Lean Thinking: Mengapa Startup Gagal?

Sering kali kita memisahkan entrepreneurship dengan manajemen. Kata entrepreneurship terasa lebih keren, modern dan fleksibel. Sementara kata manajemen terkesan jadul, kolot dan kaku. Padahal entrepreneurship adalah bagian dari manajemen. Kita tidak akan mampu menjadi entrepreneur sukses tanpa kemampuan manajemen yang baik.

Kata entrepreneurship terasosiasi dengan kreativitas, out-of the box, inovasi, disrupsi terhadap tatanan yang sudah ada. Sementara manajemen terasosiasi dengan keteraturan, penataan dan pengelolaan yang baik. Lalu, bagaimana mungkin entrepreneuship yang kreatif, acak dan disruptif dapat dikelola dan ditata (baca: dapat di-manage)? Saya tidak akan menjawab pertanyaan ini secara langsung. Saya akan membahas dua alasan besar mengapa sebuah startup (baca: perusahaan rintisan) gagal menjadi perusahaan yang sebenarnya.

Menurut Eric Ries, penulis buku Lean Startup, alasan pertama mengapa startup gagal adalah karena daya pikat rencana, strategi yang solid dan riset pasar yang teliti. Di era lama, tiga hal ini adalah kunci kesuksesan perusahaan. Namun, sekarang eranya sudah berubah. Saat ini kita masuk di era yang ditandai dengan VUCA: Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity. Volatility (volatilitas) artinya dinamika perubahan yang sangat cepat dalam berbagai hal dan seringkali tidak terduga. Baik dari segi teknologi, sosial, politik, maupun ekonomi. Hal ini memicu Uncertainty, situasi serba tidak pasti sehingga sulit memprediksi apa yang akan terjadi. Belum lagi adanya Complexity – situasi yang sangat kompleks. Terlalu banyak variabel dan hubungan yang saling terkait dan saling memengaruhi. Semuanya hal mengalami Ambiguity (ambiguitas), tidak jelas lagi hubungan sebab akibat. Semua terasa mengambang. Kita kesulitan menemukan akar masalah karena kompleksitas kemungkinan variabel penyebabnya.

Akibat dari VUCA ini rencana dan strategi jangka panjang menjadi kurang bermanfaat. Kita tidak dapat memprediksi perubahan dan masa depan. Riset pasar pun hasilnya berubah dengan cepat. Sehingga startup gagal menciptakan produk/layanan yang diinginkan oleh konsumennya karena perubahan-perubahan yang terjadi sangat cepatnya.

Alasan kedua mengapa startup gagal adalah karena para startup menggunakan mazhab “Just Do It” dalam menjalankan bisnisnya. Mereka menganggap manajemen tradisional gagal menyelesaikan masalah mereka. Akhirnya mereka menganggap manajemen tidak diperlukan sama sekali. Mereka pun akhirnya menjalankan bisnis dengan modal nekat – just do it, yang penting action, action, dan action. Tanpa ilmu, tanpa proses pembelajaran terhadap apa yang sudah dilakukan sebelumnya.

Jadi, apa solusinya? Solusinya adalah menerapkan prinsip-prinsip Lean Startup dalam mengelola rintisan bisnis Anda. Lean Startup adalah aplikasi lean thinking dalam proses inovasi. Konsep ini digagas pertama kali oleh Eric Ries melalui bukunya fenomenal yang berjudul sama: Lean Startup. Ada lima prinsip yang perlu kita adaptasi: entrepreneur ada dimana-mana, entrepreneurship adalah manajemen, validated learning, build-measure-learn, dan innovation accounting. Di artikel berikutnya insyaallah kita akan bedah masing-masing prinsip secara lebih mendetail.