Mari Evaluasi Perjalanan Hidup Kita

Akhir tahun adalah salah satu momen terbaik untuk mengevaluasi perjalanan hidup kita. Menengok sejenak ke belakang untuk melihat sejauh mana pencapaian-pencapaian kita.

Pertanyaan umum untuk setiap area adalah seberapa puas saya terhadap area ini? Jika Anda suka, Anda boleh berikan skor kepuasan antara 1-10 di masing-masing area.

Siapkan kertas dan pensil. Mari sama-sama mengevaluasi diri di berbagai area berikut ini. Anda boleh tambahkan pertanyaan yang relevan menurut Anda.

life-plan-mari-evaluasi-perjalanan-hidup-kita

Pengembangan Diri

Mari kita tengok area pengembangan diri kita sekarang. Lalu jawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini.

  • Buku apa saja yang berhasil Anda selesai baca tahun ini?
  • Kompetensi apa saja yang berhasil Anda kuasai tahun ini?
  • Kebiasaan baru apa saja yang berhasil Anda bentuk tahun ini?

Spiritual

Tengok area spiritual Anda.

  • Seberapa dalam koneksi Anda dengan Allah dalam menjalani berbagai aktivitas di tahun ini?
  • Ibadah apa saja yang dapat Anda andalkan tahun ini?
  • Apa yang ingin Anda tingkatkan di area spiritual Anda?

Fisik/Kesehatan

Lihat area kesehatan Anda.

  • Secara umum, seperti apa kondisi kesehatan dan kebugaran Anda tahun ini?
  • Bagaimana dengan berat badan dan lingkar pinggang Anda?
  • Bagaimana dengan pola makan, olahraga dan istirahat Anda?

Keluarga

Alihkan perhatian Anda ke area keluarga.

  • Sudah optimalkah peran Anda sebagai ayah/ibu/istri/suami di keluarga?
  • Apa yang sudah bagus dan perlu dipertahankan?
  • Apa yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan?

Relasi

Lihat area relasi sosial Anda.

  • Bagaimana hubungan Anda dengan teman-teman Anda?
  • Jejaring profesional apa yang berhasil Anda bentuk tahun ini?

Hubungan-hubungan berharga apa saja yang ingin Anda pertahankan?

Karier/Bisnis

Lihat area karier dan pekerjaan/bisnis Anda.

  • Apa saja pencapaian Anda tahun ini?
  • Nilai tambah apa yang berhasil Anda ciptakan untuk perusahaan?
  • Apa yang perlu Anda perbaiki di area karier/bisnis Anda ini?

Keuangan

Perhatikan area keuangan Anda.

  • Berapa akumulasi penghasilan Anda tahun ini?
  • Kebocoran pengeluaran apa saja yang seharusnya bisa Anda hemat tahuni ini?
  • Bagaimana kondisi utang Anda tahun ini?
  • Aset produktif apa yang berhasil Anda miliki tahun ini?

Hobi/Kesenangan

Di area hobi Anda.

  • Apakah Anda dapat menyalurkan hobi Anda tahun ini?
  • Apakah Anda dapat menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kesenangan?
  • Apa yang perlu dikurangi atau ditingkatkan dari area ini?

Setelah Anda menjawab pertanyaan di 7 Area di atas, bagaimana perasaan Anda? Apakah Anda puas dengan hidup Anda tahun ini? Apa yang bisa Anda pertahankan? Apa yang perlu Anda hilangkan? Apa yang perlu Anda perbaiki? Apa yang bisa Anda tingkatkan?

Saya berharap pertanyaan-pertanyaan ini membantu Anda untuk merancang kehidupan yang lebih baik di tahun depan. Semoga!

Kemana Fokus Anda?

