Tiga Tahap Penguasaan Skill

Skill apa yang saat ini Anda kuasai dengan baik?

Memasak? Berbicara di depan publik? Membuat website? Berbicara dengan bahasa Inggris?

Setiap skill yang kita kuasai diserap melalui tiga tahap: memikirkan, mengulang-ulang, dan menguasai.

Misalnya, Anda ingin menguasai keterampilan membuat website. Maka di awal Anda akan berpikir: apa yang perlu dipelajari? belajar dimana? mulai darimana? dan sebagainya. Hasil akhir dari tahap ini adalah Anda menjadi TAHU apa yang perlu dilakukan.

Tahap kedua, Anda mulai mencoba membuat website. Ngulik. Trial and error. Mengulanginya berkali-kali, sampai Anda menemukan pola-nya. Anda menjadi PAHAM dan MAMPU MELAKUKANnya.

Tahap ketiga, Anda akhirnya mampu membuat website tanpa berpikir lagi. Begitu Anda di depan laptop, Anda dapat membuatnya sambil memikirkan hal lain. Jari-jari Anda bergerak lebih cepat dari pikiran Anda. Anda kini sudah masuk tahap AHLI.

Menariknya, seringkali keahlian yang Anda kuasai melalui tahap di atas Anda lakukan secara otodidak. Bukan melalui sesi belajar formal. Istilah dalam dunia akademik, Anda berhasil mengakuisisi skill bukan sekadar mempelajarinya.

Josh Kaufman, penulis buku The First 20 Hours, menyebutkan bahwa akuisisi skill berbeda dengan learning (belajar). Misalnya dalam konteks bahasa. Kita sebagai orang Indonesia, rata-rata belajar bahasa Inggris minimal 6 tahun di sekolah kita. Namun, berapa banyak yang benar-benar dapat menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi? Ujung dari akuisisi skill adalah penggunaannya di dunia nyata. Bukan sekadar pengetahuan terhadap konsep atau teori.

Tiga tahap yang saya jelaskan di atas adalah tiga tahap akuisisi skill. Tahapannya persis dengan apa yang dikemukakan oleh Kurt VanLehn dari Learning Research and Development Center – University of Pittsburgh. Penjelasan detailnya sebagai berikut:

Tahap Pertama: Kognitif.

Tahap ini terkait proses mendapatkan pemahaman tentang elemen-elemen skill yang akan dilatih. Target dari tahap ini adalah kita mendapatkan gambaran yang jelas di dalam pikiran kita tentang seperti apa yang akan kita lakukan dan bagaimana melakukannya. Misalnya kita ingin menguasai gerakan Kong Vault (lompatan kera)-nya Parkour, maka di tahap ini targetnya kita dapat membayangkan secara presisi bagaimana Kong Vault dilakukan. Sehingga kita dapat mengulang-ngulangnya di dalam benak kita secara berulang-ulang.

Prakour - Kong Vault
Parkour – Kong Vault

Ada kalanya, mereka yang berada di tahap ini mengalami kebingungan. Biasanya karena skill yang ingin dipelajari terlalu kompleks. Bila skill yang ingin dikuasai adalah skill yang kompleks, maka di tahap ini kita perlu:

  1. Mencacah (mem-break down) skill tersebut menjadi beberapa sub skill yang lebih sederhana.
  2. Memilah, mana yang elemen yang penting, mana yang kurang penting.
  3. Mengurutkan, elemen mana yang perlu dipelajari pertama kali.

Jika diperhatikan tahap ini adalah tahap berlatih dengan pikiran sadar. Anda perlu berpikir saat berlatih di tahap ini. Misalnya gerakan Kong Vault di atas, kita masih bisa break down menjadi tiga elemen:

  • Melompat.
  • Melakukan tolakan dengan tangan.
  • Mendarat.

Di masing-masing elemen, Anda perlu memperhatikan gerakannya secara presisi. Misal pada saat sebelum mendarat, Anda perlu memastikan lutut diangkat setinggi pinggang (mendekat ke dada).
Sambil memikirkan konsep dan membayangkannya, Anda boleh mulai mencoba gerakan-gerakannya secara fisik atau mempraktikkannya di lapangan. Tentu saja mungkin Anda merasa aneh atau tidak nyaman saat melakukannya di tahap ini. Sangat wajar. Wajar pula bila di tahap ini kita mengalami kebingungan. Kebingungan adalah awal dari pemahaman.

Tahap Kedua: Asosiatif.

Penekanan di tahap ini adalah latihan dan praktik. Setelah kita dapat membayangkan secara mental, tahap berikutnya adalah melatihnya secara fisik. Idenya adalah melakukan pengulangan sehingga terjadi koordinasi yang baik antara otak dan otot kita. Di tahap ini, umpan balik sangatlah penting. Sehingga kita tidak sekadar mengulang-ulang, melainkan mengulang dengan gerakan yang benar. Target di tahap ini adalah kita mulai merasa nyaman dengan gerakan yang kita lakukan. Tahap ini adalah tahap transisi dari pikiran sadar ke bawah sadar.
Jika kita hubungkan dengan latihan Kong Vault sebelumnya, di tahap ini kita melatih masing-masing elemen (melompat, tolakan, mendarat) secara berulang-ulang sampai sempurna. Setelah masing-masing elemen sempurna, barulah Anda menyatukannya. Dalam konsep “The First 20 Hours”-nya Josh Kaufman, tahap inilah yang perlu dilatih sebanyak 20 jam. Baru Anda akan masuk ke tahap ketiga.

Tahap Ketiga: Otonom

Karakter dari tahap ini adalah mampu mengeksekusi skill secara otomatis – tanpa dipikirkan. Gerakan yang dilakukan sudah mulai tepat dan otomatis. Gerakannya pun sudah mulai lebih halus. Pikiran bawah sadar mulai mengambil alih proses eksekusi gerakannya.

Jadi, jangan puas hanya pelajari konsep dan teori ya. Praktekkan, agar Anda melalui tahap-tahap berikutnya dan menjadi ahli dalam keahlian Anda. Siap?