Deliberate Practice: Rahasia Latihan Para Ahli

“Kami sepakat bahwa kualitas performa seorang ahli jauh berbeda dengan performa orang lain seumurannya. Namun kami tidak sepakat bahwa perbedaan ini karena bakat bawaan yang diturunkan secara genetik. Sebaliknya, kami berpendapat bahwa keahlian seorang ahli merupakan cermin dari latihan terencana yang ia lakukan di sepanjang periode hidupnya.”

Tulisan di atas adalah terjemahan bebas dari kalimat yang dilontarkan oleh Anders Ericsson. Seorang peneliti yang dari Florida State University. Ericsson menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk meneliti para expert, apa saja yang mereka lakukan untuk menjadi seorang expert.

deliberate-practice-rahasia-latihan-para-ahli
Banyak dari kita yang sudah tahu bahwa kunci untuk menguasai sebuah skil adalah: latihan, latihan, latihan. Practice makes perfect, katanya.

Sayangnya, riset Ericsson membuktikan keyakinan tersebut kurang tepat. Practice not makes perfect, perfect practice that makes perfect. Jadi, untuk menjadi ahli, Anda tidak bisa hanya sekadar melakukan pengulangan. Anda juga perlu memperhatikan cara pengulangannya. Bukan hanya memperhatikan kuantitas latihan, melainkan juga kualitasnya.
Joshua Foer, seorang jurnalis menggambarkan perbedaan cara berlatih antara seorang ahli dengan amatir dengan sangat baik:
“Seorang pemusik amatir, ketika duduk berlatih, mereka memainkan musik yang mereka kuasai dengan baik. Hasilnya, tentu saja bagus. Menyenangkan berlatih dengan cara seperti ini. Namun, pemusik ahli justru memfokuskan latihannya pada bagian musik yang sulit mereka kuasai. Bagian yang mereka belum ahli.”

Jadi, jika kita ingin mencapai expert-level performance (performa level ahli) maka kita pun perlu berlatih dengan pendekatan expert-level practice. Kita perlu berlatih sebagaimana para expert berlatih. Metode latihan ala expert inilah yang dikenal dengan istilah deliberate practice – latihan yang terencana. Deliberate Practice lah yang membedakan antara seorang “pemain” ahli dengan “pemain” rata-rata lainnya.

Apa itu Deliberate Practice?

Deliberate Practice adalah aktivitas latihan yang direncanakan secara berhati-hati untuk meningkatkan performance dan mencapai tujuan spesifik tertentu.

Dalam buku The Role of Deliberate Practice in the Acquisition of Expert Performance, Anders Ericsson mengenalkan empat elemen Deliberate Practice.

Pertama, Motivasi. Anda perlu memiliki motivasi yang cukup untuk melakukan deliberate practice.

Tanpa motivasi yang cukup, Anda akan bosan dan kehabisan energi untuk berlatih di tengah jalan. Salah satu cara untuk memunculkan motivasi adalah menemukan STRONG WHY, kenapa Anda harus menguasai keahlian ini?

Kedua, sasaran dan rencana latihan yang jelas.

Apa target dari latihan Anda? Tanpa target dan rencana yang jelas Anda tidak akan mencapai apa-apa. Kobe Bryant, pemain basket NBA, misalnya. Dia memiliki satu target utama dalam latihannya: mampu melakukan lemparan three-point dari area manapun. Rencana latihannya sederhana: melakukan 1300 lemparan three-point setiap harinya.

Ketiga, umpan balik segera.

Anda perlu mendapat informasi tentang performa Anda secepatnya. Sehingga Anda mengetahui apa yang perlu diperbaiki dari performa Anda. Misal, ketika Kobe Bryant melakukan latihan di atas, setiap kali dia meleset dari sasaran, dia dapat segera mengecek posisi tubuh, posisi tangan, apa yang dia pikirkan dan apa yang dia rasakan. Sehingga dia dapat segera mengkoreksinya di tembakan berikutnya.

Keempat, pengulangan.

1300 lemparan setiap hari, kebayang kan? Perlu diingat, bukan sekadar mengulangi namun pengulangan dengan perbaikan. Fokus pada hal yang perlu Anda perbaiki supaya performa Anda semakin baik. Bukan sebaliknya, mengulang-ulang hal yang sudah Anda mampu lakukan secara otomatis.

Masih menurut Ericsson, para ahli juga memiliki kemiripan dalam melakukan rutinitas latihan:

  • Mereka berlatih tanpa beristirahat kurang lebih selama satu jam.
  • Mereka berlatih di pagi hari dengan pikiran yang segar.
  • Mereka berlatih dalam jumlah yang sama setiap hari, termasuk di akhir pekan.
  • Mereka berlatih 4-5 kali sehari, masing-masing sekitar satu jam.
  • Bila mereka tidak cukup beristirahat, mereka dapat cedera dan mengalami kelelahan.

Yap, Deliberate Practice berbeda dengan latihan biasa, apalagi sekadar mengulang-ulang. Ia membutuhkan komitmen, fokus, usaha, tanpa reward segera, dan seringkali tidak menyenangkan. Ketika Anda memutuskan untuk melakukan Deliberate Practice, Anda hanya memiliki satu tujuan: meningkatkan performance Anda.

Jadi, setelah mengetahui kebenarannya, masihkah Anda berminat untuk menjadi seorang expert di bidang Anda?