Ikigai: Apa yang Membuat Anda Bangun Pagi Hari Ini?

Perkenalkan Tatsuya Naka. Dia adalah seorang Karateka aliran Shotokan, pemegang Dan 7 dari Japan Karate Association. Bagi saya ia adalah seorang master yang sangat passionate di bidangnya.

Passion dia terhadap karate (dan beladiri) secara umum sangat nampak di video The Great Journey of Karate yang ia produksi. Kita bisa lihat gairah, keseriusan, totalitas dan komitmen dia terhadap Karate di video ini. Bagaimana ia memiliki misi untuk menemukan akar dari Karate dengan mengunjungi berbagai perguruan Karate klasik di Okinawa dan perguruan Kungfu di daratan China. Berdiskusi dan bertukar satu dua jurus dengan praktisinya dengan penuh respek. Menunjukkan atensi, antusiasme dan curiosity saat praktisi dari perguruan lain membagikan tekniknya. Benar-benar sikap seorang master.

Menyimak profil Tatsuya Naka mengingatkan saya pada konsep ikigai-nya (生き甲斐) orang Okinawa. Sebagimana kita ketahui bersama, orang-orang Okinawa adalah orang-orang yang bermumur panjang, damai, serta bahagia hidupnya[1]. Orang-orang Okinawa memaknai ikigai sebagai alasan bangun pagi. Secara literal, ikigai bisa dimaknai sebagai purpose of life – tujuan hidup kita; alasan mengapa kita diciptakan di atas bumi ini.

Ikigai adalah makna hidup kita, panggilan jiwa kita. Ikigai-lah yang membuat seseorang bangun pagi dengan bersemangat. Ikigai-lah yang membuat seseorang berangkat bekerja dengan bergairah. Ikigai-lah yang membuat seseorang mau berkontribusi pada masyarakat. Ikigai-lah yang membuat seseorang mampu menikmati hidupnya dengan puas dan bahagia. Ikigai-lah yang membuat hidup kita berharga dan bermakna. Pertanyaannya, apa ikigai Anda?

Pertanyaan ini dapat dijawab bila kita meluangkan waktu untuk mengeksplorasi empat pertanyaan berikut ini.

Pertama, apa yang Anda cintai?

Aktivitas apa yang membuat Anda lupa waktu? Aktivitas apa yang membuat Anda bergairah melakukannya? Aktivitas apa yang benar-benar Anda sukai?

Kedua, Anda hebat dalam hal apa?

Kemampuan apa yang Anda kuasai? Anda berbakat dalam hal apa? Anda ahli dalam bidang apa?

Ketiga, apa yang dunia butuhkan?

Apa yang dapat Anda berikan kepada masyarakat di sekitar Anda? Masalah apa yang Anda pecahkan? Kebutuhan apa yang dapat Anda penuhi?

Keempat, Anda dibayar karena melakukan apa?

Apa pekerjaan Anda? Apa bisnis Anda? Darimana penghasilan Anda dihasilkan?

Irisan dari keempat inilah yang disebut dengan ikigai. Irisan dari dua atau tiga saja, bukanlah ikigai.

Tatsuya Naka, sosok yang saya bahas di awal, ikigai-nya adalah Karate. Dia cinta Karate, hebat dalam Karate, dunia membutuhkannya (buktinya, saya mengikuti update berita dari dia), dan dia dibayar karenanya (dia instruktur Karate di JKA, mendapat royalti penjualan dari DVD The Great Journey of Karate, dan membintangi dua film layar lebar karena Karate).

Ikigai saya (salah satunya) adalah menulis. Saya suka menulis, cukup hebat dalam menulis (menurut saya loh), dunia pun membutuhkan tulisan saya (hehe, minimal saya berniat membagikan apa yang saya ketahui ke dunia luar), dan saya dibayar karena tulisan saya (entah dari buku, ebook atau ringkasan bedah buku bisnis yang saya buat). Inilah yang membuat saya bersemangat untuk menulis. Inilah yang membuat saya bersemangat saat bangun di pagi hari.

Teman sekampung saya, Ahmad Thoha Faz, ikigai-nya adalah matematika. Dia suka matematika, hebat dalam matematika (waktu kelas tiga SMA saja sudah menguasai Kalkulus), dunia membutuhkan matematika (bukan hanya matematikanya, namun kemampuan berpikir analitisnya juga), dan ia dibayar karena matematika (dia adalah penulis buku dan penemu Matematika Detik – metode membaca angka secepat membaca kata dan Test Of Second Mathematic (TOSM), semacam tes TOEFL untuk mengetahui kecepatan membaca angka kita).

Jadi, apa ikigai Anda? Apa yang membuat Anda bersemangat bangun pagi hari ini?

 

 

 

[1] Dan Buettner, penulis buku Blue Zones of Happiness: Lessons From the World’s Happiest People.