Hidup adalah rangkaian waktu. Sementara waktu adalah rangkaian peristiwa. Bangun tidur adalah sebuah peristiwa. Makan pagi adalah sebuah peristiwa. Terjebak macet adalah sebuah peristiwa. Terlambat datang ke kantor adalah sebuah peristiwa. Dimarahi oleh Bos adalah sebuah peristiwa. Kita marah adalah peristiwa. Kita memutuskan untuk ngopi adalah peristiwa. Kita bahagia adalah peristiwa.

Ya, hidup adalah serangkaian peristiwa. Entah peristiwa yang kita inginkan, atau peristiwa yang tidak kita inginkan. Entah peristiwa yang dapat kita kendalikan, atau peristiwa yang tidak dapat kita kendalikan. Fokus kita menentukan kebahagiaan dan kedamaian batin kita.

kemana-fokus-anda

Bila kita fokus pada peristiwa-peristiwa yang tidak bisa kita kendalikan, hidup kita tak akan bahagia. Kita kehilangan kendali terhadap waktu kita. Kita kehilangan kendali terhadap hidup kita.

Sebaliknya, bila kita fokus pada peristiwa-peristiwa yang bisa kita kendalikan, hidup kita akan bahagia. Kita memiliki kendali terhadap waktu kita. Kita memiliki kendali terhadap hidup kita.

Maka, bila kita ingin bahagia dalam hidup, kita perlu mengenali mana peristiwa yang ada di dalam kendali kita dan mana peristiwa yang ada di luar kendali kita. Lalu, fokus pada peristiwa yang ada dalam kendali kita.

Ada dua macam peristiwa dalam hidup:

Pertama, peristiwa yang di luar kendali kita. Misalnya: matahari terbenam, sakit kritis, kematian, sikap orang lain terhadap kita.

Kedua, peristiwa yang di dalam kendali kita. Yaitu respon kita, perilaku kita, tindakan kita, perasaan kita, pikiran kita.

Sederhananya, segala sesuatu yang berasal dari luar kita itu di luar kendali kita. Segala sesuatu yang berasal dari dalam diri kita ada dalam kendali kita.

Masalah diri kita adalah, ada peristiwa yang di luar kendali kita, namun kita percaya dapat mengendalikannya. Misalnya, kita membuang waktu untuk mengomentari hujan, mengkritik pemerintah, berusaha mengubah sikap orang lain, berusaha mengubah pendapat orang lain dsb.

Apapun yang orang lain lakukan, itu di luar kendali kita. Kita tidak bisa memaksa mereka melakukan apa yang kita inginkan. Kita mungkin bisa mempengaruhinya, namun kita tidak dapat mengendalikannya secara penuh.

Sebaliknya, ada peristiwa yang di dalam kendali kita, namun kita tidak percaya dapat mengendalikannya. Apa yang kita lakukan, katakan, rasakan, dan pikirkan itu semua ada di dalam kendali kita. Namun kita percaya, itu di luar kendali kita. Kita bilang, kata-kata dan perilaku saya di luar kendali. Kita bilang pikiran itu menghantui. Kita bilang perasaan ini menggelayuti. Padalah semua itu ada dalam kendali kita. Kita dapat mengendalikan kata-kata kita, kita dapat mengubah perilaku kita, kita dapat mengganti pikiran kita, kita dapat mengotak-atik perasaan kita.

Jika kita ingin memiliki inner peace – kedamaian batin, fokuslah pada peristiwa yang dapat kita kendalikan. Bila ada peristiwa yang di luar kendali kita, fokuslah pada respon kita. Karena respon kita ada di dalam kendali kita. Beradaptasilah dengan peristiwa yang tidak dapat kita kendalikan. Menarilah bersamanya.

“Life is 10% what happens to us and 90% how we react to it” ~Dennis P. Kimbro

Saya Tidak Punya Waktu

“Saya tidak punya waktu”

“Suatu hari nanti, ketika saya punya waktu, saya akan…”

Kalimat ini terdengar familiar? Berapa banyak Anda mendengar orang di sekitar Anda mengatakan hal ini? Berapa sering Anda mengatakan hal ini kepada diri Anda sendiri?

