Menata Lingkungan, Menata Pikiran

Saya selalu tertarik dengan hal-hal terkait pikiran. Maka, tak pikir panjang saat menemukan buku The Organized Mind karya Daniel Levitin saya langsung membeli dan membacanya. Apa lagi yang lebih menarik dibanding pikiran yang tertata? pikir saya waktu itu. Saya tertarik karena merasa terlalu banyak hal yang membuat pikiran saya kurang tertata, kacau, berantakan.

Ada banyak pembelajaran yang saya dapatkan dari buku ini. Namun, bila kita mau ambil satu poin pembelajaran saja dari buku ini, maka poin itu adalah: Pikiran kita adalah cermin dari lingkungan sekitar kita.

Jika meja kerja kita berantakan, maka begitulah pikiran kita. Jika rumah kita kacau, maka begitu pula pikiran kita. Jika file di laptop kita tidak terorganisir dengan baik, maka begitu pula pikiran kita.

Menata-Lingkungan-Menata-Pikiran

Berapa banyak orang yang komputernya berfungsi seperti laci meja? Laci meja pada umumnya berisi berbagai macam barang, mulai dari yang diperlukan sampai yang tidak. Mungkin kita akan menemukan:  selotip, staples, batere (entah hidup atau mati), uang receh, DVD, ballpoint (entah masih bisa dipakai atau tidak), voucher, sobekan tiket dan sebagainya…

Demikian pula komputer kita. Penuh dengan foto-foto, file musik dan film, ebook ilegal (yang entah kapan akan dibaca), file yang tidak terorganisir. File yang diperlukan malah seringkali sulit dicari. Tak heran bila pikiran kita pun sama kacaunya.

Maka, solusi primer untuk menata dan merapikan pikiran kita adalah dengan menata dan merapikan lingkungan sekitar kita. Tidak ada yang lebih melelahkan secara mental daripada menghabiskan waktu untuk mencari-cari barang yang tiba-tiba hilang bukan? Entah itu file, kunci, gunting atau apapun.

Inilah pentingnya kita menata lingkungan sekitar kita.

Bagaimana cara menatanya? Ada banyak metode yang dapat Anda ikuti. Dari buku Levitin ini, saya menyimpulkan tiga prinsip utama:

  1. Simpan barang berdasarkan kategori. Pastikan setiap barang memiliki tempatnya. Tempat dimana kita mudah untuk menyimpan dan menggunakannya.
  2. Batasi barang yang Anda simpan. Jangan menyimpan barang yang tidak Anda pakai. Eliminate before organize – buang dulu, baru rapikan.
  3. Beri tempat khusus untuk barang yang sering hilang (kunci, kacamata, gunting). Atur agar lingkungan mendukung Anda. Jangan biarkan energi kita habis hanya untuk mencari barang yang hilang berkali-kali.

Menata rumah atau kantor Anda bukanlah sekadar merapikan lingkungan fisik Anda, namun juga menata pikiran Anda.

Inilah Kunci Bahagia Menurut Riset Terbaru

Banyak orang ingin bahagia dalam hidupnya. Mungkin termasuk kita. Kita mendambakan rumah megah, mobil mewah, pasangan yang ideal, pekerjaan yang sempurna. Kita berasumsi semua hal itu membawa kebahagiaan dalam hidup. Namun, apakah hal-hal itu benar-benar membawa kebahagiaan?

Banyak orang menganggap, kebahagiaan ditentukan oleh konten dari momen demi momen. Sehingga mereka mencari konten (baca: kegiatan, aktivitas, benda) untuk mengisi momen demi momen dalam hidupnya. Konten yang mereka asumsikan membawa kebahagiaan. Menariknya, ternyata kebahagiaan bukan ditentukan oleh kontennya melainkan ditentukan oleh fokus menjalani momennya. Kita bisa saja menganggap travelling adalah konten yang dapat membawa kebahagiaan. Namun, bisa saja si A melakukan travelling dan bahagia. Sementara si B melakukan travelling namun tetap merasa tidak bahagia. Padahal A dan B sama-sama menyukai travelling dan menganggap travelling dapat membawa kebahagiaan. Apa bedanya?

