Insight dari Bandung Entrepreneur Day 2016

Ahad yang lalu saya menyempatkan diri untuk mengunjungi event Bandung Entrepreneur Day di Sasana Budaya Ganesha ITB. Event yang diselenggarakan oleh para alumni Grounded Business Coaching-nya Dr. Fahmi ini terbilang sukses. Mengapa saya katakan sukses, setidaknya karena tiga hal.

  • Pertama, acara ini dihadiri oleh lebih dari 500 orang (bahkan mungkin tembus di atas 1000 orang. Maklum saya agak kurang pintar memperkirakan jumlah hehe…).
  • Kedua, berhasil menghadirkan Kang Aher (Gubernur Jawa Barat) dan Kang Emil (Walikota Bandung).
  • Ketiga, materi diisi oleh para praktisi bisnis level nasional seperti teh Sally Giovani (Batik Trusmi), pak Subiyakto (pakar branding) dan pak Laksita Utama Suhud (mantan CEO Balai Kartini, praktisi Guirella Marketing dan penulis buku 10 Greatest Advertising Secrets).

Nah, dalam artikel kali ini saya akan berbagi insight yang didapatkan selama mengikuti event tersebut.

Saya awali dengan insight yang saya dapatkan dari sesi Kang Emil ya…

kang-emil-bandung-entrepreneur-day-2016
Sumber gambar: berita.bandung.go.id

 

Misi kang Emil adalah menciptakan Kota Bandung yang Liveable dan Loveable. Kota yang fungsional dan dicintai. Harapannya beliau dapat meningkatkan indeks kebahagiaan masyarakat Kota Bandung. Untuk menuju ke sana tentu tidak mudah. Ada keterbatasan dari sisi kemampuan dan budaya birokrasi. Untuk itulah dibutuhkan terobosan-terobosan inovatif untuk mewujudkannya. Dengan memanfaatkan inovasi dan teknologi, pelan-pelan misinya terwujud. Konsep beliau adalah menelurkan ide di level lokal, namun berdampak di level global. Berikut sebagian kecil inovasi yang dihasilkan oleh beliau:

  • Revitalisasi taman-taman kota;
  • Pedestrianisasi 12 jalan utama kota Bandung;
  • Control Panel Bandung SmartCity ala Star Trek;
  • Little Bandung Store di Kuala Lumpur dan Bangkok (ciri orang PD menghadapi MEA adalah ofensif, bukannya defensif, kata beliau);
  • Kredit Melati untuk melawan rentenir. Kredit pedagang kecil tanpa bunga;
  • Layanan delivery service untuk pengurusan dokumen kependudukan (akta kelahiran misalnya);
  • Rutin jadi wali nikah warga Kota Bandung dengan hastag #KamuKapan? He he he…

Pesan beliau untuk para entrepreneur, “Fokus ciptakan karya dengan kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas, kerja tuntas, kerja berkualitas!”

Sesi kedua diisi oleh kang Aher, Gubernur Jawa Barat. Gubernur yang ustadz ini mengingatkan kita, kata mabrur tidak hanya diperuntukkan bagi seseorang yang sudah pergi haji. Kata mabrur juga dilekatkan pada pedagang. Pedagang yang mabrur artinya pedagang yang banyak kebaikannya. Beliau mengingatkan, tidak ada larangan kaya dalam agama. Selama kekayaannya diperoleh dengan cara yang baik dan dibelanjakan untuk hal-hal yang baik. Bahkan, dalam do’a sapu jagad yang kita hafal kita diminta untuk berdo’a untuk mendapatkan hasanah fii dunya, menurut sebagian ulama, hasanah fii dunya dapat berarti dua hal: istri cantik yang salihah atau harta yang halal dan melimpah.

Sesi berikutnya adalah sesi yang diisi oleh mbak Sally Giovani, Pak Bi, dan Pak Laksita. Hanya karena artikel ini sudah terlalu panjang, lain waktu saja saya bagikan insight yang saya dapatkan dari mereka bertiga ya. Oya, ini ada insight dari sesi pak Laksita di event lain. Semoga bermanfaat.

Tak Tergantikankah Anda?

Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nations mengatakan, untuk memenangkan bisnis, Anda harus mampu memecah sebuah pekerjaan kompleks menjadi pekerjaan-pekerjaan yang lebih sederhana. Dengan demikian, para pekerja dapat menyelesaikannya cukup dengan mengikuti instruksi yang sederhana. Mesin-mesin pun diciptakan untuk memproduksi barang. Dari sinilah muncul konsep tentang pabrik. Barang-barang dapat diproduksi di pabrik oleh tenaga kerja yang dibayar murah, menyingkirkan para pengrajin terlatih. Revolusi Industri pun lahir.

Setelah 300 tahun, hari ini, Gerber melalui buku E-Myth Revisited-nya, pun mengkhotbahkan hal yang sama. Sistem bisnis yang sempurna adalah sistem yang dapat dijalankan oleh orang-orang dengan keterampilan serendah mungkin. Sehingga bila satu pekerja keluar, ia dapat dengan segera digantikan oleh orang lain. Manusia hanya bekerja seperti robot. Mengikuti serangkaian instruksi (baca: SOP) dan mengabaikan bakat yang dikaruniakan kepadanya. Orang-orang dibayar berdasarkan kepatuhan dan kehadirannya. Bukan berdasar karyanya. Apalagi kreativitas dan ide-idenya.

Untuk memenuhi kebutuhan itu, diciptakanlah “Pabrik Manusia”, sekolah namanya. Sekolah memiliki struktur mirip seperti pabrik: masukan, proses, keluaran. Masukan sekolah adalah anak-anak yang beranekaragam bakat dan potensinya. Dalam prosesnya, mereka disamaratakan. Mereka dituntut untuk melakukan hal yang sama. Dilatih dan diuji dengan cara yang sama. Mereka dilatih untuk patuh, mengikuti instruksi, dan melupakan kreativitas. Keluarannya adalah anak-anak yang lupa bahwa mereka unik. Lupa bahwa mereka berbakat. Lupa bahwa mereka punya potensi yang berbeda-beda.

linchpin

Namun, jaman pun berganti. Era informasi hadir. Internet menjangkau semua orang. Orang-orang berbakat mulai mempertanyakan hal ini: “Apakah aku hanya sekadar robot yang mudah digantikan?”

Gerakan-gerakan perubahan muncul. Intrapreneur dan entrepreneur baru lahir. Pekerja kreatif dengan bangga melahirkan karya. Muncullah profesi-profesi baru: blogger, content creator, product developer, internet marketer, desainer grafis, animator, copywriter dsb. Sistem penilaian karyawan pun mulai diperbaiki, meski belum sempurna. Kini, mereka bukan sekadar dibayar berdasarkan kepatuhan dan kehadirannya, melainkan kreasi dan karyanya. Sekolah mazhab baru pun muncul. Mulai dari homeschooling sampai unschooling. Dari sekolah alam sampai sekolah berbasis potensi daerah. Harapan baru kini muncul.

Orang-orang mulai menyadari bahwa dirinya unik. Bahwa mereka punya potensi yang berbeda-beda. Bahwa mereka tak mudah tergantikan. Mereka adalah para Linchpin, demikian istilah Seth Godin. Linchpin adalah orang-orang yang tak tergantikan. Linchpin bukanlah sekadar orang-orang yang terlatih. Bukan pula sekadar mereka yang berpengetahuan tinggi. Linchpin adalah orang-orang yang menciptakan perbedaan. Mereka memecahkan masalah, mencipta karya, memberikan nilai tambah.

Jika ingin dihargai, jadilah linchpin. Jika ingin dibayar mahal, jadilah linchpin. Jika ingin menciptakan perubahan, jadilah linchpin. Pertanyaannya, apakah Anda seorang Linchpin?

