Lean Thinking: Lima Prinsip Lean Startup

Lean startup adalah aplikasi lean thinking dalam proses inovasi. Lean Startup memberikan pendekatan ilmiah dalam mengembangkan startup dan menciptakan produk yang diinginkan oleh pelanggan dengan lebih cepat. Metode Lean Startup mengajarkan kita cara menjalankan startup – bagaimana mengarahkan, kapan perlu belok dan balik arah, dan kapan perlu bertekun – dan bergerak dengan kecepatan maksimal. Ini adalah pendekatan metodologis untuk pengembangan produk baru.

Terlalu banyak pemula memulai startup dengan sebuah ide produk yang menurut mereka diinginkan orang. Mereka menghabiskan waktu berbulan-bulan, terkadang bertahun-tahun, menyempurnakan produk itu tanpa pernah menunjukkan produknya kepada calon konsumen (meski dalam bentuk yang sangat sederhana – prototipe). Kegagalan mereka meraih serapan luas dari pelanggan sering kali karena mereka tidak pernah berbicara dengan calon pelanggan. Mereka tidak bertanya kepada calon pelanggan apakah produknya menarik atau tidak. Ketika pelanggan akhirnya menyampaikan pendapat mereka melalui ketidakpedulian mereka, bahwa mereka tidak peduli dengan produk/gagasan tersebut, startup tersebut pun gagal.

Gagasan Lean Startup ini pertama kali dikembangkan oleh Eric Ries. Buku fenomenalnya, Lean Startup, kini menjadi pegangan utama di kalangan startup entrepreneur. Menurut Ries, ada lima prinsip dari Lean Startup.

1. Entreprenur ada Dimana-mana

Anda tidak harus berada di garasi untuk menjadi startup. Siapapun yang terlibat dalam penciptaan produk/layanan baru di bawah kondisi ketidakpastian adalah startup. Dan siapapun yang terlibat di dalam startuo adalah entrepreneur. Entah Anda bekerja untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.

2. Entrepreneurship adalah Manajemen

Startup adalah sebuah institusi, bukan hanya sebuah produk. Ini memerlukan manajemen, tipe manajemen baru yang dispesifikkan untuk situasi ketidakpastian.

3. Validated Learning

Startup hadir tidak hanya untuk menghasilkan produk, mencetak uang atau melayani pelanggan. Mereka ada untuk belajar bagaimana membangun bisnis yang berkelanjutan. Pembelajaran ini dapat divalidasi secara ilmiah dengan menjalankan eksperimen-eksperimen yang memungkinkan kita menguji berbagai elemen dari visinya.

4. Build-Measure-Learn

Aktivitas mendasar dari sebuah startup adalah mengubah ide menjadi produk, mengukur bagaimana respon pelanggan kemudian belajar apakah kita perlu bertekun atau mengubah haluan (pivot). Setiap proses startup yang sukses diarahkan untuk mempercepat putaran umpan balik ini.

5. Innovation Accounting

Untuk meningkatkan hasil dan mempertahankan akuntabilitas innovator, kita perlu fokus pada hal-hal yang membosankan: bagaimana mengukur kemajuan, menyusun milestone, memprioritaskan pekerjaan. Ries mengistilahkan proses menetapkan, mengukur dan mengomunikasikan aktivitas dan hasil ini dengan istilah Innovation Accounting. Kata accounting di sini tidak hanya terkait dengan pencatatan keuangan, melainkan termasuk pencatatan dan pengukuran aktivitas-aktivitas lainnya.

Sekarang, mari kita periksa usaha rintisan kita, apakah kita sudah menerapkan kelima prinsip ini? Atau prinsip yang manakah yang kita masih bergulat untuk menerapkannya?