Ketika Anda punya keinginan, apapun itu. Memulai bisnis baru. Membaca lebih banyak buku. Mengambil S2. Ikut pelatihan. Berolahraga rutin. Liburan dengan anak-anak. Lalu kita merasa tidak punya waktu, biasanya kalimat itu pun muncul dengan berbagai variasinya.

“Nanti, ketika waktu saya sudah mulai longgar, saya akan…”

“Suatu saat, ketika kerjaan nggak sepadat sekarang, saya akan…”

“Suatu hari, ketika saya punya waktu luang, saya akan…”

Kalimat-kalimat seperti ini didasari oleh kesalahan berpikir tentang waktu.

Setidaknya, ada tiga kesalahan berpikir terkait mengelola waktu.

saya-tidak-punya-waktu

Pertama, kita berpikir bahwa kita akan memiliki waktu lebih banyak waktu di suatu saat nanti (entah kapan) dibandingkan saat ini.

Saya menyimpulkan, kalimat inilah yang melatarbelakangi kalimat-kalimat di atas. Termasuk kalimat: “kita akan lakukan nanti kalau anak-anak sudah besar, setelah saya pensiun, setelah semua kerjaan ini beres… maka saya akan punya lebih banyak waktu”

Sayangnya, waktu yang seperti itu tidak akan hadir. Kita akan selalu disibukkan dengan berbagai rutinitas. Sampai kita masukkan batu besar terlebih dulu sebelum pasirnya. Saya percaya, tidak ada yang namanya waktu luang. Yang ada adalah kita mau meluangkan waktu, atau tidak. Jika kita tidak meluangkan waktu untuk melakukan aktivitas yang kita inginkan, tidak akan ada waktu luang. Sesederhana itu.

Kedua, kita berpikir bahwa kita tidak punya waktu.

Faktanya, waktu yang kita miliki semuanya sama, 24 jam sehari, setara dengan 1.440 menit sehari, 86.400 detik sehari. Maka ketika Anda ingin membaca buku secara teratur namun Anda beralasan, “saya tidak punya waktu” – itu adalah sebuah kebohongan. Toh faktanya, semua orang punya waktu yang sama. Bedanya, ada yang menyempatkan membaca buku, ada yang tidak. Kebenarannya adalah, “saya menganggap aktivitas membaca buku itu tidak penting, tidak berharga, saya memilih untuk melakukan aktivitas lain”

Saat kita diajak bertemu dengan seseorang, dan kita berkata “saya tidak punya waktu” – sebenarnya kita sedang membohongi orang lain dan diri sendiri. Kebenarannya, ada aktivitas yang lebih penting untuk dilakukan di waktu yang sama. Dan kita memilih untuk melakukan aktivitas itu.

Ketiga, kita berpikir bahwa kita dapat menghemat waktu, entah bagaimana caranya.

Waktu berbeda dengan uang. Anda dapat menghemat uang dan menyimpannya untuk digunakan di masa depan. Namun, tidak demikian dengan waktu. Digunakan ataupun tidak, ia akan tetap berjalan. Waktu yang kita miliki tidak akan berkurang, tidak akan berlebih. Aktivitas di dalamnya lah yang membedakannya.

Ya, waktu adalah rangkaian aktivitas hidup. Jika ia (secara sadar) tidak diisi dengan aktivitas yang produktif dan bermanfaat maka (secara tidak sadar) ia akan terisi dengan aktivitas yang tidak produktif dan tidak bermanfaat.

Saya ingat, ustadz Hasan Al Bana mengatakan, waktu adalah kehidupan itu sendiri. Barangsiapa menyia-nyiakan waktu, sesungguhnya ia menyia-nyiakan kehidupannya. Tugas kita lebih banyak dari waktu yang tersedia. Masihkah kita akan menyia-nyiakan waktu kita?