Hindari Tiga Salah Fokus Ini dan Anda akan Semakin Bahagia

“Kita tidak dapat mengendalikan arah angin, namun kita dapat mengatur layar dan mengarahkan perahu kita”

Secara umum, kita dapat membagi hal-hal dalam hidup menjadi dua kategori.

Pertama, hal-hal yang di dalam kendali kita. Sikap, pikiran, perasaan dan perilaku kita masuk dalam kategori ini.

Kedua, hal-hal yang di luar kendali kita. Cuaca, situasi politik, tanggal lahir, adalah contohnya. Sikap, pikiran, dan perilaku orang lain pun masuk dalam kategori ini.

Terkait dua kategori ini, fokus kita menentukan kebahagiaan kita. Bila kita fokus pada hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan, maka akan muncul ketidakpuasaan, kekecewaan, dan ketidakbahagiaan. Sebaliknya, bila kita fokus pada hal-hal yang ada di dalam kendali kita maka kita akan lebih puas dan bahagia dalam hidup kita.

Maka, kita perlu perhatikan fokus kita. Jangan sampai kita salah fokus. Setidaknya ada tiga macam salah fokus yang perlu kita hindari.

Fokus pada masalah

Ketika kita mendapat sebuah masalah, kita diberi dua pilihan. Pertama, fokus pada masalah tersebut: meratapi dan menyesalinya. Kedua, fokus pada solusi yang mungkin. Bila kita ingin masalah itu menetap, teruslah berfokus pada masalah.

Berfokus pada masalah ibarat kita melihat pemandangan dengan jendela yang buram. Apa yang kita lihat hanyalah kotoran dan debu. Seindah apapun pemandangan di luarnya akan teralihkan oleh buramnya jendela kita. Demikian pula saat kita berfokus pada masalah, apa yang kita lihat hanyalah masalah dan masalah. Bahkan pilihan solusi yang nampak pun jadi buram karena kita melihatnya dari kacamata masalah.

Bila kita ingin masalah itu menghilang, mulailah fokus pada solusi. Tetapkan hasil akhir yang Anda inginkan, gali pilihan-pilihan yang ada dan mulailah mengambil tindakan untuk mengubahnya.

Fokus pada masa lalu

Masa lalu sudah kita lewati, kita tidak dapat mengatur jam waktu untuk kembali ke masa lalu. Membicarakan masa lalu berulang-ulang tidak akan menyelesaikan apa yang sudah terjadi. Seringkali yang muncul justru kekecewaan dan kemarahan. Pernah dikecewakaan seseorang? Bila kita mengingat-ingatnya, kekecewaan itu akan selalu muncul – membebani kita.

Tetiba saya ingat sebuah kisah dua biksu yang akan menyeberangi sungai. Di sana, mereka bertemu seorang wanita yang minta tolong untuk diseberangkan. Bagi seorang biksu, pantang bagi mereka menyentuh wanita, tidak mungkin mereka menggendongnya. Namun, salah satu biksu mengambil keputusan, ia menggendong wanita tersebut. Lalu dengan ilmu ginkang-nya, sang biksu menyeberangi sungai tanpa kesulitan. Sampai di seberang, si wanita diturunkan dari gendongan. Dia sangat berterima kasih pada bantuan sang biksu. Melihat hal ini, rekan biksu satunya tak habis pikir. Ia memikirkan apa yang dilakukan rekannya ini. Di sepanjang jalan rekan sang biksu tak berhenti memikirkan apa yang sudah terjadi. Setelah berjalan kurang lebih satu jam, akhirnya dia tak tahan dan bertanya kepada rekannya: “Mengapa engkau menggendong wanita tadi? Bukankah terlarang bagi kita untuk menyentuh wanita?” Sang biksu menjawab: “Wanita? Wanita yang mana?” rekannya keheranan dan menimpali “Wanita yang kau gendong saat menyeberang tadi.” Sang biksu tampak melirikkan mata ke atas lalu mengangguk-angguk “Oh, iya aku ingat. Aku sudah menurunkan wanita itu dari gendongan sejak satu jam tadi sementara kamu masih menggendongnya di dalam pikiranmu sampai saat ini.” – Seringkali, inilah yang terjadi dalam hidup kita. Kita menggendong sampah dari masa lalu kemana-mana, membebani mental dan menguras emosi kita.

Alih-alih fokus pada masa lalu, berfokuslah ke masa depan. Buat gambaran yang jelas, seperti apa masa depan yang Anda inginkan. Lalu, ambillah keputusan untuk mewujudkannya.

Fokus pada sikap orang lain

Sikap orang lain adalah hal yang di luar kendali kita. Kita tidak dapat mengendalikan pikiran, perasaan dan perilaku mereka. Kita hanya dapat memengaruhinya dalam intensitas yang terbatas. Fokus pada sikap orang lain – mengharuskan orang lain untuk begini dan begitu – justru akan berujung pada kekecewaan. Maka, alih-alih fokus pada sikap orang lain, mulailah berfokus pada sikap kita sendiri. Fokus kendalikan pikiran, perasaan, dan perilaku kita. Ini akan menciptakan kebahagiaan lebih banyak dalam diri Anda.

Kecewa dengan sikap rekan kerja Anda? Mulailah dengan mengubah sikap Anda padanya terlebih dulu. Mengharapkan sikap dia berubah hanya akan menimbulkan kekecewaan. Saat sikap Anda berubah, secara ajaib sikap mereka pun akan berubah. Seperti kata Phil McGraw, kita melatih orang lain bagaimana memperlakukan kita.