Inilah-Kunci-Bahagia-Menurut-Riset-Terbaru

Kunci kebahagiaan adalah presence – menjalani momen demi momen secara sadar. Apapun kontennya, apapun jenis aktivitas yang dilakukannya. Inilah kesimpulan dari risetnya Matthew Killingsworth, Ph.D.[1]

Matt mengumpulkan 650.000 laporan dari 150.000 responden di 80 negara. Respondennya terdiri dari beragam profesi, umur, dan status pernikahan. Dia mengajukan tiga pertanyaan:

  1. Apa yang Anda rasakan saat ini?
  2. Apa yang sedang Anda lakukan saat ini?
  3. Apakah Anda memikirkan hal lain selain apa yang sedang Anda lakukan saat ini?
    • Tidak
    • Ya, hal yang tidak menyenangkan
    • Ya, hal yang menyenangkan
    • Ya, hal yang netral

Hasilnya mengejutkan. Kita cenderung kurang bahagia saat pikiran kita mengembara. Saat pikiran kita memikirkan hal lain di luar hal yang sedang kita lakukan saat ini. Tidak peduli apakah yang kita pikirkan adalah hal yang netral, menyenangkan atau tidak menyenangkan. Mind Wandering – pikiran yang mengembara adalah penyebab ketidakbahagiaan. Apakah berlaku sebaliknya? Ternyata tidak. Mind Wandering menyebabkan ketidakbahagiaan, bukan sebaliknya.

Menariknya lagi, mind wandering terjadi dalam 47% waktu kita. Mind Wandering terjadi dimana-mana. Entah saat kita mengendarai mobil, mencuci piring, berolahraga, ngobrol, bahkan melakukan hubungan seksual. Tidak heran, banyak orang yang tidak bahagia dalam hidupnya.

Maka, bila kita ingin bahagia, berlatihlah untuk presence. Hadir di sini, saat ini. Memfokuskan seluruh pikiran kita pada apa yang sedang kita lakukan saat ini. Terlibat total dengan aktivitas yang sedang kita kerjakan dengan seluruh indera kita. Entah itu sekadar mencuci piring, menulis, minum kopi, ataupun ngobrol dengan teman kita.

[1] http://science.sciencemag.org/content/330/6006/932.full

2 Elemen Utama Coaching

Coaching adalah tentang bagaimana melepaskan potensi seseorang. Maka, kita perlu meyakini bahwa setiap orang pada dasarnya memiliki potensi. Bagaimana bisa kita melepaskan potensi seseorang bila kita tidak meyakini bahwa mereka memiliki potensi? Adapun performance seseorang saat ini tidak selalu mencerminkan potensi yang sebenarnya. Bisa jadi karena ada hal-hal internal (maupun eksternal) yang menghambat potensi mereka. Adalah tugas seorang coach mengidentifikasi penghambat ini dan membersihkannya sehingga potensi seseorang mendekati potensi sebenarnya.

2-elemen-utama-coaching

Bagaimana seorang coach melakukannya? Seorang coach melakukannya dengan memunculkan dua hal:

Pertama, KESADARAN (Awareness). Kita tidak dapat mengendalikan hal-hal yang kita tidak sadari. Maka, tugas seorang coach adalah memunculkan kesadaran coachee-nya. Kesadaran akan tujuannya, pilihannya, potensinya.

Kedua, TANGGUNG JAWAB (Responsibility). Membantu coachee mau mengambil tanggungjawab terhadap pikiran, perasaan, dan tindakan-tindakannya. Inilah sebabnya, dalam sesi coaching semaksimal mungkin ide, solusi, dan pilihan-pilihan muncul dari pihak coachee sendiri. Kenapa? Karena kita lebih merasa memiliki terhadap ide yang muncul dari diri sendiri, bukan dari pihak lain.

Maka pertanyaan-pertanyaan dalam sesi coaching haruslah mencerminkan dua hal di atas. Bila pertanyaan tidak mendorong kesadaran dan tanggung jawab, maka sesi coaching tersebut menjadi kurang efektif. Saat sebuah sesi coaching berlangsung efektif, ia akan menghasilkan kesadaran dan tanggung jawab terhadap rencana dan tindakan-tindakannya, juga keyakinan diri, motivasi, pilihan, kejelasan, dan komitmen dari sang coachee.