Ketika Saya Mentok dalam Menulis

Sudah 30 menit saya duduk di depan laptop dan belum menulis satu kata pun. Coba memunculkan ide, namun tidak ada satu ide pun yang muncul. Saya buka buku ide saya, menyelusuri setiap catatan dan ide-ide yang pernah dituliskan. Namun merasa tidak ada yang cocok untuk ditulis pagi ini. Lalu saya memutuskan untuk duduk rileks, melihat ke atas, menggerakkan mata dari kiri atas ke kanan atas, mengingat dan memanggil beberapa memori, mencari satu dua ide yang menarik untuk dijadikan tulisan.

Beberapa pengalaman terkait peristiwa sepekan ke belakang muncul. Salah satunya adalah obrolan tentang Design Thinking bersama Mas Irwansyah dan Mbak Gian Pintari. Saya berpikir “hmm… sepertinya menarik jika dibuat sebuah tulisan.” Judul yang terpikir adalah ‘Memahami Design Thinking.’ Oke, saya putuskan untuk menulis ini. Lalu saya menyelusuri ulang beberapa ebook dan catatan saya terkait Design Thinking ini. Kurang lebih setelah sepuluh menit membaca ulang, saya berpikir “sepertinya terlalu berat untuk dituliskan sekarang, terlalu banyak elemen, saya ingin sesuatu yang lebih sederhana.” Saya stuck, saya mengalami paralisis karena over thinking. Istilahnya paralysis by analysis. Pikiran kreatif saya dibajak oleh pikiran kritis. Dampaknya, tidak satu ide tulisan pun muncul. Tidak ada satu kata pun tertuang dalam laptop saya padahal 30 menit sudah berlalu.

Akhirnya saya memutuskan untuk rileks, melepaskan semua keinginan, dan mulai menuliskan apapun yang melintas dalam benak saya. Saya menuliskan apa yang terjadi barusan, apa yang saya pikirkan, apa yang saya lakukan. Inilah hasilnya, 234 kata sampai dengan titik ini. Sekali lagi teknik ini berhasil. Inilah yang saya lakukan pada saat saya stuck untuk menulis. Pada saat saya mengalami writer’s block. Apa yang saya lakukan adalah sederhana: berhenti berpikir dan mulai menulis. Tuliskan apapun yang terpikir di dalam benak. Literally, apapun. Nanti ada saatnya Anda mengeditnya. Namun di awal, tulislah apapun yang terlintas di dalam benak Anda.

Proses kreatif selalu diawali dengan berpikir divergen barulah kemudian bergeser menjadi berpikir konvergen. Ide-ide selalu datang dalam bentuk acak, menyebar tanpa bentuk. Tugas kita adalah menangkap lalu mengolahnya agar lebih tersusun dan teratur. Persis seperti apa kata Keenan Pearce dalam Axelerate The Series:

“Mencari dan menemukan gagasan memang selalu soal waktu. Kadang lo harus membuka satu persatu, mencari yang terselip, menemukan yang terlewat, memperhatikan setiap sudut dengan mata yang teliti. Kadang gagasan bahkan datang dari sesuatu yang lo gak pernah percaya sebelumnya. Buat gue gagasan yang menarik selalu datang dari sesuatu yang abstrak dan random. Membuat yang abstrak jadi kongkrit dan yang random menjadi sistematis adalah bagian dari prosesnya.”

Yeay! Akhirnya 400 kata terlampaui dalam 30 menit. Saatnya menghadiahi diri dengan secangkir Vietnamese Drip Coffee!