Benarkah Emosi Kita Dikendalikan oleh Lingkungan?

Kita semua memiliki trigger (baca: pemicu dari luar) yang memicu emosi tertentu. Misalnya, ada kawan saya yang selalu marah ketika istrinya mengajak bicara tentang uang. Ada juga kawan saya yang langsung sedih begitu mendengar sebuah lagu lawas dari tahun 90-an. Kenalan saya lainnya merasa sesak dadanya setiap kali melihat foto mantannya yang kini telah menikah dengan sahabatnya. Melihat fenomena ini tak heran bila kita lalu menyimpulkan bahwa emosi kita dikendalikan oleh stimulus dari lingkungan – hal-hal di luar kita. Entah berupa kata-kata, lagu, gambar, simbol atau apapun yang di luar kita. Stimulus ini memicu respon emosional tertentu dalam diri kita. Mengapa hal ini dapat terjadi? Bisa jadi karena di dalam diri kita ada program, sebuah pola neurologis yang sudah “menetap.” Sehingga saat sebuah stimulus muncul, otomatis programnya aktif dan respon yang sudah terprogram muncul. Darimana program ini datang? Bisa dari pola asuh atau pengalaman masa lalu kita.

Mari kita lihat sisi positifnya, memiliki program seperti ini memudahkan hidup kita. Bukankah menarik bila kita memiliki banyak program yang memberdayakan? Sehingga saat satu stimulus datang, emosi yang muncul adalah emosi-emosi positif: bahagia, semangat, sabar, syukur…

Namun, apa yang perlu kita lakukan bila ternyata ada program-program yang tidak memberdayakan dalam diri kita? Apakah kita menyerah begitu saja? Benarkah emosi kita 100% bergantung pada lingkungan di sekitar kita? Untungnya tidak. Ada ruang di antara stimulus dan respon yang memungkinkan kita untuk memilih respon kita. Untuk menemukannya, kita perlu menyadari emosi yang kita rasakan, lingkungan yang memicu dan pikiran yang memicu tersebut. Ya, pikiran-lah yang menjembatani anatar lingkungan dan emosi yang kita rasakan. Sayangnya, pemikiran yang muncul saat kita terpicu bergitu cepat dan otomatis sehingga kita tidak menyadari kedatangannya. Seakan-akan lingkungan memicu emosi kita, padahal di antaranya ada pikiran yang mengantarkannya.

Istri yang mengajak bicara tentang uang tidak memicu amarah kawan saya. Apa yang kawan saya pikirkan tentang istrinya saat ia mengajak bicara tentang uang-lah yang memicu amarahnya.

Lagu lawas tahun 90-an tidaklah memicu kesedihan kawan saya. Pemaknaan yang muncul dalam pikirannya saat ia mendengar lagu lawas itulah yang memicu sedihnya.

Foto mantan tidaklah membuat dada kawan saya sesak. Pikiran-pikiran yang muncul saat melihat foto itulah yang memicu sesaknya dada.

Maka, sadari pikiran, perasaan, pemicu yang menghampiri kita dari waktu ke waktu. Saat kita menyadarinya, kita akan mampu mengelolanya. Menyadari pikiran dan perasaan kita adalah pintu masuk untuk mengelola dan mengarahkannya.

“Between stimulus and response there is a space. In that space is our power to choose our response. In our response lies our growth and our freedom.” Viktor E. Frankl