Memaknai Sepi

Sering kali apa yang kita perlukan dalam hidup adalah waktu untuk menyepi. Waktu untuk menyendiri. Membebaskan diri dari berbagai hiruk pikuk dunia yang mengotori pikiran dan hati. Berhenti sejenak dari berbagai keinginan dan ambisi. Mengevaluasi diri. Bertanya pada diri sendiri: apa sebenarnya yang aku cari dalam hidup ini?

Kadang kita merasa jenuh dengan hidup yang kita jalani. Merasa muak dengan apa yang kita hadapi. Namun, inilah hidup yang memang dipenuhi oleh onak dan duri. Suka maupun duka tetaplah perlu kita jalani. Pertanyaan yang perlu kita gali: bagaimana kita memaknai apa yang terjadi dalam hidup ini?

Ambisi manusia tidak pernah berhenti. Keinginan manusia memenuhi kantongnya dengan emas tanpa henti. Ketika satu kantong terpenuhi, akankah berhenti? Tidak, kita terus menggali dan mengisi kantong lainnya sampai kita mati. Namun, apakah hidup seperti ini yang kita cari?

Kata orang, sakitnya tubuh mudah terobati, sakitnya hati sampai mati baru terhenti. Akankah kita jalani hidup seperti ini? Membawa dendam sampai mati? Memaafkan memerlukan kelapangan hati, meminta maaf butuh keberanian diri. Tak ada yang lebih baik dari mereka yang memaafkan musuhnya. Tak ada yang lebih berani dari meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan oleh dirinya.

Seribu pemuja tak ada arti, satu sahabat jauh lebih berarti. Satu pesaing membuat kita berlari, satu musuh jangan dibawa mati. Hidup hanya sekali, jangan sia-siakan untuk mencari puja dan puji. Cukuplah langit menjadi saksi agar kita sadari diri.

Hidup bukanlah untuk sekadar hidup, ada kehidupan setelah mati. Ambisi tak akan berhenti, sampai kita mencukupkan diri. Mari sejenak berhenti. Mundur sesekali. Menyepi, menyendiri, memaknai hidup dalam sepi.

  • Abiano Al-Affan

    Mantap coach