4 Langkah Mengubah Mindset

Di artikel kemarin kita belajar pentingnya mengubah mindset dari Fixed Mindset ke Growth Mindset. Pertanyaan berikutnya, bagaimana persisnya kita melakukannya?

4-langkah-mengubah-mindset

Berikut saya bagikan strategi 4 langkah untuk mengubah mindset yang diajarkan langsung oleh Carol Dweck, PhD di blognya[1].

Langkah 1: Belajar mendengarkan self-talk yang mewakili Fixed Mindset Anda

Saat menghadapi tantangan, Anda mungkin bicara ke diri Anda sendiri:

“Apakah kamu yakin bisa melakukannya? Kamu nggak berbakat di bidang ini lho…”

“Gimana kalau gagal? Kegagalan itu memalukan”

“Nggak usah dicoba, jadi kamu bisa menjaga citra hebatmu”

Saat menghadapi setback (kemunduran; kegagalan sementara), Anda mungkin bicara ke diri Anda sendiri:

“Ini bukti bahwa kamu nggak berbakat”

“Aku kan sudah bilang, ini terlalu berisiko, sudah lah…”

“Belum terlambat untuk mundur, cari pembenaran atau alasan, kembalikan citra hebatmu”

Saat menghadapi kritik, Anda mungkin akan mendengar diri Anda bicara:

“Enak saja menyalahkan, bukan aku yang salah, mereka saja yang nggak ngerti”

“Memang kamu siapa sehingga berani mengkritik apa yang aku lakukan?”

“Iya ya, aku tahu aku salah, wajar dong, masih mending aku mau ngelakuin ini”

Langkah 2: Kenali bahwa Self-Talk itu muncul dari diri Anda sendiri

Bagaimana Anda merespon tantangan, setback, dan kritik adalah pilihan Anda. Anda bisa merespon dengan Fixed Mindset seperti di atas yang berarti Anda setuju bahwa bakat dan kemampuan Anda memang hanya di level itu. Atau Anda dapat merespon dengan sudut pandang Growth Mindset yang berarti ini adalah tanda bahwa Anda perlu memperbaiki cara Anda, merentangkan diri Anda, atau meningkatkan kemampuan Anda. Semua terserah Anda.

Langkah 3: Jawab Self-Talk sebelumnya dengan Self-Talk baru yang mewakili Growth Mindset

Saat menghadapi tantangan:

Fixed Mindset berkata: “Apakah kamu yakin bisa melakukannya? Kamu nggak berbakat di bidang ini lho…”

Growth Mindset menjawab: “Saya memang tidak yakin, namun saya berpikir saya dapat mempelajarinya”

Fixed Mindset berkata: “Gimana kalau gagal? Kegagalan itu memalukan”

Growth Mindset menjawab: “Setiap orang sukses melalui banyak kegagalan, santai weh…”

Fixed Mindset berkata: “Nggak usah dicoba, jadi kamu bisa menjaga citra hebatmu”

Growth Mindset menjawab: “Kalau nggak dicoba, saya otomatis gagal, dimana hebatnya?”

Saat menghadapi setback:

Fixed Mindset berkata: “Ini bukti bahwa kamu nggak berbakat”

Growth Mindset menjawab: “Nggak lah. Basket nggak mudah buat Jordan. Dia suka namun tetap perlu bekerjakeras untuk menguasainya”

Saat menghadapi kritik:

Fixed Mindset berkata: “Enak saja menyalahkan, bukan aku yang salah, mereka saja yang nggak ngerti”

Growth Mindset menjawab: “Terima kasih, akhirnya ada orang yang bersedia memberitahu apa yang perlu diperbaiki dari caraku”

Langkah 4: Bertindak ala Growth Mindset

Setiap kali mendengar Fixed Mindset Anda berbicara, jawab dengan sudut pandang Growth Mindset. Lakukan berulang kali, sampai Growth Mindset menjadi bagian alami dari diri Anda. Sehingga:

  • Saat Anda menghadapi tantangan, Anda berani menghadapinya dengan sepenuh hati
  • Saat Anda mengalami setback, Anda belajar darinya dan mencoba dengan pendekatan yang berbeda
  • Saat Anda mendengar kritik, Anda menganggapnya sebagai umpan balik yang berharga, yang membuat Anda tumbuh menjadi lebih baik lagi