“Life is too short not to do something that matters” ~ Seth Godin

COACH State: 5 Prinsip untuk mengakses Trusting Mindset

Menurut John Eliot, PhD., kita akan mampu menampilkan performance terbaik kita saat kita menggeser proses berpikir kita. Dari TRAINING MINDSET menjadi TRUSTING MINDSET. Training mindset adalah melakukan sesuatu sambil berpikir benar salah. Pikiran kita saat itu menjadi analitis dan kritis. Sehingga kita tidak mampu nge-flow saat melakukan sesuatu. Sebaliknya, Trusting Mindset adalah saat kita melakukan sesuatu sepenuh jiwa. Tanpa takut benar atau salah melakukannya. Kata orang beladiri, saat kita mampu mencapai mushin (Jepang; Tiongkok: wu hsin) atau empty mind. Pada kondisi ini kita akan melakukan sesuatu tanpa beban, tenang dan berhasil memunculkan versi terbaik dari kemampuan kita.

tai_chi_

Dalam pendekatan lain, trusting mindset adalah kondisi saat inner game (pikiran, mood, emosi) kita selaras dengan outer game (skill, perilaku; tindakan) kita. Berdasarkan pengamatan Tim Gallwey selama melatih atlit tennis profesional. Pertandingan yang terjadi di antara atlit level dunia bukanlah beradu outer game melainkan inner game. Siapa yang mampu mengelola inner game-nya ia akan mampu mengeluarkan skill terbaiknya dan memenangkan pertandingan.

Demikian pula mungkin yang terjadi saat dua master beladiri bertemu. Saat mereka saling menempel tangan, maka bukan outer game-nya yang bermain melainkan inner game-nya. Maka tak heran, bila kita belajar beladiri, kita tak hanya diminta untuk melatih fisik kita saja. Kita pun dituntut untuk melatih pikiran kita. Bahkan di beberapa aliran, latihan fisik hanyalah sarana untuk melatih pikiran. Disiplin fisik tanpa disiplin pikiran tidak akan menghasilkan keunggulan.
Beruntung saya bertemu konsep COACH state-nya Stephen Gilligan dan Robert Dilts. Gilligan (yang merupakan praktisi Aikido) mengajarkan konsep ini dalam membantu seorang coach untuk shifting dari training mindset menuju trusting mindset. Menurut Gilligan, seorang coach akan mampu perform dengan baik bila ia mampu mengakses state ini. Sebagai seorang praktisi beladiri kita pun dapat memanfaatkannya saat kita ingin memunculkan skill terbaik kita.
COACH State merupakan sebuah akronim untuk: Centered, Open, Aware, Connected, dan Hold. Dalam beladiri, kita dapat mengakses state ini sebagai berikut.

  • Centered: Kokoh, tenang, rileks, percaya diri, terpusat. Dalam wing chun, ingat dan menjaga center line kita.
  • Open: Terbuka dengan segala kemungkinan. Tidak mengira-ngira atau memprediksi gerakan lawan. Menerima dan me-utilisasi apapun yang terjadi.
  • Aware: Membuka seluruh indera. Melihat, mendengar, dan merasakan gerakan lwab. Memperhatikan dan menandai perubahan-perubahan yang terjadi, sekecil apapun.
  • Connected: Menyatu dengan diri Anda dan menyatu dengan sekeliling Anda. Terhubung dengan lawan. Sehingga kita dapat mengikuti gerakan mereka.
  • Hold: Menjaga jarak dengan emosi kita. Mengenali emosi negatif (ketakutan, ketegangan dsb) yang muncul dan mengarahkannya.

Lawan dari COACH state adalah CRASH state. CRASH state adalah kondisi yang membuat kita tidak optimal dalam mengeksekusi sesuatu.

  • Contracted: Tegang, takut, cemas.
  • Reactive: Reaktif tanpa pertimbangan. Terbawa “permainan” lawan.
  • Analysis into paralysis: Terlalu memikirkan apa yang harus dilakukan.
  • Separating: ‘Terpisah’ dengan sekeliling Anda. ‘Terpisah’ dengan lawan Anda.
  • Hurt: Terbawa emosi negatif (ketakutan, kecemasan, kemarahan). Dikendalikan oleh emosi dan terluka olehnya.

Menarik bukan? Kita dapat memanfaatkan state ini kapanpun kita ingin ‘perform’ lebih baik. Kapanpun kita ingin mengakses ‘Creative Unconsciousness’ kita. Kapanpun saat kita ingin menyelaraskan ‘inner game’ kita dengan ‘outer game’ kita. Entah saat menjual, mengajar, melatih, menari, melukis, bahkan berjurus.