Menyederhanakan Hidup

Kemarin saya membaca ulang bukunya Leo Babauta: The Power of Less. Membaca ulang sebuah buku sering kali menghasilkan pencerahan-pencerahan yang berbeda dari sebelumnya. Kali ini saya akan tuliskan apa yang saya dapatkan dari buku Babauta ini. Mari kita simak.

Banyak orang merasa perlu melakukan lebih banyak. Banyak orang merasa perlu menerima lebih banyak. Banyak orang merasa perlu menyimpan lebih banyak. Padahal kunci dari kebahagiaan dan keteraturan adalah melakukan, menerima dan menyimpan lebih sedikit.

Terkait informasi dan komunikasi misalnya. Banyak orang merasa perlu menerima lebih banyak informasi, padahal apakah semua informasi yang kita terima pasti penting? Belum tentu. Saat ini dunia kita dipenuhi dengan berbagai informasi sampah yang hanya akan “mengotori” benak kita. Kita hidup di dunia yang penuh dengan distraksi dan banjir informasi. Satu-satunya cara untuk tetap waras adalah memilih secara sadar apa yang kita masukkan ke kepala kita.
Leo Babauta menyarankan kita melakukan hal-hal berikut untuk menyederhanakan hidup kita.

Pertama, membuat batasan.

Kuncinya adalah dengan membuat batasan. Batasi apa yang masuk ke kepala kita, batasi apa yang kita kerjakan, batasi apa yang kita pikirkan. Dengan membuat batasan, kita “terpaksa” hanya akan fokus pada hal-hal yang penting. Hal-hal yang esensial. Dengan membuat batasan, kita hanya akan fokus pada hal-hal yang berdampak besar, bukan hanya hal-hal yang menyibukkan kita. Membuat batasan menyederhanakan hidup kita.
Coba pikirkan salah satu area hidup yang membuat Anda kelimpungan. Hal ini biasanya terjadi karena Anda tidak membuat batasan. Anda perlu menyederhanakannya. Batasi keinginan memiliki terlalu banyak, batasi keinginan menyimpan terlalu banyak. batasi keinginan menerima informasi lebih banyak, batasi menerima tanggung jawab lebih banyak.
Maka, apa yang bisa mulai Anda batasi saat ini? Waktu chat di medsos? Membaca informasi sampah? Mengerjakan hal-hal rutin yang tidak berdampak? Atau apa?

Kedua, memilih hal yang esensial dan mengeliminasi hal-hal yang non esensial.

Setelah membuat batasan, langkah selanjutnya adalah memilih hal yang esensial dan mengeliminasi hal-hal yg non esensial. Apa kriteria hal yg esensial? Sederhana, penting untuk diperhatikan dan berdampak besar bila dilakukan. Tentu saja, hal esensial setiap orang berbeda. Bergantung peran, prioritas, tujuan, dan apa yang penting bagi dia saat ini. Fokuskan pikiran dan tenaga kita untuk hal-hal esensial saja. Buang, hilangkan, kurangi aktivitas untuk hal-hal yang non esensial.

Ketiga, berlatih fokus.

Hidup kita akan sederhana bila kita mampu untuk fokus. Fokus pada apa yg penting. Fokus pada tujuan yang berdampak besar. Fokus melakukan satu tugas, satu waktu. Lawan dari fokus adalah terdistraksi: mengerjakan hal-hal yang genting bukan yang penting, mengejar banyak hal dalam satu waktu, melakukan banyak hal dan banyak waktu.

Keempat, menciptakan kebiasaan baru.

Langkah terakhir adalah memulai kebiasaan baru terkait hal-hal esensial dalam hidup kita. Mulailah kebiasaan secara bertahap. Mulai dari yg mudah, kecil dan sedikit. Katakanlah Anda memutuskan “menulis buku” sebagai hal yg esensial dalam karier Anda. Maka, mulailah menciptakan kebiasaan menulis. Jangan terlalu ambisius. Mulailah dengan kebiasaan kecil. Misalnya menulis 1 paragraf sehari atau menulis 10 menit per hari. Intinya mulailah kebiasaan yg sangat-sangat mudah Anda mulai. Kebiasaan yg tidak perlu mengandalkan motivasi tinggi utk melakukannya. Olahraga masuk hal esensial? Mulailah dengan 2 push up setiap bangun tidur misalnya. Membaca buku masuk hal esensial? Mulailah dg membaca 1 paragraf setiap selesai shalat shubuh misalnya. Mulailah kebiasaan baru utk memastikan Anda berinvestasi di hal-hal yg esensial dalam hidup Anda.

  • TrianFerianto

    Terima kasih mas wejangannya. Semoga lebih bisa menyederhanakan hidup dan bisa melakukan hal berdampak.