawamu

Ibu

Aku rindu
Apa kabarmu?
Dapatkah kau mendengarku?
Apakah engkau merindukanku seperti aku merindukanmu?

Ibu

Aku kangen teguranmu
Aku kangen nasihatmu
Aku kangen tangisanmu
Aku kangen marahmu

Ibu

Masihkah engkau mengingatku?
Masih terbayang saat engkau hembuskan nafas terakhir di hadapanku
Masih terasa terakhir kali kugenggam tanganmu
Masih terpikir kebingunganku saat kehilanganmu
Apakah engkau benar-benar telah tiada, atau hanya mimpiku saja?

Ibu

Maafkan aku
Masih banyak hutangku padamu
Masih banyak bakti yg belum kupersembahkan untukmu
Masih banyak rasa cinta yg belum kuungkapkan padamu

Ibu

Aku benar-benar rindu padamu
Saestu ibu, Aji kangen kalih ibu

Allahummaghfirlaha warhamha wa’afiha wa’fu ‘anha…

 

Bandung, 12 April 2016

Semua ada Prosesnya

Seorang sifu memberikan nasehat pada muridnya: “berlatihlah 1 jam sehari dan engkau akan menguasai kungfu ini dalam 2 tahun”

Sang murid bertanya: “Wahai sifu, bagaimana bila aku berlatih 2 jam sehari, apakah aku akan menguasainya lebih cepat?”

Sang sifu menjawab: “Engkau akan menguasainya dalam 4 tahun”

kungfu-shaolin-toya

“Bagaimana jika aku melatihnya 4 jam sehari?” tanya sang murid kembali

“Engkau akan menguasainya dalam 10 tahun…

…muridku engkau tidak akan bisa membuat pohon tumbuh lebih cepat. Ikuti prosesnya, berikan ia waktu untuk bertumbuh, dan engkau akan dapat menikmati buahnya pada waktunya nanti”

Belajar, Berlatih, dan Menerapkan

“Saya sudah pelajari cara membangun rapport dari berbagai buku dan seminar, kenapa kok hasilnya kurang bagus ya?”

“Saya sudah pelajari berbagai teknik questioning untuk menggali kebutuhan klien, kenapa pas ketemu klien susah keluarnya ya?”

“Saya sudah pelajari teknik relaksasi mental, tapi kenapa pas di pertandingan saya tetap tidak bisa rileks?”

Mempelajari sesuatu dan tidak berhasil menerapkannya di dunia nyata memang membuat frustasi. Banyak orang mempelajari puluhan teknik dari berbagai buku dan seminar namun tidak berhasil menerapkannya di dunia nyata. Sampai akhirnya muncul sebuah kesimpulan yang mencerminkan keputusasaan:

“Ah cuma teori”

“Udah, nggak usah banyak-banyak belajar, yang penting praktik”

“Ngapain belajar teknik-teknik seperti itu, toh di lapangan nggak akan kepake”

Dan puluhan excuse lainnya yang menihilkan manfaat mempelajari konsep.

robert downey practicing wing chun

Setelah saya amati (juga selidiki) ternyata ada kesamaan di antara mereka yang gagal menerapkan konsep yang sudah dipelajari. Kesamaannya adalah mereka gagal membedakan antara learning, practicing, dan performing.

Saya membagi proses dari belajar sampai mampu menerapkan di dunia nyata menjadi tiga bab.

Bab Pertama adalah LEARNING (belajar).

Di bab ini kita belajar konsep dan teorinya. Misalnya dengan ikut seminar, membaca buku, atau belajar dari mentor. Di bab ini target kita adalah memahami konsepnya secara sederhana dan jelas. Misalnya, Anda belajar membangun rapport (keakraban hubungan). Di Bab ini Anda belajar berbagai konsep dasarnya: pacing-leading, matching-mirroring dsb. Atau saat Anda ingin menguasai wing chun, pelajari kaidah dan konsep dasar seperti: tenaga siku, konsep segitiga, dua titik satu garis dsb. Di bab ini kita juga dituntut untuk memahami konteks. Kapan konsep ini bermanfaat dan kapan kurang bermanfaat. Kapan efektif, kapan tidak efektif.

Bab Kedua adalah PRACTICING (praktik/berlatih).

Bab praktik adalah tentang latihan mempraktikkan apa yang kita pelajari di bab learning. Di bab ini, kita perlu melakukannya secara sadar. Kapan mau kita praktikkan konsep yang sudah kita pelajari? Ingat jangan langsung mempraktikkan semuanya. Pilih satu bagian dan praktikkan berulang-ulang. Misalnya, berlatih rapport cukup praktikkan mirroring non verbal saja dulu. Atau praktikkan matching pilihan kata (VAK) saja. Praktikkan teknik-teknik ini di situasi nyata yang tidak terlalu krusial. Misalnya saat ngobrol dengan teman, keluarga, atau anak. Sementara dalam konteks berlatih wing chun, di bab ini kita mengulang-ulang sebuah gerakan secara fisik. Menganalisis apakah gerakan kita tepat (sesuai dengan kaidah yang dipelajari) atau tidak. Secara umum, bantuan seorang pelatih di bab ini sangat penting. Mereka dapat memberikan umpan balik yang presisi dan menjelaskan bagian mana dari gerakan kita yang perlu ditingkatkan/diperbaiki. Silakan pelajari konsep tentang DELIBERATE PRACTICE untuk lebih memahami Bab ini.

Bab Ketiga, PERFORMING (menerapkan).

Bab ini adalah bab amal. Bagaimana kita menerapkan hasil latihan kita pada situasi nyata. Baik untuk mendukung performa/kinerja atau menyelesaikan masalah yang ada. Menerapkan rapport misalnya saat berjualan, mempengaruhi orang lain, presentasi dsb. Menerapkan wing chun misalnya saat kondisi kita terancam dan sebaginya. Di bab ini, rumusnya adalah ‘nge-flow’; ‘total’; ‘all in’. Nahkan untuk sementara lupakan teori untuk sementara. Lupakan apakah yang kita lakukan benar atau salah. PERCAYA saja dengan hasil latihan kita sebelumnya.

Nah, yang saya lihat, banyak orang tidak membedakan kapan PRACTICING kapan PERFORMING. Bahkan sebagian besar justru berlatih pada saat harus perform. Akhirnya apa yang dilakukan tidak berhasil dengan baik. Bedakan kapan learning, practicing, dan performing maka kita tidak akan frustasi lagi menerapkan apa yang sudah kita pelajari.