Mastering Inner Game

Setiap permainan selalu terdiri dari dua bagian: outer game dan inner game. Permainan tenis misalnya. Outer game-nya adalah permainan menghadapi lawan, mengatasi hambatan, dan mencapai tujuan di luar diri. Permainan luar ini terkait dengan pengetahuan tentang bagaimana mengayunkan raket, memposisikan tangan, melangkahkan kaki dsb. Menariknya, menurut Timothy Gallwey menguasai outer game saja tidak akan menghasilkan penguasaan (mastery). Pencapaian mastery dalam sebuah keahlian merupakan kombinasi antara outer game dengan inner game.

zen-stone
Inner game berlangsung di dalam diri pemain. Bagaimana ia mampu mengelola mentalnya, fokus pada permainan, tenang menghadapi lawan, mengelola kepercayaan diri, mengatasi kecemasan, dsb. Permainan dalam ini akan mempengaruhi permainan luar kita. Apa yang terjadi di dalam diri akan memengaruhi performa luar kita. Tanpa penguasaan inner game, keahlian yang kita miliki tidak akan muncul dengan kondisi terbaiknya.
Ketidakselarasan antara outer game dengan inner game dapat tergambarkan dengan kalimat sbb:

“Saya tahu apa yang seharusnya saya lakukan, saya hanya kesulitan melakukannya”
“Setiap kali saya berusaha memperbaiki postur saya, saya melupakan bagaimana seharusnya posisi tangan saya”
“Musuh terbesar diri saya adalah saya sendiri, saya sulit mengendalikan pikiran saya”

Kalimat-kalimat di atas mencerminkan ketidakselarasan diri. Mencerminkan ketidakmampuan diri memunculkan kemampuan terbaiknya.

Tentu saja, outer dan inner game tidak hanya terjadi pada permainan tennis. Kita pun akan menemukannya saat berlatih beladiri, bekerja, menulis, melukis, menjual, mengajar, melatih. Semua aktivitas ini memerlukan keselarasan antara outer dengan inner game.

Dalam buku Inner Game of Tennis, Timothy Gallwey menggunakan metafora Self 1 (pengamat) dan Self 2 (pelaku) untuk memudahkan menyelaraskan outer dan inner game kita.

  • Self 1 (pengamat) adalah kesadaran saat kita menjadi pengamat dari diri kita. Saat kita “berpikir”, menganalisis, dan mengkritisi perilaku kita.
  • Self 2 (pelaku) adalah kesadaran saat kita melakukan sesuatu secara all-out. Tanpa berpikir, hanya melakukan.

Pekerjaan Self 1 adalah berpikir dan mencoba terlalu keras. Menariknya, semakin keras kita memikirkannya, semakin sulit kita melakukannya. Semakin keras kita mencoba, semakin sulit pula kita melakukan apa yang kita inginkan. Akibatnya Self 1 seringkali menyalahkan diri sendiri. Kemudian menghasilkan ketegangan otot dan frustasi ketika kita gagal mencoba melakukan sesuatu.
Jika kita ingin bermain bagus, kita perlu membiarkan Self 2 bermain. Jangan berpikir bagaimana raket akan menyentuh bola. Bahkan, jangan mencoba memukul bola dengan bagian raket tertentu. Biarkan saja raket itu menyentuh bola, dimanapun ia ingin menyentuhkan, dan lihat apa yang terjadi. Let it go and let it happen. Kesadaran seperti ini akan membuat diri kita rileks dan mengeksekusi teknik tanpa beban (effortless). Sehingga kita akhirnya dapat memunculkan keahlian terbaik kita.

Masih menurut Gallwey, ada tiga hal yang perlu diperhatikan agar kita dapat membiarkan Self 2 bermain.

Pertama, belajar membayangkan dengan jelas perilaku yang ingin Anda munculkan.

Sebuah perilaku/teknik tidak akan muncul hanya dengan menghapalkan caranya. Perilaku/teknik akan muncul saat kita mampu membayangkannya dengan jelas, detail, dan berwarna dalam benak kita. Misalnya, saat Anda tidak bisa bermain tenis maka Anda akan kesulitan membayangkan diri Anda bermain tenis. Seandainya Anda bisa membayangkannya, gambar mental yang muncul pun akan kabur. Sebaliknya, bila membayangkan hal yang sangat Anda kuasai. Saya yakin Anda dengan mudah membayangkannya dengan jelas dalam benak Anda. Visualisasi adalah jembatan anatara outer dan inner game. Kita melatihnya dengan membayangkan atau melihat performance para master di bidangnya.

Kedua, belajar trust pada Self 2 untuk perform pada kondisi terbaik.

Ketika kita mengatakan trust to yourself, yang kita maksud adalah trust pada Self 2 kita. Biarkan Self 1 rileks dan beristirahat. Ijinkan Self 1 membiarkan Self 2 untuk melakukan. Singkirkan keinginan mengkritik dan mengevaluasi. Sisihkan sementara kesadaran analitis kita dan biarkan kesadaran intuitif kita bekerja.

Ketiga, belajar melihat tanpa mengevaluasi (non-judgmentally).

Melihat segala sesuatu apa adanya. Ora gumunan, kata orang Jawa. Tidak takjub melihat kesuksesan orang lain. Tidak takut menghadapi kesaktian orang lain. Tidak pula meremehkan dan mengerdilkan orang lain. Melihat segala sesuatu secara netral, tanpa penilaian baik buruk, benar salah. Perform ya perform saja, jangan pikirkan apakah tekniknya benar atau salah saat Anda melakukan performance. Kecuali saat Anda berlatih, Anda boleh berpikir benar atau salah. Saat perform, apapun yang terjadi perform saja. Adapun kemudian Anda sukses atau gagal, belajarlah dari sana. Dan percayakan diri Anda untuk mengoreksi tanpa perlu Anda terlalu banyak memikirkannya.
Menyelaraskan outer dan inner game menghasilkan momen yang disebut oleh DR. Abraham Maslow sebagai “Peak Experiences” – “Pengalaman Puncak.” Sebuah pengalaman yang dapat diwakili oleh frasa: spontan dan kreatif, menyatu dengan permainan, effortless, unconscious masteryflow.
Sejatinya, penguasaan inner game adalah tentang melatih kesadaran (awareness). Berpikir dan bertindak lebih sadar. Melihat sesuatu apa adanya. Melakukan sesuatu tanpa beban. Let it go and let it happen. Saat kita mampu menguasai inner game kita, maka kita akan mampu menghasilkan performance di bidang apapun dengan excellent.

Maka, bidang apakah yang akan Anda latih inner game-nya sehingga Anda menjadi master di sana?