“It does not matter how slowly you go so long as you do not stop.” ~Confucius

[1] http://mindsetonline.com/changeyourmindset/firststeps/

Ubah Mindset Anda

“Saya mah gaptek”

“Aduh, saya mah nggak bakat”

“Sama yang lain saja, saya nggak ngerti yang gituan”

Kalimat-kalimat di atas khas dilontarkan oleh seseorang yang memiliki Fixed Mindset saat ia diminta melakukan sebuah aktivitas yang tidak dikuasainya. Sementara dia belum mencobanya. Belum berusaha mempelajarinya. Sebagai catatan, saya tidak sedang berbicara tentang fokus dan batasan ya, saya bicara tentang sikap mental dan pola pikir saat kita menghadapi sebuah kesulitan.

ubah-mindset-anda

Kadangkala, kita mengucapkan kalimat-kalimat di atas ke diri kita sendiri (Self-Talk) tanpa kita sadari. Sebagai sebuah penilaian kepada diri sendiri.  Self-Talk seperti ini pada akhirnya membatasi potensi. Lalu, bagaimaa dengan pemilik Growth Mindset? Apa yang mereka katakan pada diri mereka sendiri saat menghadapi kesulitan? Mereka tidak menjadikan kesulitan itu sebagai sesuatu yang personal dan permanen. Mereka meyakini bahwa kesulitan tersebut dapat mereka atasi bila mereka belajar dan berlatih lebih tekun. Mari, kita simak contoh-contoh berikut ini.

  • Saat seorang Fixed Mindset berpikir “Saya menyerah,” maka Growth Mindset berpikir “Saya akan gunakan cara yang berbeda”
  • Saat seorang Fixed Mindset berpikir “Ini terlalu sulit,” maka Growth Mindset berpikir “Ini hanya perlu waktu dan usaha lebih lama”
  • Saat seorang Fixed Mindset berpikir “Saya gaptek,” maka Growth Mindset berpikir “Saya akan belajar”
  • Saat seorang Fixed Mindset berpikir “Saya nggak ngerti matematika,” maka Growth Mindset berpikir “Saya akan melatih otak saya supaya ngerti matematika”
  • Saat seorang Fixed Mindset berpikir “Tuh kan hasilnya nggak bagus, saya memang nggak bakat” maka Growth Mindset berpikir “Apa yang terlewat?”
  • Saat seorang Fixed Mindset berpikir “Dia jago banget, saya nggak akan bisa sejago dia” maka Growth Mindset berpikir “Saya akan mencari tahu bagaimana cara dia melakukannya”
  • Saat seorang Fixed Mindset berpikir “Ini sudah cukup bagus,” maka Growth Mindset berpikir “Apakah ini benar-benar hasil terbaik yang saya bisa lakukan?”
  • Saat seorang Fixed Mindset berpikir “Saya memang hebat di bidang ini,” maka Growth Mindset berpikir “Saya melakukan ini sesuai dengan cara yang tepat sehingga hasilnya bagus”

Perhatikan ini adalah tentang sikap mental dan pola pikir. Fixed Mindset menyerah sebelum mencoba, berhenti sebelum berusaha. Sementara Growth Mindset, mau mencoba, berusaha, dan bekerja keras dalam jangka waktu yang lebih panjang. Growth Mindset sepertinya sangat terkait dengan Grit, sebuah sifat yang mempengaruhi kesuksesan seseorang.

“Challenges are what make life interesting. Overcoming them is what makes life meaningful.” ~Joshua J. Marine

 

Mindset Anda: Fixed atau Growth?

Ketika Anda menghadapi sebuah kesulitan dalam mengerjakan sesuatu, mana respon yang paling sering Anda ucapkan:

“Ok, saya akan berusaha, pasti ada cara untuk melakukan hal ini”

Atau

“Ah, sepertinya memang saya nggak berbakat melakukan pekerjaan ini”

Respon yang pertama atau yang kedua? Perbedaan cara merespon ini menentukan nasib Anda.

Mindset-Anda-Fixed-atau-Growth

Carol Dweck, seorang profesor psikologi di Universitas Stanford melakukan riset yang cukup ekstensif terkait mindset yang mempengaruhi kesuksesan seseorang. Secara ringkas, dia menyimpulkan, ada dua macam orang di atas bumi ini.

