Rasa Bahasa

Pagi tadi saya menemukan artikel menarik yang ditulis oleh Andre Moller di salah satu surat kabar. Andre Moller ini orang Swedia, penulis kamus Swedia-Indonesia. Artikel tersebut membahas tentang kata kamu. Menurut KBBI, kata kamu digunakan sebagai sapaan terhadap orang yang diajak bicara atau disapa (kita tentu sudah tahu ini). Definisi di KBBI ini diberi keterangan dalam kurung di belakangnya: dalam ragam akrab atau kasar. Artinya kata kamu digunakan sebagai sapaan akrab atau sapaan kasar, bergantung konteks penggunaannya. Untuk menyapa orang yang belum terlalu akrab dengan kita, kita lebih tepat menggunakan kata Anda. Bisa juga dengan menambahkan kata panggilan yang tepat di depan namanya, misal: mas, mbak, bu, atau pak.

Menariknya, coba perhatikan beragam komunikasi pemasaran yang dilakukan oleh para pengiklan. Mereka menggunakan kata kamu dalam komunikasi pemasarannya tanpa ragu. Misalnya:

“Sahabat XYZ jangan lupa cek terus *929# nya. Siapa tahu ada penawaran menarik buat kamu hari ini.”

“LIBUR Telah Tiba! Jangan sampai Kamu kehabisan Kuota. Beli Booster Data atau Nelpon & SMS ke semua operator di XYZ sekarang dan dapatkan DISKON 15%!

“Akses XYZ kamu segera berakhir. Perpanjang di http://xyz.com sebelum 1 Okt 2017. Hanya dengan Rp.39.000/bln kamu bisa lanjut nonton-maraton di XYZ.”

Bisa jadi, mereka menggunakan kata kamu karena mereka ingin nampak lebih akrab dengan konsumennya. Pertanyaannya, apakah kita bisa akrab dengan seseorang yang belum pernah berinteraksi secara rutin dengannya? Khawatirnya penggunaan kata kamu ini bukan didasarkan pada keakraban namun hanya sok akrab. Bahkan, kalau kita simak keterangan di KBBI, kata kamu tidak hanya menyiratkan sapaan akrab, namun juga sapaan kasar. Nah, pertanyaannya, kata kamu yang digunakan oleh pengiklan ini dipersepsi sebagai akrab, sok akrab, atau malah kasar?

Inilah menariknya sebuah bahasa. Ada rasa di balik bahasa. Kita perlu piawai memilih kata yang tepat supaya rasa bahasanya tepat. Sebuah kata, meskipun merujuk pada hal yang sama, rasa bahasanya bisa jadi jauh berbeda. Misalnya kata gadis, dara, dan perawan. Ketiga kata ini merujuk pada hal yang sama: anak perempuan yang belum menikah. Namun, apakah makna yang tercipta dan rasa yang terpicu sama ketika mendengarnya? Perhatikan tiga contoh kalimat berikut ini:

Café ini dipenuhi oleh gadis-gadis cantik.

Café ini dipenuhi oleh dara-dara cantik.

Café ini dipenuhi oleh perawan-perawan cantik.

Bagaimana? Apakah makna dan rasanya sama? Saya yakin berbeda.

Perhatikan pula kalimat berikut:

Kemarin ada gerombolan motor yang melintas di depan toko kami.

Kemarin ada rombongan motor yang melintas di depan toko kami.

Kemarin ada kelompok motor yang melintas di depan toko kami.

Kata gerombolan, rombongan dan kelompok memiliki arti yang sama: kumpulan manusia. Namun, rasa yang tercipta apakah sama? Saya yakin berbeda.

Inilah rasa bahasa. Maka, pandai-pandailah memilah dan memilih kata agar tercipta rasa yang Anda cita.