Pertama, orang-orang yang meyakini bahwa kualitas diri mereka (kecerdasan, bakat, karakter) itu tetap (tidak bisa berubah). Dweck menyebut orang-orang seperti ini sebagai orang yang memiliki Fixed Mindset.

Kedua, orang-orang yang meyakini bahwa kualitas diri (kecerdasan, bakat, kepribadian) mereka bisa bertumbuh (bisa berubah). Dweck menyebut orang-orang seperti ini sebagai orang yang memiliki Growth Mindset.

Masing-masing mindset tentu saja memiliki dampak yang berbeda.

Pertama, terkait tantangan.

Orang-orang dengan fixed mindset menghindari tantangan. Mereka hanya mau mengerjakan pekerjaan yang mereka sukai (dan anggap mampu) untuk mereka lakukan. Aktivitas adalah ajang pembuktikan diri, bukan ajang belajar dan mengembangkan diri. Mereka bertanya “Akankah saya sukses atau gagal melakukan hal ini?” Jika mereka merasa akan gagal, mereka akan menghindarinya. Mereka tidak ingin terlihat jelek, mereka ingin terlihat sempurna – berbakat. Sementara mereka dengan Growth Mindset, suka merentangkan diri, menantang diri mereka. Mereka bertanya: “Apakah aktivitas ini membantu saya untuk bertumbuh?”

Kedua, terkait kegagalan.

Mereka dengan Fixed Mindset menganggap kegagalan sebagai bukti bahwa mereka memang tidak berbakat di sana. Sehingga mereka mudah menyerah. Menganggap kegagalan sebagai sesuatu yang permanen, berada di level identitas mereka: “Memang bukan saya banget” Sementara mereka yang memiliki Growth Mindset menganggap kegagalan sebagai suatu yang sementara, dan umpan balik dari tindakan mereka: “Saya akan mencari cara yang lebih baik”

Ketiga, terkait kerja keras.

Pemilik Fixed Mindset menganggap kerja keras tidaklah berguna. Dia tidak mengubah apapun. Tidak mengubah kecerdasan, bakat, dan karakternya. Sementara pemilik Growth Mindset menganggap kerja keras adalah jalan menuju penguasaan. Mereka meyakini, kecerdasan, bakat dan karakter tidak dipahat di atas batu. Mereka bisa mengubahnya, asal mau bekerja ke arahnya.

Keempat, terkait kritik.

Fixed Mindset menghindari kritik, karena mereka ingin terlihat sempurna. Sementara Growth Mindset belajar dari kritik. Kritik berarti umpan balik menuju keahlian.

Apa dampak dari berbagai hal di atas?

Dampak yang paling kentara adalah di pertumbuhan diri serta pencapaian pemilik masing-masing mindset. Anda akan melihat, pemilik Fixed Mindset dari setahun yang lalu dengan saat ini tidak berkembang – begitu-begitu saja. Entah dari sisi keahlian ataupun kariernya. Mereka mengalami plateau (kalau di grafik, kondisi ketika kurva mulai mendatar. Baca: level tanpa kemajuan) dengan cepat. Karena saat mengalami kesulitan, mereka berhenti. Menganggap itu bukan bakatnya. Sehingga mereka tidak mencapai potensi maksimal mereka. Berbeda dengan pemilik Growth Mindset, mereka lebih lambat mencapai plateau. Sehingga pencapaian mereka, secara keahlian atau karier, menjadi lebih tinggi. Mereka lebih optimal dalam memaksimalkan potensinya.

Perhatikan, saya tidak berbicara tentang apakah kecerdasan, bakat, dan karakter adalah kualitas yang menetap atau bisa berubah. Saya berbicara tentang pola pikir yang memberdayakan hidup. Jika Anda ingin mencapai potensi maksimal Anda, tidak ada salahnya mengadopsi Growth Mindset sebagai pola pikir Anda bukan? Jadi, jangan mencari apa yang nyaman bagi Anda, namun cari apa yang bisa merentangkan dan mengembangkan diri Anda sehingga potensi Anda benar-benar maksimal.

“Mind is a flexible mirror, adjust it, to see a better world.”
― Amit Ray

Disclaimer: tulisan ini hanya merupakan pendapat saya. Anggap sebagai sebuah hipotesis yang perlu diuji. Jangan jadikan tulisan saya ini sebagai satu-satunya referensi. Pelajari referensi lain juga dan ambillah keputusan Anda dengan bijak.